2 Tahun Prabowo-Gibran, Elemen Mahasiswa Gelar Mimbar Bebas Di Tugu Prokramasi
Jakarta, 20 Oktober 2026
Hari ini Selasa (20/10/2026) elemen mahasiswa yang tergabung dalam Komite Forum Serukan Kedaulatan Rakyat (SaDar) mengelar aksi mimbar bebas di Tugu Proklamasi.
Berdasarkan pantauan redaksi persuasi-news.com aksi tersebut dimulai sekira jam 11:12 wib.
Pada 20 Oktober 2024, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia mengucapkan sumpah jabatan dengan dukungan suara yang besar dan janji yang sama besarnya. Lapangan kerja bagi jutaan orang, pangan dan energi yang berdaulat, serta kesejahteraan yang dijanjikan hingga ke pelosok negeri menjadi harapan yang dititipkan rakyat kepada pemerintah. Namun, dua tahun berselang, janji-janji itu dikatakan sebagaimana mestinya, Gagal Total.
Wahai Penguasa, dengarlah maklumat nasional dari kami para pemuda!, kata Koordinator Sosial dan Politik BEM UI Hafidz Hernanda
Setelah itu,Satu per satu perwakilan BEM yang tergabung dalam Forum Komite SaDar membacakan maklumat secara bergantian, berikut isi maklumat tersebut.
Isi Maklumat Nasional.
Aku adalah bagian dari penderitaan rakyat yang menyaksikan langit mengabu, udara tak layak dihirup, dan 10 juta rakyat menanggung pilu karena hutan direnggut demi nafsu. Hampir 2 juta hektare kehidupan dilalap api,menyisakan tanah yang mati dan masa depan yang tak pasti. Aku menyaksikan pepohonan tumbang, habitat menghilang, dan satwa terusir dari rumah yang kini tinggal arang. Ada yang mati dalam kepungan api, ada yang selamat hanya untuk kehilangan tempat kembali. Lalu, kita berlindung di balik kata bencana alam, seolah hutan terbakar tanpa sebab dan kehancuran tak pernah lahir dari keserakahan.
Oh, betapa megahnya pertumbuhan yang dibangun di atas kehilangan! Betapa gemilangnya keuntungan yang dibayar dengan 10 juta kehidupan!.
Oleh karena itu, pagi ini kuserukan sumpah serapahku atas Kerusakan Lingkungan kepada Tuhan Bernama Kapital! ‘Kan ku gaungkan suara sampai kalian menetapkan karhutla sebagai bencana nasional, ‘kan kuserukan api amarah hingga korporasi diadili, ekosistem dipulihkan dan rakyat mendapatkan keadilan! Sebab, api yang padam bukan berarti keadilan telah yang berarti kerusakan telah menang, hutan dipertanggungjawabkan.
Ekonomi
Di gedung-gedung pencakar langit ibukota, para eksekutif duduk di ruangan berpendingin ditemani secangkir kopi yang disuguhkan pramusaji. Sedangkan, di balik gagahnya gedung tersebut, terdapat pedagang kaki lima yang perlu berkeliling kota demi sepiring nasi. Seorang pejabat merayakan ulang tahunnya dengan menghabiskan ratusan juta di hotel mewah Paris. Sedangkan, kelas menengah yang terus terjepit perlu hati-hati dalam membelanjakan uangnya untuk kebutuhan pokok.
Kesenjangan terlihat nyata ketika harta 50 orang terkaya di negeri ini setara dengan kekayaan 55 juta rakyat Indonesia. Butuh ratusan tahun bagi warga biasa harus bekerja setiap hari untuk menyamai kekayaan para oligarki, Jika terus begini, kesejahteraan sosial yang digaung-gaungkan hanya omon-omon belaka. Maka, benahilah tata kelola kebijakan ekonomi untuk memberantas ketimpangan sosial!
Ham dan Demokrasi..
Aku menyaksikan tubuh-tubuh yang dilukai, suara-suara yang dicurigai, dan keberanian yang harus dibayar dengan harga yang tak terperi. Andrie Yunus disiram air keras, seolah tubuh seseorang boleh dijadikan sasaran ketika keberaniannya mengusik kekuasaan. Jurnalis diteror karena merawat kebenaran, sementara rakyat yang turun ke jalan harus berhadapan dengan kekerasan. Seragam gagah hasil jerih payah kami kian hadir di ruang keseharian, sementara kami, masyarakat sipil, perlahan kehilangan keleluasaan. Ada nyawa yang hilang, ada keberanian yang dibungkam, dan ada keadilan yang terus ditagih tetapi belum sepenuhnya datang.
Aku muak! Aku muak menyaksikan demokrasi dirayakan dalam pidato, sementara kebebasan rakyat perlahan kehilangan ruang. Apa arti kemerdekaan jika bersuara mendatangkan ancaman? Apa arti keamanan jika rakyat justru hidup dalam ketakutan?
Dengan ini, aku tegaskan perlawananku terhadap segala rupa pembungkaman, pengekangan, dan militerisasi yang merampas ruang hidup rakyat. Tak akan kubiarkan demokrasi tinggal nama, kebebasan sekadar kata, dan hak asasi menjadi janji tanpa makna. Sebab rakyat bukan musuh yang harus ditundukkan, kritik bukan ancaman yang harus dilumpuhkan, dan kebebasan bukan hadiah yang boleh dicabut oleh kekuasaan.
Hukum dan Tata Kelola.
Belasan tahun sudah kami mengenyam bangku sekolah, kegiatan apa pun kami jalani untuk mengisi CV, puluhan kilo kutempuh untuk mengundi nasib, berlari, berdesak-desak. terus berdiri, hingga berdiam diri karena harapan tak kunjung datang. Sedangkan mereka, tak
perlu capek-capek bersekolah, tak perlu ijazah, tinggal merengek kepada papah, maka apa pun akan diberikan. Tak punya kenalan pun tak jadi masalah. Di negeri ini, asal ada fulus. segala urusan akan mulus. Penegak hukum yang bicara keadilan tidak tahan apabila ditawarkan emas depan mata. Politisi yang manis berjanii ini itu pada akhirnya hanya mengenyangkan perutnya sendiri. Mereka semangat menjelaskan betapa kayanya alam Indonesia yang hasilnya hanya dinikmati segelintir pihak. Sedangkan rakyat, yang setiap hari mau tidak mau menyisihkan penghasilannya untuk pajak, hanya mendapatkan sekantong sembako atas nama penguasa.
Maka di sini kami tegaskan, cukup sudah, kami muak! Berantas segala bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menghambat kemajuan negeri ini!
Pendidikan.
Masih pantaskah aku mengatakan bahwa pendidikan kita telah mapan ketika ada seorang anak yang mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis. Masih pantaskah aku mengatakan bahwa pendidikan telah berkeadilan ketika teman-temanku di Papua, Maluku, dan pelosok negeri lainnya harus menempuh perjalanan berkilo-kilometer demi menimba ilmu. Masih pantaskah aku mengatakan bahwa pendidikan telah mensejahterakan rakyat ketika sekolah-sekolah di Aceh, Kota Padang, Lampung, dan daerah lainnya hancur diluluhlantakkan bencana, yang mengakibatkan akses untuk memperoleh pendidikan yang layak turut terganggu. Bahkan, di sekitar kita, banyak sekali saudara dan tetangga yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah bukan karena kehilangan cita-cita, melainkan karena kehidupan memaksa mereka untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Rasanya, semua itu hanyalah kemunafikan ketika aku terus mengatakan bahwa semuanya sejahtera dan baik-baik saja, sementara masih banyak saudara-saudaraku yang harus merintih kesakitan demi memperoleh itu semua. Apakah ini wajah asli negeri ini? Negeri yang menelantarkan pendidikan dengan membiarkan masyarakat miskin kesulitan memperoleh akses dan kesempatanya. Negeri yang justru membangun tembok penghalang bagi rakyat kecil untuk keluar dari rantai kemiskinan yang terus menggerogotinya.
Lantas, apakah aku harus terus diam melihat semua penderitaan yang dirasakan saudara sebangsaku ini? Jawabku, TIDAK!
Maka pada hari ini, kami menegaskan kepada seluruh rakyat Indonesia! Dengarkanlah pesan ini, pesan dari generasi yang akan paling merasakan borok luka hasil kebijakan rezim saat ini.
Sadarlah Indonesia! Serukan Daulat Rakyat.
Jakarta, 20 Oktober 2026 Komite Forum Serukan Kedaulatan Rakyat (SaDar)
Setelah selesai membacakan maklumat, mimbar bebas tetap digelar dengan memberikan sejumlah perwakilan mahasiswa menyampaikan orasi.
Hafidz mengatakan, mimbar bebas yang digelar di Tugu Proklamasi merupakan rangkaian pembuka untuk aksi unjuk rasa yang dijadwalkan berlangsung hari ini di Tugu Tani.
Untuk massanya sendiri bisa dibilang sekitar 500 sampai 700 orang. Kami sendiri sudah melakukan konsolidasi kemarin dan sudah ada beberapa unsur-unsur masyarakat sipil dan sudah beberapa mahasiswa yang memang sudah mengonfirmasi, jelas Hafidz.
Dirinya melanjutkan,Untuk aksi di Tugu Tani, dijadwalkan pukul 15:00 WIB dan massanya akan langsung berkumpul di titik aksi pada jam yang sudah ditentukan
Untuk massanya sendiri itu akan langsung ke Tugu Tani. Seperti massa aksi biasanya, tapi kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali bersama dengan teman-teman mahasiswa agar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil, tuturnya.
Qksi unjuk rasa merespons dua tahun Prabowo-Gibran terbuka untuk umum dan pihaknya mengundang siapa saja masyarakat sipil untuk hadir, tambahnya.
Betul. Karena kami rasa dalam 2 tahun Prabowo-Gibran ini, tentu kita harus turun sebagai rakyat. Karena pada sejatinya, kitalah yang seharusnya bisa bersuara lebih gitu loh,pungkasnya.




