HWA HA HA…EGGI DI TEPI JURANG
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 13 Januari 2026
Ketika dibuat artikel berjudul “Eggi Di Simpang Jalan ?” beragam komentar muncul di wa yang pada umumnya sinis dan mempertanyakan maksud Eggi dan DHL sowan ke tempat kediaman Jokowi di Solo. Diantara komentar “nyelekit” ada kalimat “kapan lurusnya, kok di simpang ?” atau “bukan di simpang, tetapi di tepi jurang”. Yang lebih keras dan tajam juga ada. Tapi semua tentu tidak ditanggapi, karena namanya juga komentar.
Esensi dari tulisan adalah agar Eggi dapat segera menyampaikan klarifikasi atas pertemuan kejutan dengan Jokowi di tengah lemparan atau tebaran diskursus pemaafan untuk sebagian Tersangka yang ia laporkan di Polda Metro Jaya. Klarifikasi jangan terlalu lama karena itu dapat membuat Eggi di simpang jalan yakni antara tuduhan pengkhianatan atau pemulihan kepercayaan.
Pada 12 Januari pada hari tulisan dimuat berbagai media tersebut, tiba-tiba sore hari muncul dan tersebar Pernyataan Sikap Ketum TPUA yang menyebut dirinya BES (Bang ?) Eggi Sudjana yang isi utamanya memecat beberapa orang dari pengurus dan rekanan TPUA atas dasar hak prerogatif Ketua Umum. Mereka yang dipecat adalah Azzam Khan, Muslim Arbi, Izmar, Kurnia Rayani, Rizal Fadillah, dan Rustam Effendi.
Ketika membaca Pernyataan Sikap Ketum tentang pemecatan, langsung respons hati tertawa geli dan merenung oh ini jawaban klarifikasi awal rupanya. Tertawa geli karena dipecatnya oleh Eggi eh BES atas nama hak prerogatif ketum. Darimana ya dapat hak itu ? Mungkin wangsit Solo. Dunia tahu yang begitu tuh egois atau keakuan alias otoriter, “kumaha aing” he he he.
Klarifikasi awal adalah bahwa memang pertemuan Solo dengan Jokowi merupakan inisiatif sendiri atau berdua, bukan TPUA karena “Tim” nyatanya dibantai dengan pemecatan. Sowan Jokowi sebagai pertemuan kedua atas pertemuan TPUA 16 April 2025 lalu mengada-ada dan hanya karangan alasan. Beda misi dan cara dengan yang dulu, bro.
Dipecat oleh Eggi dari TPUA sangat membahagiakan bukan karena akan dapat pesangon tetapi Eggi telah melepaskan para pecatan dari dosa kenistaan pertemuan merengek-rengek berbaju nasehat Musa Harun ke Fir’aun. Itu menista ayat. Kedua utusan Allah itu membawa misi pembebasan kaum tertindas “fa arsil ma’anaa banii isrooil” bukan kepentingan pribadi apalagi untuk menerapkan “restorative justice”.
Bang Eggi Sudjana (BES) sebaiknya fokus saja pada penyembuhan sakit, lebih mendekat diri pada Allah, lepaskan dunia yang tidak pernah memuaskan, serta waspada akan akhir yang buruk (su’ul khotimah). Sowan ke Jokowi kemarin adalah fitnah. Terbayang akan sulit untuk klarifikasi selain tembak sana tembak sini. Pecat sana dan pecat sini.
Kasihan Eggi berada di tepi jurang. Seorang ulama berkomentar sambil bercanda setelah masuk jurang lalu kelelep dalam tumpukan sampah.
Nasehat untuk Bang Egi Sudjana (BES) kembalilah ke jalan yang benar. Takutlah pada Allah yang dapat membolakbalikkan hati. Bukankah kita selalu berdo’a :
“Robbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hablanaa min ladunka rahmatan innaka antal wahhab” QS Ali Imran 8.
Salam.




