UGM MENCIPTAKAN RAJA PALSU
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 6 September 2026
UGM kampus ternama, bergengsi, dan dinilai berkualitas di Indonesia. Ternyata atas kasus dugaan ijazah palsu Joko Widodo tiba-tiba anjlok menjadi murahan bahkan mengalami defisit nilai dalam kepercayaan publik. UGM dibicarakan dimana-mana bukan karena kehebatan dan keteguhannya, melainkan atas kerapuhan pimpinan dalam melindungi seseorang yang diragukan kejujuran akademiknya. Orang itu seolah menghancurkan UGM sesadis membantai 6 syuhada KM 50 dan membunuh 900 an petugas Pemilu 2019.
Dibalik bayang-bayang peran mantan rektor UGM Pratikno yang nakal bahkan jahat, ijazah Joko Widodo mantan Presiden RI disembunyikan dalam bingkai keaslian. Hanya bingkainya yang asli tapi isi dalam bingkai itu nyata palsu. Ova Emilia rektor UGM saat ini sibuk menjalankan misi Pratikno untuk membohongi publik dengan narasi tanpa bukti. Ova vokalis yang sedang menyanyikan lagu kebodohan bangsa. UGM melempar dadu perjudian akademik.
Putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) yang menyidangkan sengketa informasi antara Bonjowi melawan UGM dimenangkan Bonjowi. UGM diperintahkan untuk membuka sejumlah dokumen antara lain ijazah, skripsi, data KRS, KKN dan lainnya karena dokumen atau data tersebut adalah informasi terbuka. Jokowi itu mantan pejabat publik. Alih-alih menuruti perintah Majelis, UGM malah melawan dengan mengajukan banding melalui PTUN. Sialnya UGM kalah, Putusan KIP dikuatkan.
UGM tetap berupaya untuk menutupi data dokumen milik Jokowi. Lembaga ini mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Kini Putusan MA sedang ditunggu bukan saja oleh Bonjowi tetapi juga oleh seluruh rakyat Indonesia. Kepalsuan dokumen Jokowi tentang perkuliahan di UGM akan segera terbukti. Tidak terlihat tanda kualifikasi bahwa Jokowi adalah lulusan Fakultas Kehutanan UGM. Diduga yang bersangkutan hanya berkuliah sampai Sarjana Muda, bahkan mungkin tidak pernah kuliah. Ijazah SMA nya pun dipertanyakan.
Jika Putusan MA nantinya kembali menguatkan Putusan KIP, maka hancurlah UGM. UGM terpaksa harus jujur untuk membuka semua dokumen ke(tidak)layakan Jokowi menyandang gelar insinyur. Status Sarjana UGM nya abal-abal atau palsu. Dokumen persyaratan yang digunakan untuk menjadi Walikota Surakarta, Gubernur DKI, dan Presiden RI dua periode, menjadi tidak sah. Jokowi adalah Walikota, Gubernur, dan Presiden palsu yang terbuat dari kayu. Ia boneka politik yang lebih cocok menjadi Dukun ketimbang Walikota, Gubernur, apalagi Presiden.
Jokowi telah membuat UGM hancur. Rektor Ova Emilia harus mundur dan mantan Rektor Pratikno mesti dihukum. Jokowi tidak bisa sembunyi lagi. Ia menjadi manusia yang pantas dikutuk menjadi kayu. Membuat bid’ah Jurusan Teknologi Kayu di Fakultas Kehutanan. Dengan seringainya cocok diabadikan sebagai patung batu di atas kolam yang penuh dengan katak.
Kisah “Frogman from Surakarta” bagus dibuat buku atau film untuk menjadi pelajaran penting bagi anak-anak sekolah agar kelak tidak ada seorangpun dari anak Indonesia yang menginginkan menjadi raja kodok kayu, berbaju putih dan berhati abu-abu, serta bermahkota batu.
Raja itu menyukai hal yang serba palsu dan memang ia ahli dalam tipu-tipu.
UGM pun tertipu dan terpaksa harus melawan rakyat demi membela sang raja palsu itu.




