PERAN ULAMA DAN ORMAS ISLAM UNTUK INDONESIA EMAS

Oleh : M Rizal Fadillah ( Pemerhati Politik Dan Kebangsaan )
Bandung, 27 Agustus 2025
Cukup menarik acara diskusi yang diselenggarakan Jamaah Anshoru Syari’ah di Jakarta beberapa waktu lalu. Tema umum menyangkut posisi umat Islam 20 tahun ke depan atau satu abad kemerdekaan negara yaitu tahun 2045. Indonesia benar-benar emas atau Indonesia cemas ? Dimana peran ulama dan ormas Islam ?
Sesungguhnya ulama dan ormas Islam adalah kekuatan dari masyarakat madani (civil society) yang strategis dan potensial bagi Indonesia maju. Kekuatan penyeimbang dan penyempurna untuk kedaulatan negara. Indonesia cerah jika semua elemen masyarakat dan pemerintah bersatu padu, bahu membahu dalam komitmen untuk maju.
Ulama dan Ormas Islam sebagai entitas politik bergerak dalam rangka da’wah dan jihad. Menjaga langkah rakyat dan umat tetap dalam posisi ibadah. Berbasis amanah dan keadilan. QS An Nisa 58 menyatakan :
“Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak, dan jika engkau menghukumi manusia, tegakkan hukum dengan adil. Sesungguhnya pelajaran Allah itu sempurna, dan Allah Maha Mendengar serta Maha Melihat”
Indonesia Emas bervisi pencapaian nusantara berdaulat, maju, dan berkelanjutan dengan tahapan penguatan fondasi transformasi, akselerasi transformasi, ekspansi global, dan perwujudan indonesia emas. Dengan pilar pembangunan manusia dan iptek, pembangunan ekonomi berkelanjutan, pemerataan pembangunan (equitable development), serta pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola pemerintahan.
Kekuatan ulama dan ormas Islam untuk umat sekurangnya untuk empat hal yakni membangun dan menjaga kekuatan iman (aqidah), kekuatan ilmu (ilmiyah), kekuatan kepribadian (syakhsiyah), dan kekuatan strategi (syiasah). Menata jamaah dan imamah untuk kebersamaan ummah yang bersandar pada prinsip nubuwwah.
Mengagendakan hal yang urgen dan prioritas (fiqhul awlawiyat) di semua bidang baik akidah dan ibadah, sosial (al ijtimaiyah), ilmu pengetahuan (al ilmiyah), ekonomi (al iqtishodiyah), politik (asy syiasah), budaya (ats tsaqofah), maupun peradaban (al hadhoroh).
Ulama dan aktivis ormas Islam harus bersuara mengajak terus kepada nilai-nilai baik dalam berbagai kondisi, jangan menjadi setan omon kosong (asy syaithon an naatiq) atau diam menghadapi kezaliman (asy staithon al akhros). Sadar akan kedudukan sebagai pewaris Nabi.
Indonesia Cemas jika ulama dan ormas Islam dipinggirkan di negeri mayoritas Islam ini apalagi jika kebijakan politiknya mengarah pada Islamophobia, sekularisme, pragmatisme, nativisme, kapitalisme, salibisme, dan isme-isme negatif lainnya.
Ulama dan ormas Islam harus menjadi sokoguru dari pembangunan bangsa. Melakukan konsolodasi terus menerus dan menata shaf yang rapi. Pelindung umat dalam hal iman, menjaga pelaksanaan syari’at, menggelorakan da’wah dan jihad serta mengoreksi perilaku pemangku kuasa agar jauh dari sifat korup, zalim, penipu, dan merasa benar sendiri.
Berani berkata benar kepada penguasa yang menyimpang dan khianat. Meluruskan kiblat bangsa.
Ulama dan ormas Islam hanya takut kepada Allah.