“Whoosh; Bodoh, Goblok, Tolol Dugaan Korupsinya”
Oleh : Syafril Sjofyan (Pemerhati Kebijakan Publik, Aktivis Pergerakan 77-78)
Bandung, 6 November 2025
Judul diatas bukan makian tapi suasana hati. Teganya. Tega. Pingin maju. Pingin Gaya. Menjadi beban rakyat puluhan tahun. Karena Whoosh merupakan Transport Premium. Untuk sekelompok masyarakat mampu. Biaya pembangunan proyek Whoosh Jakarta – Bandung sepanjang 142,3 Km Rp. 110 Triliun. Sementara Kereta Cepat di Saudi sepanjang 1500 Km biaya hanya Rp 112 Triliun. Kereta Cepat Shanghai – Hangzhou sepanjang 154 km sekitar Rp. 56 Triliun. Luar Binasa!. Nyesek. Jika ditambah Bunga plus Cost Overrun. Pembangunan Whoosh per km/ 1 Triliun rupiah. Atau Per Meter 1 Milyar Rupiah. Termahal di dunia. Bodoh apa kita perlu bangga ya?. Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), juga dinamakan Kereta Cepat China Indonesia (KCIC), dengan nama dagang Whoosh.
Awal kronologis pembangunannya sudah matang melalui studi kelayakan yang dibuat Jepang dengan harga penawaran sebesar 6,2 miliar dolar AS. Dengan pembiayaan 75% dari pinjaman Bank jepang dengan bunga 0,01%, Namun Jepang minta Jaminan dari Pemerintah Indonesia.
Kemudian muncul Jokowi, Presiden terpilih tahun 2014. Awal pemerintahannya berkunjung ke China. Di Jamu oleh Xi Jinping Presiden China. Di China diajak naik Kereta Cepat oleh saudara tuanya Jokowi. Demikian Jokowi memanggil Xi Jinping. Jokowi kepincut dengan Kereta Cepat made in China.
Awalnya, pihak China menawarkan 5,5 miliar dolar AS, yang kemudian naik menjadi 6,02 miliar dolar AS, kemudian biaya proyek membengkak 1,2 miliar dolar AS, sehingga total nilai proyek menjadi 7,22 miliar dolar AS. Jauh lebih mahal dari penawaran Jepang 6,2 miliar dolar. China memang lihai dalam berdagang. Kalau tidak salah ada hadis belajar kenegeri China. Karena kita goblok?. China menawarkan bunga 2% per tahun untuk 75% total pinjaman pembiayaan oleh Bank China, atau 20 kali lipat lebih tinggi dari bunga Jepang. Kita Bodoh apa Tolol ya?.
Konon alasannya kenapa memilih Made in China karena tidak meminta jaminan Pemerintah. Jokowi beralasan bahwa KCIC adalah Bisnis to Bisnis (B to B), tidak akan menggunakan APBN. Dari dulu sampai sekarang yang namanya bisnis ya cari laba. Bukan sosial. Kecuali antar Pemerintah atau Government to Government ( G to G ) skenario ini memang tidak cari laba, harus sosial demi rakyat. Menurut saksi ahli Agus Pambagio, ketika dipanggil ke istana oleh Jokowi, untuk meminta pendapatnya. Jokowi kekeh memilih China. Sudah kepincut China. Orang jatuh cinta memang buta. Walaupun merugikan negara. Sabodo teuing.
Namun ketika ada pembengkakan (cost overrun) dari 5,5 M USD, menjadi 6,02M USD. Ketika itu untuk menalanginya menggunakan dana APBN tanpa persetujuan DPR. Jokowi meminta Sri Mulyani merogoh APBN untuk menalangi biaya pembengkakan. Masa itu pandemi Covid. Tidak ada yang akan protes. Walau itu jelas pelanggaran UU APBN. Kalau diminta persetujuan pun DPR pasti juga oke. Maklum Koalisi gendut.
Mungkin akan sama halnya ketika Presiden Prabowo sekarang pasang badan permasalahan Whoosh. Prabowo bersedia cuci piring kotor Whoosh. Akan ditanggung Pemerintah. Sementara ada yang sudah buru-buru cuci tangan, yakni Jokowi dan Luhut. Walaupun Purbaya Menkeu sudah menolak menggunakan dana APBN. Kalau perintah Presiden apa Purbaya berani menolak?. Perlu pelanggaran UU APBN lagi?.
Jika dilihat tekadnya Presiden Prabowo akan mengejar Koruptor sampai ke Antartika, memang paradoks ketika Prabowo pasang badan sepenuhnya dengan permasalahan Whoosh. Hampir dipastikan adanya dugaan korupsi yang merugikan negara secara luar biasa, dengan alasan membeli kebanggaan. Alasan lain adalah Whoosh adalan obligasi publik ?. Publik Premium!.
Menurut ekonom Anthony Budiawan masalah utama Whoosh, usut dugaan korupsinya, bukan bangga dengan produk asing. Boleh bangga pesawat CN235 buatan PT DI. Saya setuju ada yang patut kita banggakan mobil Presiden dan Menteri buatan PINDAD, Lokomotif dan Gerbong buatan INKA bahkan sudah ekspor. Kapal buatan PAL. Produk Teknologi dan tenaga Indonesia sendiri. Patut Bangga.
Mari kita bedah tentang dugaan Korupsinya Whoosh. Mudah-mudahan artikel ini sampai kepada Presiden Prabowo sehingga beliau menuntaskan dugaan korupsi Whoosh, secara cepat kilat.
Kesatu, Indikasi Korupsi dari Mark Up, seperti diuraikan diatas harga proyek kemahalan sekitar 2,7 miliar dolar AS dibandingkan Proyek Shanghai-Hangzhou, nilai Proyek KCIC yang sangat tinggi biayanya dikarenakan makeup. Proses evaluasi Proyek sangat tidak profesional dan cenderung berpihak kepada pihak china yang notabene lebih mahal hanya dengan keputusan subjektif seorang Presiden Jokowi yang harus di ikuti oleh jajaran dibawahnya, sehingga terindikasi melanggar proses pengadaan barang publik.
Kedua, Perbedaan bunga yang luar biasa merugikan negara Jepang menawarkan bunga 0,1% per tahun, sedangkan China menawarkan bunga 2% per tahun, atau 20 kali lipat lebih tinggi dari bunga Jepang. Secara nilai bunga pinjaman Proyek Jepang sekitar Rp73,35 miliar pertahun. Sedangkan bunga pinjaman proyek China, Whoosh per tahun sekitar Rp1,47 triliun. Kesengajaan mengabaikan komponen biaya bunga dalam pembiayaan Proyek termasuk pelanggaran serius terhadap proses evaluasi proyek publik, dan termasuk tindak pidana. Bunga merupakan salah satu komponen biaya yang sangat penting untuk menentukan kelayakan finansial proyek
Ketiga, pembengkakan biaya (cost overrun) 1,2 miliar dolar AS, sehingga total nilai proyek menjadi 7,22 miliar dolar AS atau sekitar 50,5 juta dolar AS per km. Pembengkakan biaya sekitar 20 persen ini jelas tidak normal. Seharusnya bersifat turnkey (fixed price). Cost overrun wajib ditanggung oleh kontraktor Proyek, pihak China. 75 persen pembiayaan utang dari cost overrun tersebut, sekitar 900 juta dolar AS, dikenakan bunga pinjaman sebesar 3,4 persen per tahun, atau 34 kali lipat dari bunga yang ditawarkan Jepang. Total bunga pinjaman Whoosh sekitar Rp1,97 triliun per tahun. Bandingkan, penawaran bunga pinjaman dari Jepang hanya sekitar Rp.75 miliar pertahun. Sangat besar kerugian negara. Data perhitungan nilai nominal penulis ambil dari perhitungan ekonom Anthony Budiawan.
Nah, adanya dugaan tindak pidana korupsi Whoosh akankah juga ditanggung juga oleh Presiden Prabowo?, Jika iya, artinya Prabowo melindungi para koruptor. Semoga tidak. Presiden Prabowo tentu ingat tekadnya memberantas Korupsi. Prabowo harus mengawasi KPK dan meminta agar KPK menuntaskannya. Prabowo harus meniru Nabi Muhammad, walaupun Fatimah putrinya sendiri berbuat salah beliau tidak segan menjatuhkan hukuman.




