Jakarta, 8 November 2025
Ledakan SMA 72 Jakarta bukan aksi terorisme, jangan Jumping Conclusion,hal tersebut dikatakan oleh Harits Abu Ulya pengamat terorisme yang juga merupakan Direktur CIIA (The Community of ideological Islamic Analyst).
Publik tidak terburu-buru menyimpulkan peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara sebagai aksi terorisme,kata Harits Abu Ulya sebagimana keterangan tertulisnya pada Sabtu (8/11/2025).
Dirinya melanjutkan, Kita harus hati-hati, jangan sampai jumping conclusion. Terlalu jauh kalau langsung dikaitkan dengan jaringan terorisme. Harus dilihat dulu motifnya.
Dari sejumlah indikasi yang beredar, termasuk dugaan bahwa pelaku merupakan korban perundungan (bullying), peristiwa itu lebih mengarah pada aksi balas dendam personal ketimbang serangan yang terencana oleh jaringan ekstrem, ungkapnya.
Saat ini generasi muda sangat intens mengakses informasi ekstrem melalui internet, sehingga mudah terinspirasi oleh simbol-simbol kekerasan tanpa memahami konteks ideologinya, ujar Harits.
Dirinya menambahkan, Anak-anak mudah terinspirasi dari berbagai sumber di internet, bahkan dari konten ekstrem seperti kasus ultra-Nazi. Tapi itu bukan berarti mereka otomatis terpapar ideologi terorisme. Pengaruhnya lebih ke arah pembentukan persepsi kekuatan diri
Indikasi terorisme selalu mengandung motif ideologis dan politik yang jelas, bukan tindakan spontan karena masalah pribadi, tegasnya.
Kalau bicara terorisme, ada motif ideologi dan politik di baliknya. Bukan karena perundungan atau dendam pribadi. Jadi, jangan semua aksi kekerasan langsung dibingkai sebagai teror, tutup dia.



