APA SALAH KHILAFAH PADA NEGERI INI?, APA FUNGSI PANCASILA SAAT TIMOR TIMUR LEPAS DARI NKRI?

APA SALAH KHILAFAH PADA NEGERI INI?, APA FUNGSI PANCASILA SAAT TIMOR TIMUR LEPAS DARI NKRI?
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H.
(Advokat, Pejuang Khilafah)
Jakarta, 1 November 2025
Sudah agak lama, saya tidak menulis tentang Khilafah. Maklum, aktivitas saya disibukan dengan sejumlah Advokasi yang membela kepentingan rakyat dan menjaga kedaulatan Negara.
Advokasi korban proyek PIK-2, selain membela korban perampasan tanah hakekatnya juga menjaga kedaulatan Negara. Mengingat, kasus pagar laut dan terbitnya 263 SHGB diatas laut, jelas-jelas menggerogoti kedaulatan teritorial Negara.
Advokasi kasus ijazah palsu Jokowi, juga menyita waktu. Advokasi ini, bertujuan untuk membersihkan legacy sejarah bangsa Indonesia dari noda hitam pernah dipimpin Presiden berijazah palsu.
Namun, tiba-tiba kemarin (Jum’at, 31/10) ada berita online yang menyebut Kementerian Agama dan Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Pemkab Batola), Kalimantan Selatan, membuat kontroversi dengan memberikan sikap tegas terkait dugaan munculnya organisasi terlarang ajaran khilafah yang menyebar di sejumlah titik belakangan ini. Melalui Kepala Kantor Kemenag Batola Anwar Hadimi di Batola, Jumat (31/10), mengatakan belakangan ini pihaknya menerima sejumlah aduan ada beberapa titik yang menjadi titik aktivitas dari organisasi itu.
Tak lama setelah itu, saya mendapatkan informasi dari kiriman WA, yang mengabarkan adanya sejumlah titik yang dipasangi spanduk provokatif dan tendensius. Dua diantara spanduk itu bertuliskan:
“PANCASILA SEBAGAI PEMERSATU BANGSA, TOLAK KHILAFAH”
“TOLAK MASUKNYA KHILAFAH, INTOLERANSI & RADIKALISME DI LEMBAGA PENDIDIKAN”.
Akhirnya, saya harus menulis tegas. Karena spanduk seperti ini jelas a historis. Negeri ini tidak pernah dijajah oleh Khilafah, melainkan oleh Belanda yang sekuler. Negeri ini, sepanjang perjalanannya dipenuhi banyak koruptor yang motifnya bukan Khilafah.
Bahkan, jika dalihnya Pancasila, selama ini orang-orang yang ngakunya paling Pancasila, justru terbelit kasus korupsi. Deret namanya banyak, yang paling anyar kasus korupsi dana haji dimana Mantan Menag Yaqut Cholil Choumas diproses oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam perkara ini.
Kita ketahui, Yaqut ini ngakunya paling NKRI dan paling Pancasila.
Saat masyarakat sibuk dengan kasus korupsi kereta Whoosh, korupsi proyek IKN, hingga urusan ijazah palsu, orang yang mengaku paling Pancasila tak kelihatan batang hidungnya. Dalam kasus perampasan tanah di proyek PIK-2, para pelafadz jampi-jampi Pancasila Pemersatu Bangsa ini, tidak kelihatan batang hidungnya.
Lagipula, apa benar Pancasila Pemersatu Bangsa? Apa benar Khilafah pemecah belah?
Sejarah membuktikan, Pancasila tak bisa menahan Timor Timur agar tak lepas dan tetap bersatu dengan NKRI. Pancasila, juga tak mampu menuntun para politisi, anggota DPR dan para menteri untuk tidak korupsi. Termasuk Presiden.
Sementara Khilafah, terbukti pernah eksis 13 abad menyatukan kaum muslimin dan mengintegrasi banyak umat dan bangsa. Ketika Khilafah runtuh tahun 1924, barulah kaum muslimin terpecah belah menjadi lebih dari 50 Negara.
Soal Toleransi?
Sepanjang Palestina (Al Quds) dibawah kekuasan Khilafah setelah dibebaskan Khalifah Umar bin Khatab dan berikutnya oleh Sultan Sholahuddin Al Ayyubi, negeri ini menjadi negeri yang damai dan tenteram untuk penduduknya yang memeluk tiga agama (Muslim, Kristen, Yahudi). Namun hari ini, saat Zionis menguasai wilayah ini, Palestina tak lagi damai, tak lagi menjadi tempat ibadah yang nyaman, bukan hanya untuk umat Islam, bahkan Umat kristen pun menjadi korban kebiadaban zionis laknatulah.
Lalu, saya minta bantuan. Tolong tunjukan satu saja legacy Pancasila pernah menyatukan umat dan bangsa di dunia?
Jangankan di dunia, di Indonesia saja Pancasila hanya dijadikan alat represif dan pecah belah. Orde lama, membungkam gerakan Islam berdalih Pancasila. Begitu juga orde baru dengan kebijakan Astung (Asas Tunggal), termasuk orde Jokowi yang membungkam HTI dan FPI berdalih Pancasila.
Soal pendidikan, anak anak kita semestinya dilindungi dari ancaman sekulerisme, liberalisme dan pergaulan bebas, LGBT, Narkoba hingga kekerasan dikalangan remaja. Bukan malah ditakut takuti dengan Khilafah, dijauhkan dari ajaran agamanya.




