OpiniPalestina

Pendakian Gunung Dukono Sudah Ditutup, Namun Masih Ada Yang Nekat Naik, Daryono : “Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana”

Jakarta, 8 Mei 2026

Sebagaimana diberitakan sebelumnya Hari ini Jumat (8/5/2026) jam 07.41 WIT Gunungapi Dukono yang terletak di Desa Mamuny, Kecamatan Galela ,Kabupaten Halahera Utara , Provinsi Maluku Utara mengalami Erupsi, Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Utara HENTJE M.L. HETHARIA, S.Hut melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Persuasi-news.com.

Dirinya mengatakan, BPBD Mendapat Laporan dari Pos SAR Tobelo bahwa ada sejumlah pendaki yang mengalami luka-luka akibat letusan gunungapi dukono.
Dampak Bencana akibat Erupsi Gunungapi Dukono untuk informasi sementara yang kami terima sebanyak 5 orang pendaki mengalami luka-luka dan masih dalam proses pencarian . Orang 5 tersebut mengalami luka-luka akibat semburan material gunungapi.

Berikut Nama-Nama Pendaki Gunung Dukono Halmahera Utara Yang Selamat

Kepala Kantor SAR Ternate (BASARNAS MALUT) Iwan Ramdani dalam keterangan tertuli yang diterima redaksi Persuasi-news.com mengatakan, data sampai 17.30 WIB ,ada 15 orang yang selamat, Tujuh diantaranya Warga Negara Asing.

Pendakian Gunung Dukono Sudah Ditutup Sejak April 2026

Pendakian ke gununapi Dukono sebenarnya sudah ditutup sejak 17 April 2026 lalu menyusul meningkatnya aktivitas vulkanik, hal tersebut berdasarkan surat Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, melalui Dinas Pariwisata bernomor 556/061 Perihal Himbauan Pembatasan Aktivitas di Sekitar Gunung tanggal 17 April 2026.

Dalam surat yang tunjukkan kepada Pemerintah Desa Ruko dan Pemerintah Desa Mamuya tersebut, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Halmahera Utara, Muh Asri TapiTapi, SE,.. MMA , menyampaikan, Dalam rangka menjaga keselamatan masyarakat dan wisatawan, serta menindaklanjuti informasi resmi dari PGA (Pos Pengamatan Gunung Api) terkait peningkatan aktivitas vulkanik dengan status Level II (Waspada) yang ditandai dengan adanya abu vulkanik, maka dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut :

Pertama,Terhitung mulai tanggal 17 April 2026, seluruh aktivitas pendakian gunung di Kawasan Gunung Dukono DITUTUP TOTAL hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian.

Lalu yang kedua,Kepada seluruh pengelola dan pihak terkait agar tidak memberikan izin pendakian selama masa penutupan berlangsung.

Yang selanjutnya, Wisatawan dan Masyarakat setempat dihimbau untuk tidak melakukan aktivitas pendakian dan mendekati kawah di dalam radius 4 km demi keselamatan bersama.

Demikian himbauan ini disampaikan untuk dipatuhi dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Atas perhatian dan kerja samanya diucapakan terima kasih, tutup surat yang ditembuskan kepada Bupati Halmahera Utara; Wakil Bupati Halmahera Utara; Sekretaris Daerah Kabupaten Halmahera Utara, itu.

Daryono : “Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana”

Menyikapi hal tersebut Dr. Daryono Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) menyampaikan pandangannya.

Erupsi Gunung Dukono hari ini (8/5) kembali menunjukkan bahwa gunung api aktif tidak pernah bisa diperlakukan sebagai ruang wisata biasa. Dua warga negara asing dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan lainnya harus dievakuasi dari kawasan berbahaya,kata Daryono melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi persuasi-news.com Pada hari ini Jumat (8/5/2026).

Dukono adalah gunung dengan aktivitas erupsi yang nyaris terus-menerus, sehingga setiap pelanggaran radius bahaya selalu mengandung risiko fatal. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari dampak infodemik kebencanaan, ungkap Daryono.

Dr. Daryono, (wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI))

Dirinya Melanjutkan, Di media sosial, publik lebih sering melihat video pendaki atau influencer yang berhasil naik lalu pulang dengan selamat. Konten seperti itu perlahan membentuk distorsi persepsi risiko. Orang menjadi merasa aman bukan karena kondisi gunung benar-benar aman, tetapi karena melihat orang lain tampak baik-baik saja di dalam video.

Padahal dalam ilmu kebencanaan, keselamatan sebagian orang tidak pernah dapat dijadikan dasar untuk menilai tingkat bahaya. Fenomena ini dikenal sebagai survivorship bias. Publik hanya melihat mereka yang berhasil turun dan mengunggah konten dramatis, sementara potensi ancaman yang tidak terjadi saat itu menjadi tidak terlihat, kata pria yang biasa disapa “Pak Dar” dikalangan wartawan itu.

Bahaya sebenarnya tetap ada dan bisa muncul sewaktu-waktu dalam bentuk lontaran material pijar, hujan abu pekat, gas vulkanik, maupun erupsi eksplosif mendadak, pungkas Pak Dar.

Inilah wajah infodemik dalam mitigasi bencana: ketika informasi viral lebih dominan daripada informasi resmi yang dapat dipertanggungjawabkan dari otoritas kebencanaan terkait. Akibatnya, rekomendasi ilmiah untuk keselamatan masyarakat dianggap berlebihan, sementara konten media sosial justru dijadikan acuan keselamatan, ujar dia.

Tragedi Dukono hari ini menjadi pengingat bahwa alam tidak pernah tunduk pada popularitas influencer, dan video “selamat mendaki” tidak pernah cukup untuk membatalkan risiko bencana, tutup Dr. Daryono yang juga permerhati Gempabumi .

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button