SIBUK MEMBELA BOP TRUMP & ZIONIS ISRAEL HINGGA TEGA “MENCONGKEL” DALIL PERJANJIAN HUDAIBIYAH
Oleh : Ahmad Khozinudin, S.H. (Advokat & Aktivis)
Jakarta, 5 Februari 2025
Kekejian Israel dan Amerika terhadap kaum muslimin di Palestina, sepertinya bagi sebagian orang tuli masih kurang bukti. Sejak Kekhilafahan Islam di Turki runtuh pada tahun 1924, kaum muslimin tak lagi memiliki perisai (pelindung). Sejak saat itulah, darah kaum muslimin Palestina dan diberbagai belahan dumia lainnya begitu murah, ditumpahkan oleh kaum kafir.
Derita kaum muslimin di Palestina, tidak mungkin terjadi melainkan karena tiga sebab utama, yaitu:
Pertama, keruntuhan Kekhilafahan Islam di Turki pada tahun 1924.
Kedua, sokongan ingris yang dilanjutkan Amerika melalui lembaga representasi penjajahan internasional (PBB), yang mendukung dan mengampu berdirinya entitas zionis Israel pada tahun 1948.
Ketiga, pengkhianatan dunia Islam.
Jika tidak karena tiga hal tersebut, niscaya tidak akan pernah terjadi derita Palestina, bahkan dunia. Sejak kaum muslimin tidak memiliki Negara (Khilafah), kaum muslimin seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
Dahulu, Khilafah memimpin dan menata dunia dengan Islam. Visi Khilafah membebaskan manusia dari ideologi materialisme, menuju penghambaan yang paripurna kepada Allah SWT. Khilafah menyebarkan Islam dengan dakwah dan jihad, dan menjalankan misi memakmurkan bumi, menebar kedamaian, keamanan dan ketentraman, menjalankan tugas sebagai Khalifah Allah SWT di bumi.
Pasca Khilafah runtuh, dunia dikuasai oleh dua ideologi materialisme yakni ideologi Sosialisme di Timur dan ideologi Kapitalisme di Barat. Pasca Soviet runtuh, kejahatan kapitasme yang dipimpin Amerika merambah ke seluruh penjuru dunia melalui metode kolonialisme dan imperialisme (penjajahan).
Misi Amerika dan Barat terhadap dunia adalah menjajah, mengeksploitasi dan merampas kekayaan dunia. Seluruh peperangan yang dikobarkan Amerika dan Barat, tidak lebih bermotif untuk menguasai sumber kekayaan dunia.
Hari ini, Trump membentuk Board Of Peace. Dewan perdamaian, yang didalihkan untuk memerdekakan Palestina.
Padahal, tujuan BoP Trump ini sangat jelas dan sangat kasat mata:
Pertama, untuk memuluskan rencana mengeksekusi konsep Two State (dua negara), antara Israel dan Palestina, yang esensinya adalah melegitimasi penjajahan Israel atas Palestina.
Kedua, pra kondisi untuk menghapus Palestina dari peta dunia, dengan menjadikan Israel sebagai ‘The Only State’.
Ketiga, melibatkan dunia ketiga untuk menampung rakyat Palestina yang diusir dari kampung halamannya, setelah keseluruhan tanah Palestina dikuasai zionis Israel.
Lalu, Indonesia justru bergabung dengan Dewan Perdamaian (BoP) bentukan Trump yang didalamnya ada zionis Israel?
Itu sama saja, Indonesia melegitimasi penjajahan atas Palestina dan terlibat aktif untuk mengusir rakyat Palestina dari tanah airnya. Luar biasa kejam dan biadab!
Namun anehnya, ada yang tanpa malu mengutip perilaku Rasulullah Muhammad Saw yang mulia, saat melakukan perjanjian Hudaibiyah dengan kafir Mekkah, untuk melegitimasi bergabungnya Indonesia di BoP nya Trump. Sudah bertindak keji dan brutal, masih menambah kejahatan dengan menisbatkan kejahatan itu sebagai ‘ittiba’ atau mencontoh Sirah Nabi yang mulia.
Penulis katakan, kepada siapapun yang mencari pembenaran terhadap kekejian keputusan bergabung dengan BoP Trump, yang menisbatkan itu pada perjanjian Hudaibiyah, baik dia Menteri Agama, ormas Islam atau ulama Syu’ yang mendukung keterlibatan Indonesia dalam Board Of Peace besutan Trump, kalian semua telah berkhianat kepada Allah SWT, Rasulullah, kelada Islam dan kaum muslimin, dengan argumentasi sebagai berikut :
Pertama, Rasulullah SAW menandatangani perjanjian Hudaibiyah karena perintah Allah SWT. Perjanjian tersebut adalah wahyu, sehingga tidak bisa dibatalkan meskipun sejumlah sahabat protes atas isi perjanjian.
Sementara BoP Trump adalah perjanjian yang menuruti hawa nafsu zionis Israel untuk menguasai seluruh tanah palestina, mengusir rakyat Palestina dan menjadikan dunia ketiga (termasuk Indonesia), untuk menampung rakyat Palestina, korban penjajahan Israel dan Amerika.
Kedua, Rasulullah SAW menandatangani perjanjian Hudaibiyah dalam kapasitas Kepala Negara independen (Daulah Islam Madinah), yang berdaulat, dan langsung sebagai subjek penandatangan dan pelaksana perjanjian.
Sementara BoP Trump adalah kehendak sepihak Trump dan Israel, tidak melibatkan dunia Islam untuk merumuskan visi misi pembentukan, melainkan hanya melibatkan dunia Islam untuk bergabung, setor duit, melegitimasi kejahatan dan rencana jahat lanjutan Amerika dan Israel atas rakyat Palestina.
Ketiga, target gencatan senjata perjanjian Hudaibiyah adalah Fathul Mekkah (pembebasan Mekah). Terbukti, ketika Kafir Quraisy Mekkah melanggar perjanjian, Rasulallah Saw segera mengirim pasukan untuk menaklukan Mekkah. Mekkah akhirnya di-unifikasi menjadi satu kesatuan wilayah Daulah Islam yang berpusat di Madinah.
Sementara Israel? Berulangkali Zionis Israel laknatullah mengkhianati perjanjian gencatan senjata. Namun, Amerika tak melakukan tindakan apapun. Dunia Islam juga lembaga PBB hanya bisa mengecam, tak ada pasukan yang dikirim untuk menghukum Israel.
Kenapa Amerika tidak menghukum Israel, meskipun gencatan senjata diprakarsai Amerika?
Jawabnya, karena Amerika merestui pembantaian rakyat Palestina oleh zionis Israel. Amerika menjadikan Israel sebagai ‘Kangker Ganas’ yang menjadikan instabilitas di kawasan, sehingga bisa dijadikan legitimasi Amerika melakukan intervensi atas nama menjaga perdamaian, padahal tujuannya melegitimasi penjajahan.
Lalu, setelah Israel melanggar gencatan senjata, apakah Indonesia bisa mencegah? Bisa menghukum? Indonesia tak dapat melakukan apapun, kecuali cuma mengecam.
Sementara, duit rakyat sebesar US$ 1 miliar (atau Rp 17 triliun), hanya jadikan sarana Amerika agar Israel dapat mengusir rakyat Palestina.
Kekejian yang super biadab ini, mau dinisbatkan pada teladan Nabi? Mengklaim terinspirasi perjanjian Hudaibiyah?
Bertakwalah wahai hamba Allah ! Sungguh dunia dan seisinya tidak lebih berharga dari sayap lalat. Ingatlah ! Akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya ! .




