Opini

Rizal Ramli Dan Ecoterrosism

Oleh : Syafril Sjofyan (Pemerhati kebijakan publik, aktivis pergerakan 77-78)

Bandung, 2 Januari 2025

Terjadinya bencana ekologis Pulau Sumatera berupa banjir, tanah longsor beserta tumpahan jutaan gelondongan kayu di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akibat pengundulan hutan. Sebagai akibatnya jumlah korban per 31 Desember 2025. Korban meninggal 1.154 orang, korban hilang sekitar 165 orang masih dalam proses pencarian. Pengungsi lebih dari 378.000 jiwa masih berada di posko pengungsian.

Betapa luar biasanya daya rusak akibat keserakahan terutama ulah para pengusaha dan pemberi ijin, disamping rakyat kehilangan nyawa, belum terhitung infrastruktur yang hancur, jalan, jembatan, sekolah, kantor-kantor, jaringan listrik dan betapa banyaknya yang kehilangan mata pencarian, kehilangan rumah, kehilangan lahan sawah, perkebunan dsbnya dalam

Kehancuran lingkungan Sumatera begitu dahsyat, penulis teringat kepada almarhum Rizal Ramli yang meninggal 2 Januari 2024, hari ini genap 2 tahun beliau menghadap sang chalik. Ditahun 1990 saat isu lingkungan masih bersifat elitism Rizal Ramli sudah menulis panjang dan mendalam soal etika lingkungan dan politik lingkungan di majalah Tempo.

Menurut Rocky Gerung (RG) sebagai salah satu sahabat Rizal Ramli. Menulis dalam buku “Mengenang Rizal Ramli” (RR) yang diterbitkan oleh Paramadina Graduate School of Islamic Studies (PGSI) dan Yayasan Inisiatif RR. Bahwa tulisan Rizal Ramli tersebut mengindikasikan kemampuan RR melihat problem yang ada di balik green politics. Kritik Rizal Ramli terhadap pengelolaan sumber daya alam betul-betul sangat metodologis sekaligus filosofis.

Rizal Ramli pertama kali memperkenalkan istilah Ecoterrorism kepada RG. Untuk melindungi lingkungan dengan cara jera mereka yang memotong pohon, merupakan ide yang radikal dalam upaya menyelamatkan lingkungan. Kemudian Rocky ikut memperkenalkan istilah tersebut kepada publik.

Menurut Rocky Gerung, ide awal tentang ekonomi yang berkelanjutan justru dimulai oleh Rizal Ramli, yang mampu melihat kedalaman melalui deep ecology. RR melihat bukan sekadar ekonomi, tetapi juga ecology. Sangat jarang orang yang memiliki kemampuan makro ekonomi mau berbicara tentang etika lingkungan.

Istilah “Pengpeng” kolaborasi Penguasa dan Pengusaha dari Rizal Ramli merupakan upaya untuk mengingatkan kita akan bahaya kekuasaan yang ditempel secara ketat oleh pengusaha. Presiden Prabowo yang juga mengaku bahwa Rizal Ramli sebagai sahabatnya. Sayangnya sahabat tersebut sudah tiada untuk mengingatkannya.

Sekarang Prabowo malah “melupakan” istilah Pengpeng dan meneruskan kebijakan Jokowi yang lengket dengan oligarki. Sebagai fakta Prabowo tidak tuntas menindak Aguan pengusaha yang merusak ekologi Banten melalui PIK 2. Presiden Prabowo “pasang badan” terhadap para pengusaha besar sawit di Sumatera, menguasai dari hulu kehilir, oligarki ekonomi sebagian dikenal kelompok Naga 9.

Narasi bahwa kelapa sawit adalah “pohon keras penjaga lingkungan” adalah manipulasi ekologis yang berbahaya. Sawit memang pohon, tetapi bukan hutan, dan tidak pernah bisa menggantikan fungsi ekologis hutan alam. Menyamakan kebun sawit dengan hutan adalah penyesatan publik yang disengaja sebuah upaya mencuci dosa deforestasi dengan istilah teknokratis.

Kembali kepada bencana ekologis Sumatera, aktor dan kebijakan yang paling bersalah atas banjir dan longsor Sumatera adalah Pemerintah Pusat, pembuat kebijakan ekstraktif tentunya aktornya adalah Presiden Prabowo dan Kementerian teknis. Ini bukan tuduhan kosong, tapi peta tanggung jawab kekuasaan. Jika diurut termasuk mantan Presiden sebelumnya Jokowi sebagai aktor utamanya, yang harus diminta pertanggungjawabannya.

Politik ekonomi ekstraktif (tambang, sawit, HTI) yang tetap dipaksakan di wilayah rawan bencana, UU Cipta Kerja & turunannya yang melonggarkan izin lingkungan, melemahkan AMDAL, mempermudah eksploitasi hutan dan DAS. Negara tahu bahwa Sumatera khususnya Aceh rawan ekologis, tapi tetap menjadikannya ladang investasi (ekonomi semata). Keselamatan rakyat dikalahkan oleh pertumbuhan semu.

Tampaknya negeri ini harus kembali pada cara-cara Rizal Ramli yakni menuntun negeri ini dengan cita-cita kedaulatan rakyat, dimana pemerintah harus mampu menumbuhkan harapan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak boleh merusak lingkungan. Pertumbuhan ekonomi yang masuk akal justru harus didalilkan untuk mendistribusikan keadilan, bukan mengakumulasi kekayaan untuk segelintir kelompok tertentu.

Al fatihah untuk Rizal Ramli, semoga negeri ini terselamatkan.

Tulisan ini kenangan persis 2 tahun wafatnya RR pada tanggal 2 Jan 2024

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button