Opini

“POLISI DI BAWAH SANDAL JOKOWI”

Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)

Bandung, 18 Januari 2026

Setelah Eggi Sudjana curhat ke hadapan Jokowi atas statusnya sebagai Tersangka, maka Jokowi katanya  menghargai lalu memanggil 2 anggota Polda Metro Jaya yang ternyata sudah berada di rumahnya. Omon-omon yang diduga perintah untuk kemudian dengan cepat nantinya di Jakarta dikeluarkan Surat Pemberitahuan Penghentian Penyidikan (SP3) untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis (DHL).

Melaksanakan perintah Jokowi ini nampak sudah disiapkan dengan hadirnya penyidik Polda Metro Jaya tersebut. Jemput perintah namanya. Luar biasa dan sangat bersejarah. Ini tentu bukan karena hebatnya Eggi Sudjana tetapi cepatnya Jokowi melihat peluang untuk menaklukan musuh yang sudah menyerahkan kepalanya untuk dipenggal. Benar bahwa Eggi datang bukan untuk minta maaf tetapi membangun understanding dengan Fir’aun.

Sejak laporan awal di Polda Metro tanggal 30 April 2025 kepatuhan Polisi atas injakan sandal Jokowi begitu kentara. Hanya bermodal foto copy dan tanpa konsultasi bisa diterima langsung sebagai LP. Di waktu yang tidak pakai lama Berita Acara Pemeriksaan (BAP) selesai dan di hari itu pula Surat Perintah Penyelidikan (SP Lidik) dikeluarkan. Terlapor 5 orang RS, RHS, TT, ES, dan KTR. Jokowi bersandiwara bahwa Terlapor belum ada dan Pemeriksa membuat nomenklatur Terlapor dalam Lidik.

Luar biasa pengabdian dan pelayanan Polri kepada Jokowi. Dengan Terlapor dalam Lidik semua disasar sehingga tidak terarah dan menghasilkan 12 Terlapor suka-suka. Dari klarifikasi lewat Berita Acara Klarifikasi (BAK) lompat naik status ke Penyidikan dan sukseslah menetapkan 8 Tersangka. Yang bukan dilaporkan Jokowi terjaring oleh LP lain eks Polres Jakpus, Jaksel, dan Bekasi. Inilah Tersangka produk laporan campur aduk. Pokoknya semua bisa demi Jokowi.

Demi Jokowi pula KUHAP baru diterapkan namanya Restorative Justice dan korban pertama penerapannya adalah Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis. Berangkatlah Eggi ke Malaysia dengan pesawat bukan pakai mobil VW. DHL harus memenuhi banyak undangan media dan belepotan  harus menjelaskan. Ia ditinggalkan Eggi sendiri. Jokowi meski sakit tetap bahagia menari dan menyanyi mengatur Polri. Sandalnya sakti.

Polisi melanjutkan atau menghentikan tergantung Jokowi. Semua Tersangka dipelototi dalam ultimatum  “sowan ke Solo, SP3” jika “tidak sowan, lanjut urusan Jaksa”. Meski kabur tentang status klacht delict namun faktor penentu adalah Jokowi. Dipenggal atau tidak tergantung jempol raja, ke atas atau ke bawah.

Lucu, ironi, dan paradoks bahwa yang diduga melakukan kejahatan pemalsuan dan menggunakan ijazah palsu itu adalah Jokowi tetapi yang sibuk diperiksa adalah yang menuntut pengungkapan fakta dari ijazah durjana. Masyarakat melihat Polisi ternyata berada di bawah sandal Jokowi.
Sandal raja itu dipakai untuk melangkah dan  menginjak para punakawan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button