Opini

SAFARI SEPI DAN TRAGEDI JOKOWI

Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)

Bandung, 29 September 2026

Safari yang disangkanya heroik datang ke Bandung dan Bekasi ternyata cuma bisa pamer kartu PSI. Alih-alih disambut hangat oleh masyarakat, Jokowi ternyata cuma diteriaki kader peserta Rakorda tingkat Kota. Mantan Presiden  hanya setara dengan Ketua DPD yang memberi sambutan. Tidak ada kharisma, tidak ada gegap gempita, tidak ada apa-apa.

Aktivis yang dahulu berdemo di depan DPRD yang siap menolak kampanye terselubung Jokowi pun merasa buang enerji jika harus mendemo kembali. Terlalu besar Jokowi jika diramaikan, memang ia sudah kecil dan harus dibuat sepi. Angin Bandung pun enggan untuk mendekat. Api Bandung tidak perlu membakarnya, Jokowi sudah terbakar oleh kepalsuan dan kebodohannya sendiri. Kartu yang diacung-acungkan adalah kartu merah untuk masa depan diri dan keluarganya.

Dikira ia masih dielu-elukan sebagai raja, nyatanya hanya sampah buangan rakyat. Sulit come back menjadi figur. Ijazah palsu Jokowi dan Gibran yang terus dimasalahkan memberangus nyali dan harga diri. Bandung adalah ladang pembantaian bagi Jokowi. KDM sang Gubernur yang digadang-gadang berpaket dengan Gibran untuk Pilpres 2029 pun ternyata sembunyi takut dipotret publik ada di dekatnya. Takut pula dipelototi Nyi Roro Wowo. Jokowi itu penyakit menular yang harus dijauhi.

Ketika Gibran sulit menghindar dari kecacatan akademiknya, maka borok akademik Jokowi akan segera terbuka. Pojok Pasar Pramuka yang dibakar untuk menghilangkan jejak pemalsuan akan marah dan balas membakar kebohongan brutalnya. Salinan ijazah yang digunakan untuk mendaftar menjadi Walikota, Gubernur, dan Presiden itu semua palsu. Pasar Pramuka telah sangat siap untuk hadir sebagai saksi penentu.

Bandung bukan tempat nyaman untuk Jokowi bermimpi. Begitu juga dengan Bekasi. Saatnya Jokowi bersemedi di Gunung Kawi. Merenungi perilaku jahat yang telah merusak negeri. Tidak berguna loncat sana loncat sini.  Modal sosial yang dimiliki terus menipis dan segera habis. Mahkota raja yang disematkan terbuat dari kertas yang mudah robek. Mahkota itu jelas palsu. Sang raja badut semakin kalut dan kusut.

Tidak ada safari yang sukses. Lampung diprotes pemangku adat asli, begitu juga NTT. Cirebon cuma sunatan. Bandung dan Bekasi di ruang sempit PSI. Teriakan bahwai PSI akan jadi partai besar, besar dari hongkong, bro. Kaesang ketua kecil, Gibran wapres bocil, Jokowi berjiwa kerdil. PSI dulu partai muda-mudi usil, kini partai orang tua unyil. Dulu wow..gokil, kini hi hi agak dekil.

Jokowi ingin menguasai PDIP ternyata tidak berhasil, merebut Golkar melalui Bahlil juga nihil, kini acung kartu PSI partai anaknya sendiri. Lumayan nyicil.
Tapi jangan salah ketika Gibran ambruk diketuk MK, maka Jokowi akan terpuruk diburu Polda. Lalu kemana Kaesang ? Terpaksa sembunyi kembali di balik usaha olahan nugget pisang.
Sang pisang.

Safari sepi, Jokowi bakal menuai tragedi. Tidak ada kekuasaan yang abadi, meski ia terus mencari dan mencari. Sampai mati di pinggir kali atau di rumah sendiri. Takdir buruk segera menghakimi bagi orang yang menuhankan ambisi.

Kisah tragedi memang menyayat hati.
Apalagi kepada Jokowi yang kaya materi tapi miskin nurani dan empati.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button