Ahmad Khozinudin : “Manuver Jokowi Memecah-Belah Perjuangan Membokar Kasus Ijazah Palsu”
Jakarta, 11 Januari 2026
Dua strategi kubu Jokowi yang mudah dibaca: 1. Ekstensifikasi kasus dan 2. Politik Devide At Impera (pecah belah), hal tersebut disampaikan oleh Ahmad Khozinudin, S.H selaku Koordinator Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis .
Politik ekstensifikasi kasus, dengan modus menghembuskan isu ada orang besar dibalik Roy Suryo dkk. Targetnya, agar kasus hukum soal ijazah palsu bergeser ke isu politik yang bertujuan mendowngrade posisi Jokowi sekaligus dengan motif agar posisi Gibran Rakabuming dapat digantikan, kata Ahmad Khozinudin melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi persuasi-news.com pada hari ini Ahad (11/1/2026).
Hal itu, dimulai dengan tuduhan orang besar Jokowi yang diamplifikasi Buzzer-Buzzer Jokowi. Ujungnya, laporan Partai Demokrat karena SBY dikaitkan isu Ijazah palsu. Area pertarungan meluas, bukan lagi fokus masalah ijazah palsu melainkan masalah politik orang besar, ungkap Ahmad Khozinudin.
Dirinya melanjutkan, Kubu Jokowi berusaha membangun kausalitas isu ijasah palsu, dikaitkan dengan kedudukan Roy Suryo yang pernah menjadi kader Partai Demokrat dan eks Menpora era SBY, sekaligus tuntutan pemakzulan Gibran yang digulirkan seolah dengan motif akan digantikan oleh Agus Harimurti Yudhoyono/AHY (Ketum Partai Demokrat).
Sementara strategi pecah belah, politik Devide at Impera, politik Stick n Carrot dilakukan Jokowi dengan memanfaatkan kelemahan Eggi Sudjana (ES) dan Damai Hari Lubis (DHL),ujarnya.
Belum lama ini, ES dan DHL dikabarkan sowan ke Jokowi di Solo. Setelah itu, kubu Jokowi mengamplifikasi opini telah ada damai antara ES & DHL vs Jokowi.
Menurutnya, tentu saja, kabar ini bertujuan memecah belah ES & DHL dengan tim Roy Suryo dkk. Meskipun, peran ES dan DHL dalam kasus ijazah palsu tak signifikan. Karena sejak ditetapkan sebagai terlapor dan naik menjadi tersangka, keduanya tak berani lagi mengulik-ulik ijazah Jokowi.
Namun, targetnya bukan ES dan DHL. Bagi Jokowi, keduanya terlalu kecil. Dalam kasus ijazah palsu, bobot perlawanan juga bukan pada sosok ES & DHL. Melainkan, ada pada Roy Suryo dkk yang sudah menyatu dengan aspirasi dan dukungan rakyat yang ingin agar kasus ini dituntaskan, ungkap pria yang biasa disapa AK tersebut.
Namun, langkah Jokowi ‘mempecundangi’ ES dan DHL bukan untuk target keduanya. Keduanya terlalu kecil dan terlalu mudah untuk ditundukan. Targetnya adalah membangun opini pecah belah perjuangan kasus ijazah palsu. Pengakuan ijazah asli dan damai dari ES & DHL, diamplifikasi seolah olah ijazah itu asli. Case Closed, tegas AK.
Padahal, jangankan pengakuan ES & DHL, pengakuan UGM hingga penyidik Polda Metro yang menyatakan ijazah Jokowi asli secara hukum sebenarnya tidak bernilai. Karena dalam kasus ini, pernyataan yang bernilai hukum hanyalah pernyataan dari putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkrach Van gewisjde),pungkasnya.
Sedangkan kasus ini, baru tahap penyidikan. Belum sampai persidangan apalagi putusan. Proses menunjukan ijazah saat Gelar Perkara Khusus, hanya membuktikan dokumen tersebut telah disita penyidik. Bukan berada ditangan Jokowi lalu ditunjukkan kepada Relawan Projo, sebagaimana klaim Budi Ari Setiaji,katanya lagi.
Belakangan, ES membantah telah meminta maaf kepada Jokowi. Akan tetapi ES tidak membantah telah menemui Jokowi ke Solo. Secara smiotik (bahasa simbolis) bantahan ES tidak bernilai karena kedatangan ES ke Solo menemui Jokowi telah ditafsirkan secara luas sebagai bentuk ketakutan, dan ada motif pengkhianatan. Dalam konteks inilah, Jokowi telah berhasil mempecundangi ES dan DHL, sementara harapan ES dan DHL bisa lepas dari proses hukum karena telah meminta maaf, bisa jadi hanya angin surga yang tak akan ada kenyataannya, tutur Ahmad.
Sebagaimana ditegaskan oleh Jokowi, soal maaf urusan personal. Urusan hukum, tetap jalan. Grace Natalie usai pertemuan juga menegaskan hal serupa. Hanya saja, Jokowi tak dapat memecah belah perjuangan. Target pecah belah hanya berhenti di ES dan DHL. Karena Roy Suryo dkk, tetap komit dalam perjuangan,tegasnya lagi.
Bahkan, dukungan rakyat makin meluas. Manuver yang dilakukan Jokowi, makin mengkonfirmasi ijazah bermasalah sehingga takut diproses melalui pengadilan. Seluruh manuver damai yang ditempuh kubu Jokowi, dari proposal mediasi yang diajukan Faisal Asegaf kepada Jimly Assyidiqy memanfaatkan eksistensi Tim Reformasi Polri hingga kunjungan ES dan DHL ke Solo targetnya cuma satu: agar kasus dapat dihentikan. Agar tidak perlu ada persidangan. Agar dengan perdamaian, ijazah Jokowi seolah-olah telah dibuktikan asli, tutup dia.




