Kasus BES dan DHL: Pejuang atau Pecundang ?
Jakarta,11 Januari 2026
Pasca “mak bedunduk”-nya (istilah yang sempat dipopulerkan oleh Alm. Asmuni, salah seorang anggota group lawak legendaris Srimulat, yang artinya “sekonyong-konyong atau sangat tiba-tiba”) kedatangan dua senior TPUA (Tim Pembela Ulama & Aktivis) BES / Bang Eggy Sudjana dan DHL / Damai Hari Lubis ke rumah JkW di Solo Kamis 08/01/2026, sontak membuat jagat berita Indonesia menjadi heboh dan memunculkan berbagai kontroversi. Semua dibawah ini menjadi penting untuk melihat apakah mereka masih tetap selaku Pejuang atau sudah menjadi Pecundang?, kata Dr. KRMT Roy Suryo, M.Kes ,sebagamana keterangan tertulis yang diterima redakasi persuasi-news.com pada hari ini Ahad (11/1/2026).
Bagaimana tidak? Pertemuan yang -katanya- disebut-sebut merupakan hasil “kesepakatan internal (?)” TPUA tersebut ternyata jelas-jelas secara tegas dibantah keras oleh para pengurus intinya sendiri. Hal ini setidaknya dikatakan oleh 3 (tiga) pengurus teras TPUA tersebut dalam berbagai forum perbincangan populer di sosial media, yakni RF / Rizal Fadillah (Wakil Ketua Umum), AK / Azam Khan (Sekretaris Umum) dan KTR / Kurnia Tri Royani (Bendahara Umum). Salahsatunya termuat dalam tayangan YouTube Bang Edy Channel www.youtube.com/live/7Y9M-ztUyTc ,ungkap Pemerhati Telematika, Multimedia, AI dan OCB Independen tersebut.
Dirinya melanjutkan, Oleh sebab itu karena sudah jelas itu bukan Agenda resmi TPUA yang setidaknya diketahui secara terbuka oleh para pengurus intinya diatas apalagi oleh Anggota lainnya, terus atas inisiatif (atau malah bisa juga “atas desakan / permintaan) “siapa” pertemuan yang semula mau dibuat “silent” tersebut malah bocor kemana-mana karena justru disampaikan secara terbuka ke wartawan-wartawan oleh Ajudan JkW sendiri, KomPol Syarief Muhammad Fitriansyah? Bagaimanapun misteri sempat dibuat “steril”-nya kawasan Jl. Kutai Utara 1 Sumber saat itu, tetap jadi tanda tanya besar.
Jadi karena bisa disebut tidak transparannya rencana “pisowanan ageng” (Istilah Jawa, yang artinya kunjungan “menghadap” yang penting) minggu lalu itu, minimal para pengurus intinya saja tidak ada yang tahu apalagi pihak luar, maka sangat wajar bilamana di masyarakat tercium “bau amis” alias muncul berbagai dugaan tidak sedap dan populer istilah AADP (= Ada Apa Dengan Pertemuan) tersebut? Menyitir judul film AADC / “Ada Apa Dengan Cinta” antara tokoh Rangga dan Cinta yang sangat terkenal sebelumnya, tegas Roy Suryo.
Tak pelak lagi, istilah liar semacam “cair … cair”, “bergepok-gepok” hingga “berkopor-kopor” bahkan sampai ada yang mendengar issue jumlah tertentu, sebut saja “100 M (baca: Seratus Milyar)” menjadi istilah yang sempat muncul di ruang publik akibat ketidaktransparan modus dibalik pertemuan tersebut. Oleh karenanya untuk menghindari ghibah dan fitnah, kita tetap sebaiknya tabayyun alias melakukan konfirmasi terlebih dahulu, sebagaimana Khutbah saya saat Sholat Subuh berjamaah di Masjid Jami’ An Nuur Menteng Atas kemarin (Sabtu, 10/01/2026) sebagaimana tayangan YouTube youtu.be/p1oargxaDlI .
Ceramah yang diawali Surat Al Hujurat (49): 6 “Yā ayyuhalladzīna āmanū in jāakum fāsiqum binabain fatabayyanū an tuṣībū qaumam bijahālatin fa-tuṣbiḥū ‘alā mā fa‘altum nādimīn” yang intinya mengedepankan Tabayyun untuk BES dan DHL serta diakhiri Surat Al-Fil (105): 1-6 “Alam tara kaifa fa‘ala rabbuka bi-aṣ-ḥābil-fīl, Alam yaj‘al kaidahum fī taḍlīl. Wa arsala ‘alaihim ṭairan abābīl., Tarmīhim bi-ḥijāratin min sijjīl, Fa ja‘alahum ka‘aṣfin ma’kūl” disertai dengan pertunjukan (khas saya) Wayang Kulit “Petruk Kantong Bolong dan Gajah” dengan background cerita Abrahah (571 M) berdurasi 41-menit 24-detik kemarin menegaskan bahwa misteri Pertemuan Solo harus dibongkar agar tidak ada lagi istilah “dusta diantara mereka” ,ujar dia.
Dirinya menambahkan, Apalagi sampai-sampai Manusia Merdeka Said Didu menuliskan adanya istilah “Kanebo” untuk Cendekiawan (Menjadi penampung dan pembersihan kotoran penguasa, Keras saat lagi kering, namun Lembek saat ada yang bikin “basah” alias “cair”) dan istilah “Kecoa Buntung” untuk Aktivis (Hidup dan cari makan di tempat kotor, Tidak pernah membersihkan tempat kotor tersebut, Menyerah saat “disiram” air dengan menjadi telentang, dan Saat disiram akan melepaskan kaki jadi Kecoa Buntung dan minta dikasihani), sebuah sindiran Sarkartis untuk Cendekiawan dan Aktivis yang dengan mudah bisa “dibeli” dan mengorbankan (baca: melacurkan) idealismenya demi nilai tertentu.
Namun demikian adanya “bocoran” dari BES kepada Host SentanaTV Mikhael Benyamin Sinaga (MBS) sebagaimana sudah ditayangkan melalui YouTube youtu.be/UdKx-oCNzgw dan didalamnya (katanya) memuat penegasan BES bahwa saat pertemuan tersebut Tidak ada Pernyataan Permohonan Maaf (?) serta ada 2 (dua) Petugas Polisi dari Polda Metro Jaya yang ikut mengantarkannya (padahal keduanya sedang aktif menangani perkara dimaksud) adalah merupakan pertanyaan besar lainnya yang harus dijawab karena beredar bau-bau amis sebelumnya diatas karena sangat menentukan mereka berdua sebenarnya masih Pejuang atau sudah jadi Pecundang ?, papar dia.
Lucunya malah ada “ancaman lucu-lucuan” (?) dari DHL yang maksudnya ditujukan ke saya melalui Aplikasi WA / WhatsApp, namun malah dikirimkan ke Wartawan Senior FNN / Forum News Network Hersubeno Arif (HN) sebagaimana dimuat dalam YouTube youtu.be/Ao8cGJqVBx8 . Semua terjadi karena ketidak adanya Tabayyun dari BES dan DHL pasca menghadapnya mereka ke Solo meski (katanya juga) akan “menasehati” JkW sebagaimana disampaikan oleh MBS saat menelpon BES dalam PodCastnya dan diberitakan kembali oleh Warta Kota ini wartakota.tribunnews.com/nasional/879060/mikhael-sinaga-ungkap-fakta-eggi-sudjana-bertemu-jokowi-bukan-minta-maaf-tapi-justru-menasihati , ungkapnya lagi.
Kesimpulannya, “Tidak ada asap tanpa ada api”, demikian juga Tidak akan ada bau amis bilamana tidak ada sumber yang berpotensi mengeluarkan bau tidak sedap tersebut. Jadi sebaiknya memang sesegera mungkin BES dan DHL membuat klarifikasi terbuka sejelas-jelasnya kepada seluruh masyarakat Indonesia tentang Apa dan Bagaimana yang terjadi di Solo Kamis (08/01/2025) lengkap dengan semua jawaban atas pertanyaan yang telanjur mengemuka, termasuk kebenaran adanya dua Petugas kepolisian dari PMJ yang disebut-sebut “mengantar” mereka serta penegasan (sumpah ?) atas issue-issue semacam “cair, gepok” atau bahkan ” kopor” yang ada, Pejuang atau Pecundang? At last but not least, semuanya kembali ke Causa Prima-nya, #AdiliJkw #MakzulkanFufufafa … ,Tutup Roy.




