Kisah Haru Pengusaha Furniture: Dari Keterbatasan Hingga Pesanan Ribuan Set Meja-Kursi Sekolah

Bogor, 28 Agustus 2025
Pepatah mengatakan, “dibalik kesulitan selalu ada kemudahan.” Ungkapan itu pula yang diyakini Suratman (48), seorang pengusaha mebler asal Cilacap, Jawa Tengah. Dari kondisi serba keterbatasan, kini ia mampu mengembangkan usaha furniture yang mempekerjakan puluhan orang.

Suratman mengisahkan awal mula dirinya merintis usaha pada tahun 2016. Kala itu, ia memutuskan berhenti bekerja karena gaji yang diterima tak lagi cukup memenuhi kebutuhan keluarga.
“Waktu itu saya keluar dari pekerjaan sebab gaji gak cukup untuk kebutuhan keluarga,” ujarnya saat ditemui di workshop meblernya di bilangan Gunung Sindur, Bogor, Rabu (27/8/2025).

Berbekal pengalaman lebih dari 10 tahun bekerja di perusahaan mebler, Suratman memberanikan diri membuka usaha di sebuah toko kecil yang sudah lama tutup di pinggir jalan raya. Dorongan terbesar datang dari sang istri yang terus menyemangati demi keberlangsungan keluarga.
Namun perjalanan awalnya tidak mudah. Berbulan-bulan usahanya berjalan tanpa hasil signifikan. Bahkan, untuk biaya sekolah kedua anaknya pun kerap tertunggak.
“Sampai nunggak biaya sekolah anak,” ucapnya lirih.
Di tengah rasa hampir putus asa, doa Suratman dijawab. Ia mendapat pesanan besar berupa 700 set kursi dan meja belajar untuk kebutuhan sebuah universitas di Bengkulu. Pesanan itu menjadi titik balik perjalanan bisnisnya.
“Alhamdulillah, dari situ saya mulai yakin kalau Allah gak pernah menyia-nyiakan rezeki hamba-Nya yang mau usaha,” kata Suratman penuh haru.
Dari keuntungan itu, ia mampu menyewa lahan yang lebih luas dan membangun workshop. Kini, usahanya berdiri di atas tanah sekitar 300 meter persegi dengan puluhan karyawan yang membantunya.
Menjaga Kualitas dan Integritas
Dalam menjalankan usaha, Suratman menekankan kualitas produk dan kejujuran. Setiap set kursi dan meja yang diproduksi menggunakan bahan multipleks kokoh serta rangka besi berkualitas.
“Harga yang saya tawarkan juga tidak terlalu tinggi, agar bisa dijangkau semua kalangan,” jelas pria yang pernah bekerja di lembaga kemanusiaan Dompet Dhuafa.
Ia juga menegaskan enggan mengambil keuntungan berlebihan. Baginya, kepercayaan pelanggan jauh lebih penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Usahanya pun terus merambah yang awalnya hanya melayani pesanan berjumlah kecil hingga pengadaan ribuan set kursi – meja. Selain pengadaan untuk kebutuhan lembaga pendidikan di Jakarta, ia kerap menerima permintaan dari berbagai daerah seperti Solok Sumatera Barat, Bekasi Jawa Barat dan Tangerang Selatan Banten. Ia juga bermitra dengan Yayasan dan perusahaan seperti PT. Imtel Sinergi, CV. AS Sinergi Bersaudara, CV. SBM dan PT Sucofindo.

Belum lagi permintaan langsung dari lembaga pendidikan swasta seperti Sekolah Al Izhar Pondok Labu, Sekolah Islam.Al.Amanah Setu Tangsel, Sekolah Darul.Qur’an Mulia Gunung Sindur Bogor, Sekolah Katolik Mater Dei Pamulang, Sekolah Assyifa Telaga Sindur Bogor,SMK Duta Mas Jakarta, SDI Taman Harapan Bekasi, SDIT Al Ummah Ciputat, SDIT Al.Ikhwan PD Aren dan Al Kautsar Islamic School Bintaro.
Memberi Manfaat untuk Orang Lain
Kesuksesan itu tak membuat Suratman lupa asal-usulnya. Ia kerap merekrut pekerja dari kampung halamannya di Cilacap, serta warga sekitar workshop.
Bahkan, ia berusaha memberikan upah lebih tinggi dibandingkan rata-rata pengusaha sejenis, yakni sekitar Rp150 ribu per hari.
“Saya ngerasain gimana hidup susah, jadi kalau bisa sedikit membantu orang lain, kenapa tidak?” ucapnya.

Hadapi Gempuran Produk Impor
Meski usahanya sudah berkembang, Suratman tetap menghadapi tantangan besar. Produk impor, terutama dari China, kerap membanjiri pasar dengan harga murah.
Namun, ia percaya diri dengan kualitas furniturenya. Menurutnya, meski harga produk impor lebih rendah, kekuatan dan daya tahan mebel lokal buatannya jauh lebih unggul.
Kini, Suratman terus bertekad mengembangkan usahanya agar kelak bisa membeli lahan sendiri dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan.