TRITUNGGAL OPOSISI PRABOWO
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 26 Juli 2026
Semakin jelas pihak yang memiliki kepentingan untuk mengambil alih pengaruh politik atas kekuasaan penuh Presiden Prabowo. Di tengah kelemahan kepemimpinan Prabowo dalam mengelola negara, terdapat kekuatan yang siap melakukan kudeta senyap. Oposisi tidak selalu berada di depan tetapi dapat di samping atau di dalam.
Prabowo tidak perlu jualan operasi Sandi Yudha untuk menundukkan lawan, yang kini diperlukan adalah tindakan nyata. Sebelum semua terlambat akibat penyakit pikun politik yang semakin parah.
Musuh dalam selimut merupakan pengkhianatan dari orang yang dikenal, teman, kepercayaan, atau anak asuhan. Pengkhianatan guru juga ada meski itu pasti guru imitasi.
Tritunggal oposisi yang dihadapi Prabowo jika tidak ditindak akan segera memberangus dan menenggelamkannya. Ketiganya adalah :
LISTYO SIGIT PRABOWO
Kapolri protektor Presiden terdahulu menjadi ancaman serius. Meski sudah dihargai dengan bintang dan jaminan perpanjangan masa jabatan, bahkan institusinya dijadikan anak emas pengelola proyek unggulan, ternyata masih saja berani melawan dan membangkang. Kerusuhan Agustus 2025 ajang uji coba kekuatan dan rongrongan kewibawaan. Reformasi Kepolisian canangan Presiden sukses digagalkan. Listyo Sigit menyatakan siap bertarung hingga titik darah penghabisan.
Menyabotase operasi pembenahan kawasan hutan dan pertambangan lewat konflik Kepolisian dan Kejaksaan. Balas membalas yang memojokkan pengambil keputusan. Komando dibuat lumpuh dan borok-borok dibuka agar publik menghukum ketidakberesan dan ketidakbecusan. Listyo mencoba mengunci, sementara Prabowo hanya bisa jengkel dan teriak-teriak. Ia dipermainkan oleh bawahan yang berperan sebagai atasan.
GIBRAN RAKABUMING RAKA
Bocil yang duduk nyaman di kursi Wapres cukup diam, lugu, dan berakting playing victim. Memposisikan diri sebagai korban yang tidak diberdayakan tapi jeli memanfaatkan keadaan. Ketika demo buruh mengguncang, elemen ojol buatan menghadap. Saat mahasiswa berunjuk rasa, demonstran jadi-jadian berjas almamater berkonsolidasi di Istana.
Waktu rapat paripurna Gibran ditempatkan sejajar dengan Menko. Mencitrakan figur yang dipinggirkan sekaligus memposisikan diri sebagai komandan pasukan yang langsung berhadapan dengan Presiden sendirian. Gibran cari peluang untuk dapat segera naik. Prabowo berhalangan tetap, maka beres urusan. Celingak celinguk sambil tunggu kesempatan. Bocil itu ingin segera menjadi raja.
JOKO WIDODO
Sang begawan berijazah palsu berupaya membangun politik dinasti. Menunggangi gajah mengobrak-abrik daerah. Menebus dosa dengan dosa baru yang berbayar. Uang haram disebar untuk memanipulasi wibawa dan menggendong putera serta keluarga. Pendidikan dipersetankan karena yang signifikan adalah permainan. Baginya dewa katak perusak itu sembahan.
Klenik menjadi pegangan, tak peduli dengan tumbal yang bergelimpangan. Wajah memelas tapi kejam dan tidak mengenal welas. Turun tahta bukan mencari ketenangan jiwa, melainkan bersafari dari goa ke goa lalu keluar berburu kuasa dan harta.Tidak takut pada Tuhan karena Tuhan menurutnya hanya bayang-bayang yang bisa dibohongi. Gelar palsu dibicarakan sampai Antartika. Dan yang pasti asli hanya gelar “Putera Kebohongan Indonesia (PKI)”.
Listyo, Gibran, dan Jokowi adalah tritunggal yang mesti diantisipasi. Konkritnya ganti Listyo Sigit, makzulkan Gibran, tangkap dan adili Jokowi. Prabowo harus berani dan jangan hanya omon-omon. Jika membiarkan atau mengambangkan maka Prabowo akan masuk pula dalam tuntutan pemakzulan. Paketnya adalah caturtunggal oposan rakyat, yakni Listyo, Gibran, Jokowi, dan Prabowo.
Nanti baru disadari bahwa Tuhan bukanlah bayang-bayang yang bisa dibohongi, tetapi Dia itu Maha Raja dan Maha Kuasa yang dapat segera menghancurkan keempatnya.




