REMEMBER KM 50 : PRABOWO PENGKHIANAT ?
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung 27 Desember 2025
Di samping ijazah palsu dan korupsi sorotan pada Jokowi adalah bertanggungjawab atas pembantaian 6 lasykar FPI pengawal Habib Rizieq Shihab yang dikenal dengan peristiwa Km 50. 7 Desember 2020 dini hari penyiksaan dan pembunuhan itu terjadi. Kategorinya unlawful killing atau crime against humanity. Sistematis dengan tingkat kesengajaan yang sangat tinggi.
Institusi negara bekerja menjalankan misi jahat. Ada Kepolisian, TNI, BIN dan juga Satgas Khusus. Sambo nasih digjaya saat itu. Luar biasa, seorang warga negara biasa yang bernama Habib Rizieq Shihab harus dihadapi oleh pasukan lengkap melalui operasi ala mafia. Operasi yang biasa dilakukan oleh negara-negara Komunis atau Zionis. Operasi Iblis.
Operasi Delima sandinya. Sebahaya apa HRS dan FPI sehingga harus diburu sedemikian rupa ? Jokowi memang alergi pada semangat keagamaan. Ia lebih senang berteman dengan dukun ketimbang ulama. Spiritualistik identik mistik. Markaz Syari’ah Mega Mendung dihajar drone 4 Desember 2020, 5-6 Desember diawasi ketat aparat BIN dan Polisi di Sentul. 7 Desember 2020 terjadi pembantaian 6 Laskar di Km 50 Tol Jakarta Cikampek.
Seperti adegan dalam film saja, rombongan keluarga HRS dikuntit dan dikejar aparat tidak berseragam sepanjang Jalan Tol Sentul hingga Gerbang Tol Karawang Barat. Aparat jahat itu menjalankan perintah atasan berjenjang ke atas. Kapolri, Ka BIN, dan mungkin Panglima TNI. Penembakan pertama dilakulkan aparat di jalan raya depan Masjid Al Ghammar Muhammadiyah Karawang. Selongsong peluru ditemukan Komnas HAM disana.
Penyiksaan dan pembantaian sadis 6 anggota Laskar FPI yang tidak bersenjata itu jelas harus dibongkar dan dipertanggungjawabkan oleh penanggung jawab politik. Ini pembunuhan politik dengan target sesunggunya HRS. 6 Laskar adalah sasaran antara. Jokowi tidak bisa lari dari kasus ini bersama Idham Azis (Kapolri), Listyo Sigit (Ka Bareskrim), Fadil Imran (Kapolda Metro), Budi Gunawan (Ka BIN), Sambo (Ka Satgassus), Dudung Abdurahman (Pangdam Jaya), dan dedengkot lainnya.
Sayangnya Menhan Prabowo Subianto, yang pernah menemui HRS di Mekkah, ternyata pada saat pembantaian terjadi diam seribu bahasa tanpa sedikitpun komentar apalagi membantu. Aparat TNI jelas terlibat terbukti dengan aktifnya Pangdam V Jaya Dudung Abdurrahman. Adakah Prabowo berkhianat ? Nampaknya wajar jika timbul pertanyaan atau pernyataan tersebut.
Untuk kesekian kali ia berkhianar. Pertama, kepada keluarga Cendana yang berujung kabur ke Yordania. Kedua, kepada TNI dengan kasus Tim Mawar yang berujung pemecatan dari tentara, ketiga mengkhianati rakyat pendukung ketika menerima tawaran untuk masuk dalam Kabinet Jokowi, dan keempat kepada umat Islam dan HRS. Enam anggota Laskar FPI adalah pendukung setia Prabowo. Menhan dan mantan Danjen Kopassus itu “sembunyi cari aman”.
Setelah Prabowo menjadi Presiden tetap saja kasus Km 50 tidak terkuak juga. Tidak ada perintah apapun untuk membuka kembali peristiwa sadisnya penyiksaan dan pembunuhan aparat terhadap rakyat tersebut. Pengadilan 2 orang anggota Resmob hanya dagelan atau sandiwara dari sebuah rekayasa dan kepalsuan. Kebohongan fenomenal dan monumental.
Remember Km 50..!
Urusan belum selesai. Listyo Sigit, Fadil Imran, Budi Gunawan, Dudung Abdurrahman masih ada dan bebas berkeliaran. Jokowi apa lagi.
Remember Km 50..!
Sekandal besar dari kejahatan, kebengisan, pengkhianatan, pembungkaman, dan penipuan penguasa terhadap rakyatnya sendiri.
Remember Km 50..!




