Ide Gabung ke Gibran untuk Kudeta Prabowo: Alarm Keras Buat Presiden
Oleh Edy Mulyadi ( Wartawan Senior )
Jakarta, 25 Februari 2026
“Sudah ada selentingan dari orang-orang yang tidak percaya lagi Prabowo menyatakan, bagaimana kalau kita pakai taktik aja dulu. Kita pura-pura bergabung sama geng Solo, Oligarki, Parcok. Setelah itu kita kudeta lagi. Saya bilang, wuh… ngeri.“
Paragraf di atas adalah kutipan wawancara Said Didu dengan Forum Keadilan TV. Ini 24 detik pertama dari 47 menit lebih wawancara yang dipandu Indra Piliang. Isinya bikin merinding. Mengerikan!
Ini bukan gosip warung kopi. Ini bukan ocehan buzzer. Tapi obrolan di level elite. Apalagi Si Manusia Merdeka itu juga menambahkan, beberapa hari terakhir dia banyak berkeliling. Bertemu dengan sejumlah tokoh dan kalangan. Terbaru, dia menyambangi Sofjan Wanandi. Nama terakhir ini punya rekam jejak panjang sejak zaman Orde Baru. Bukan cuma di dunia bisnis, tapi juga pergerakan.
Atas ide menjatuhkan Prabowo dengan cara (pura-pura) bergabung bersama Solo, Oligarki, Parcok alias SOP, adalah ide mengerikan. Satu kalkulasi sembrono sekaligus berbahaya. Bukan cuma buat Prabowo. Tapi bahaya bagi negeri ini. Bagi rakyat yang selalu jadi korban pertama dan utama. Itulah sebabnya Said Didu bilang, “ngeri!”
Habisnya stok kepercayaan
Ide menggulingkan Prabowo dengan pura-pura gabung ke Gibran lalu setelah itu mengkudeta Gibran adalah ide gila. Artinya tingkat keputusasaan sebagian kalangan sudah sampai pada titik berbahaya. Sudah muncul ide nekat. Ide manuver dua lapis. Ide masuk dulu, gulingkan dulu, lalu gulingkan lagi.
Ini bukan strategi atau taktik politik biasa. Ini gejala hilangnya kepercayaan. Bayangkan, kepercayaan elite saja mulai runtuh. Apalagi kepercayaan rakyat kecil yang tiap hari dihantam harga naik, pajak naik, dan beragam janji yang tak kunjung diwujudkan jadi kenyataan.
Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya konspirasi. Masalahnya adalah kenapa ide nekat seperti itu bisa lahir? Jawabannya sederhana: frustrasi. Said Didu sendiri mengatakan, dia percaya 1.000% niat Prabowo. Tapi frustrasi pada caranya.
Sampai beberapa waktu lalu, jargon yang berkembang di kalangan para aktivis adalah adili Jokowi dan makzulkan Gibran. Mereka masih percaya dan berharap pada Prabowo. Kita fokus bantu Prabowo mengembalikan Indonesia sebagai negara berdaulat. Begitu keyakinan para aktivis. Yang senior maupun pemula.
Tapi dalam beberapa hari belakangan, stok percaya tadi sudah (nyaris) terkuras habis. Ini disebabkan publik melihat jurang yang kian lama kian menganga antara pidato dan eksekusi. Janji bereskan oligarki. Janji tegakkan kedaulatan. Janji bersama dan membela rakyat. Semuanya berhenti di tingkat omon-omon.
Publik justru melihat dari satu kompromi ke kompromi berikutnya. Melihat kebijakan yang dianggap terlalu ramah pada kekuatan lama. Rakyat menilai presidennya tetap di bawah bayang-bayang dan kendali Jokowi. Presidennya dianggap takut kepada Kapolri. Melihat janji sikat koruptor dan oligarki yang tidak kunjung menjelma tindakan tegas.
Seperti tifak cukup, rakyat juga disuguhi fakta, Presiden berkali-kali melakukan blunder yang melawan akal waras rakyat. Bergabung dalam BoP Trump yang di dalamnya ada penjajah dan pelaku genosida di Palestina. Menandatangani perjanjian dagang yang seperti menyerahkan kedaultan negara kepada Amerika. Menganugrahi bintang utama kepada Kepala BGN. Tidak kunjung mencopot Kapolri Listyo Sigit, malah berencana memberi Bintang Mahaputra, dan masih banyak lainnya.
Di situlah kepercayaan makin terkikis. Dan ketika kepercayaan terkikis, muncul pikiran-pikiran ekstrem. Ide-ide nekat dan berbahaya.
Ide gila, tapi jangan dibungkam
Gagasan menggulingkan Prabowo lewat manuver seperti itu sungguh sangat berbahaya. Itu bisa jadi bumerang. Bisa memicu instabilitas nasional.
Tapi menolak idenya saja tidak cukup. Presiden harus membaca pesan di baliknya. Ini alarm. Keras. Alarm bahwa semakin banyak kalangan sudah merasa tidak punya saluran lagi. Sudah merasa petisi, pernyataan sikap bahkan demo dan aksi tidak lagi cukup. Presiden dianggap asyik dan sibuk dengan imajinasinya sendiri. Saran dan masukan bukan cuma diabaikan, tapi disikapi sebagai ancaman.
Kalau situasi ini dibiarkan, maka ide yang hari ini masih sebatas obrolan tertutup bisa berubah menjadi gerakan. Jika itu terjadi, yang rugi bukan hanya Presiden. Yang rugi bangsa ini.
Pak Presiden, legitimasi tidak dijaga dengan bolak-balik perjalanan ke luar negeri. Tidak dibangun dengan laporan asal bapak senang (ABS) dari para pembantu. Bukan juga berasal dari informasi yang disaring para pembisik sesuai kepentingan mereka dan majikannya.
Kepercayaan itu seperti gelas retak. Memang masih bisa dipakai. Tapi kalau terus diketuk, ia pecah. Dan ketika pecah, bukan cuma elite yang gaduh. Rakyat bisa ikut bergolak.
Ide nekat yang dibocorkan Said Didu itu harus dibaca sebagai peringatan dini. Bukan untuk dibungkam. Tapi untuk direnungkan. Dicegah dengan cara bertindak yang tepat dan cepat. Berpihaklah pada rakyat.
Masih ada waktu memperbaiki. Tapi waktunya tidak banyak. Presiden Prabowo kini berada di persimpangan sejarah. Dia harus memilih, meneguhkan kepemimpinan dengan keberanian. Atau membiarkan legitimasi habis tergerus. Karena politik selalu punya satu hukum: Ketika harapan mati, keberanian nekat lahir. Dan itu yang hari ini makin nyata terlihat.



