Opini

MISKIN TAPI SOMBONG

Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)

Bandung, 23 Desember 2025

Paradoks Indonesia dalam penanganan bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Desakan agar ditetapkan sebagai bencana nasional ditolak dan saat negara lain akan membantu, maka Presiden nyatakan kita masih sanggup mengatasi. Sombong sekali. Atau ada yang ditakuti ?.

Kita abaikan dulu soal ketakutan, karena perlu halaman tersendiri untuk itu.
Kesombongan apakah karena mampu ekspor bantuan ke Brazil ? Sesungguhnya rakyat sudah mengetahui politik mercu suar Prabowo. Jago cuap dan aksi kehebatan di luar, di dalam keropos. Untuk menutupi kekeroposan itulah tampilan luar dipoles. Indonesia mampu atasi bencana Sumatera, kilahnya.

Fakta lapangan tidak seindah cuap-cuapnya. Bantuan belepotan dan kesengsaraan rakyat setempat dahsyat. Anak kelaparan, sakit, dan bantuan tak merata. Detik.com memberitakan alokasi dana makan anak 10 ribu per hari. Miskin pisan, atuh. Gubernur terpaksa bersurat minta bantuan UNICEF dan UNDP entah dalam atau luar negeri. Tetangga jiran yang siap kirim pun tertahan.

Bencana nasional dihindari oleh Prabowo yang sangat percaya atau gengsi diri di tengah kemampuan yang hanya bisa duduk sambil menunggu kebun sawit. Keseriusan yang tidak gaspol. Konon informasi dari lingkaran dalam selalu lambat dan kadang tidak akurat. Prabowo sebagai pribadi tentu tidak miskin. Sangat kaya dan  kekayaannya melimpah, jauh dibanding orang  kebanyakan.

Meskipun demikian Prabowo memimpin negara yang ekonominya tertatih-tatih dan brat bret brot. Dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Mengerikan jika kita menyelami keadaan rakyat di bawah.

Dalam agama orang miskin tetapi sombong dimurkai Tuhan. Pantas untuk disiksa pedih.

“Rosulullah SAW bersabda tiga orang yang Allah enggan berbicara di hari kiamat, tidak bersihkan mereka dari dosa, dan tidak sudi memandang muka mereka. Bagi mereka disiapkan siksa yang pedih (yaitu) : Orang tua yang berzina (syaikhun zaanin), penguasa tukang bohong (malikun kadzaabun), dan orang miskin yang sombong (aa-ilun mustakbirun)–(HR Muslim).

Nah, siapapun pemimpin harus waspada pada tiga keadaan ini, tidak terkecuali Indonesia. Janganlan berperilaku sebagai pezina apalagi sudah tua baik sesama maupun lain jenis, menjadi Presiden tukang bohong, dan bagaikan orang miskin yang sombong.

Menutup apalagi menolak orang atau institusi atau negara yang mau membantu dimana kita benar-benar dalam kebutuhan darurat, maka itu sama saja dengan  perilaku “orang miskin yang sombong”.

Allah akan terus turunkan siksa yang berat. Waspadai 2026 sebagai tahun kegetiran (year of bitterness).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button