PERANG IRAN vs AS Dan ISRAEL BERKEPANJANGAN, INDONESIA KRISIS
Oleh : Syafril Sjofyan (Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78, Sekjen FTA)
Bandung, 2 Maret 2026
Perang Israel Amerika versus Iran kini berada di titik yang sangat berbahaya, tapi juga bisa melebar menjadi perang regional panjang. Iran merupakan negara besar berpenduduk lebih 90 juta jiwa dengan luas wilayah 1,6 juta km, memiliki 1200 kota sekitar 75% penduduk tinggal diperkotaan, dengan 10 kota besar diatas satu juta penduduk, ibukotanya Teheran sekitar 10 juta jiwa. Tidak akan mudah untuk ditundukan oleh Amerika/ Trump.
Negara Iran sebagai bangsa Persia yang sudah berumur 6000 tahun, merupakan negara yang mempunyai daya tahan yang luar biasa walaupun di embargo sejak lama oleh Amerika. Malah Iran mempunyai kemampuan militer yang luar biasa memiliki jutaan senjata jutaan senjata nuklir dan drone melalui sokongan teknologi perang dari Rusia, China dan Korut.
Jika dibandingkan Israel dengan luas wilayah Israel hanya seperdelapan luas Iran dengan jumlah penduduk hanya sepersepuluh 9,5 juta jiwa setara dengan penduduk Teheran. Hanya karena dibantu oleh AS, Israel jumawa untuk berperang dengan Iran.
Berikut analisis paling realistis berdasarkan situasi terbaru, saat ini konflik sudah masuk fase eskalasi serius. AS dan Israel melakukan serangan langsung ke Iran (bukan lagi perang proxy). Iran membalas dengan serangan ke Israel dan pangkalan AS di Kawasan. Banyak negara Timur Tengah ikut terdampak (Bahrain, UAE, Irak, dll). Israel bahkan sudah menetapkan status darurat nasional.
Artinya ini sudah bukan perang kecil, tapi konflik antar negara berpotensi perang besar di Kawasan Timur Tengah. Ada beberapa alasan kenapa perang ini bisa lama. Targetnya bukan sekadar militer, tapi politik (regime change) AS & Israel disebut ingin melemahkan atau mengganti rezim Iran. Kalau tujuannya mengganti rezim, biasanya tidak bisa selesai cepat. Mengingat luas dan jumlah penduduk yang banyak berbeda jauh dengan Venezuela ataupun Ukraina.
Iran punya kemampuan balasan jangka panjang dengan rudal jarak jauh, proxy di Lebanon, Irak, Yaman, Suriah. Kontrol strategis Selat Hormuz. Ini memungkinkan Iran melakukan perang berlapis (multi-front), bukan hanya satu medan. Saat ini selat Hormuz yang merupakan lalu lintas kapal distribusi energi global, sudah diancam dan ditutup oleh Iran.
Juga akan ada risiko keterlibatan negara besar lain Rusia dan China mengkritik serangan dan bisa mendukung Iran secara tidak langsung. Dunia mulai terbelah dalam blok geopolitik. Kalau aktor besar ikut masuk, konflik bisa meluas dan lama. Efek ekonomi global, ancaman penutupan Selat Hormuz (jalur minyak dunia). Gangguan penerbangan dan energi global. Ini bikin konflik punya taruhan global, bukan lokal.
Berikut kita bahas melalui simulasi dampak perang AS–Israel vs Iran terhadap Indonesia secara realistis, berbasis skenario terburuk sampai moderat. Ini penting karena Indonesia tidak ikut perang, tapi sangat terdampak secara ekonomi dan politik global.
Perang di Timur Tengah hampir pasti berdampak kepada Energi (BBM & LPG), perdagangan & kurs rupiah dan menyangkut stabilitas politik & sosial. Kenapa energi? Karena sekitar 20% minyak dunia lewat Selat Hormuz. Kalau Iran menutup atau mengganggu jalur ini harga minyak melonjak, dengan perkiraan jika terjadi eskalasi sedang harga minyak dunia akan naik $ 100 – 120 mau tidak mau di Indonesia harga BBM naik. Jika terjadi perang besar harga $ 130 – 180 di Indonesia akan terjadi krisis energi.
Karena Indonesia masih impor minyak ±700–800 ribu barel/hari. Subsidi energi jebol. Harga Pertalite / Pertamax naik, LPG 3 kg bisa langka / mahal. Efek langsung ke rakyat ongkos transport naik. Harga makanan naik. UMKM terpukul
Saat perang, investor global biasanya Lari ke USD (safe haven), mereka menarik dana dari negara berkembang seperti Indonesia, jika di Timur Tengah perang besar simulasi kurs rupiah bisa mencapai 17.000 bahkan bisa melebihi 18.000.
Dampaknya harga impor naik (gandum, kedelai, BBM). Utang luar negeri makin berat. Inflasi meningkat. Efek nyata secara langsung harga mie instan, roti, tahu-tempe naik. Industri terganggu. Indonesia tergantung impor gandum (roti, mie), kedelai (tahu-tempe). Perang besar dan lama logistik global terganggu berakibat harga naik. Dampak inflasi pangan, daya beli turun, risiko krisis sosial.
Jika konflik meluas jalur laut terganggu, asuransi kapal mahal, ongkos kirim naik. Dampak ekspor Indonesia turun. Barang impor mahal. Industri manufaktur terpukul. Industri dalam negeri tertekan, sektor paling terdampak transportasi, logistik, pabrik berbasis impor bahan baku, maskapai penerbangan. Risiko PHK meningkat, Investasi tertunda, pertumbuhan ekonomi turun.
Kalau harga naik tajam. Akan terjadi protes kenaikan BBM. Ketidakpuasan publik meluas. Polarisasi politik akan terjadi. Berpotensi eskalasi, demonstrasi secara nasional, tekanan ke pemerintah dan instabilitas sosial
Pemerintah Indonesia biasanya netral, pro-Palestina, tidak ikut blok militer. Tapi berisiko tekanan diplomatik dari AS walaupun sudah bergabung pada BoP, tekanan juga dating dari dunia Islam. Ini bisa jadi dilema politik luar negeri.
Indonesia tidak ikut berperang, tapi bisa “terpukul keras” secara ekonomi. Yang paling berbahaya, lonjakan harga BBM, inflasi pangan. Gejolak sosial. Jika perang besra berkepanjangan Indonesia bisa masuk fase krisis ekonomi.
Apa yang harus dilakukan Pemerintah cegah kepanikan finansial, amankan pangan, perbanyak stok beras, gandum, kurangi impor, stabilkan harga bahan pokok. Jaring pengaman sosial, BLT / bantuan langsung, subsidi transportasi, program padat karya.
Pemerintahan Prabowo harus menjaga kepercayaan publik, melalui transparansi kebijakan, hindari kebijakan mendadak, komunikasi harus jelas bertanggung jawab tidak omon-omon. Karena ini sering jadi faktor penentu stabilitas. Saat ini posisi Indonesia rentan.
Nah, apa yang harus disiapkan oleh rakyat Indonesia, perlu mengamankan keuangan pribadi, kurangi utang konsumtif, siapkan dana darurat 3–6 bulan, jangan spekulasi tinggi. Kurangi pengeluaran tidak penting. Hindari sektor sensitive property, barang mewah dan pariwisata.
Tapi yang paling berbahaya bukan perang itu sendiri, tapi salah kebijakan dari pemerintah Prabowo, korupsi masih meraja lela termasuk proyek2 besar (MBG, Impor Mobil India). Begitu juga jika distribusi bantuan gagal untuk rakyat. Ini bisa mempercepat krisis jadi krisis politik. Kemungkinan Indonesia tidak runtuh, tapi sangat mungkin mengalami tekanan ekonomi. Kenaikan harga besar. Potensi gejolak sosial.
Last but not least bangun solidaritas sosial. Komunitas diperkuat saling bantu. Ini penting saat krisis panjang. Selanjutnya mari berdoa dan serukan perang berhenti agar setan besar dan setan kecil yakni Trump dan Netanyahu dikutuk karena mereka berdua yang memulai perang. Negara Palestina segera berdiri, penjajahan dimuka bumi kan hapus.




