OpiniPeristiwa

MEMAHAMI SESAR NAIK FLORES

Oleh Dr. DARYONO (Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI)

Jakarta, 15 Agustus 2026

GEMPA kuat dengan magnitudo Mw 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) hari ini Sabtu, 15 Agustus 2026, pukul 04:58:23 WIB. Berdasarkan analisis awal, pusat gempa berkedalaman dangkal sekitar 15 kilometer, yang menyebabkan guncangan terasa sangat kuat. Laporan awal mengindikasikan dampak kerusakan yang signifikan pada bangunan rumah dan infrastruktur di area terdampak, serta telah memicu munculnya tsunami minor di sepanjang pesisir utara Flores dan Kepulauan Selayar.

Karakteristik pembangkit gempa hari ini sangat identik dengan mekanisme utama Flores Back-Arc Thrust (Sesar Naik Belakang Busur Flores atau Sesar Naik Flores). Patahan aktif yang membentang di perairan utara Bali, Nusa Tenggara, hingga Wetar ini terbentuk akibat kompresi gaya tektonik dari penunjaman Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia. Kedalaman hiposenter yang sangat dangkal (15 km) dipadukan dengan mekanisme patahan naik (thrust faulting) di dasar laut merupakan kombinasi klasik yang tidak hanya memicu destruksi hebat akibat guncangan tanah, tetapi juga deformasi vertikal dasar laut yang langsung membangkitkan tsunami.

Wilayah Flores memang berada pada zona kerentanan tinggi terhadap aktivitas sesar ini. Akumulasi regangan (strain rate) pada segmen Flores Back Arc Thrust yang terus terkunci selama bertahun-tahun menyimpan energi potensial besar yang dilepaskan secara mendadak. Pelepasan energi sebesar M 7,7 hari ini mengonfirmasi estimasi potensi magnitudo maksimum segmen back-arc thrust daerah ini yaitu Flores Back Arc Thrust Nusa Tenggara Barat M7,8 yang dampaknya merusak dan berpotensi tsunami.

Di kalangan para ahli kebumian, gempa yang terjadi di utara Flores ini bukan hal aneh. Secara tektonik, letak Pulau Flores sangat dekat dengan jalur Sesar Naik Flores. Sesar ini cukup sering memicu gempa besar. Mengingat perannya sebagai pembangkit serangkaian gempa di Flores dan sekitarnya, penting bagi kita untuk mengenal Sesar Naik Flores ini.

Secara tektonik, sesar naik busur belakang merupakan fenomena yang sering ditemukan di belakang zona subduksi lempeng. Sesar Naik Flores terbentuk sebagai reaksi terhadap tekanan yang timbul pada busur Bali dan Nusa Tenggara akibat tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Jalur sesar aktif yang disebut Flores Back Arc Thrust ini berada di dasar laut.

Warren B Hamilton, pakar geologi-tektonik Amerika Serikat, adalah orang pertama yang meneliti kondisi tektonik Laut Flores menggunakan data profil refleksi. Dalam bukunya, Tectonic of The Indonesia Region, yang terbit 1979, Hamilton mengungkap temuan penting keberadaan sesar di utara Sumbawa hingga Flores yang dikenal sebagai sesar busur belakang (back arc).

Eli A Silver dari University of California Santa Cruz melanjutkan penelitian dengan ekspedisi bahari untuk mendapatkan profil refleksi busur belakang Flores. Ia memperkirakan, sesar busur belakang berlanjut hingga Cekungan Bali di Laut Bali.

Hasil riset yang dipublikasikan pada 1986 berjudul Multibeam Study of the Flores Back Arc Thrust Belt menggambarkan dengan jelas anatomi kerak bumi dan memetakan jalur Sesar Naik Flores di dasar laut. Temuan penting lain adalah bidang sesar bagian utara menyusup ke bawah bidang sesar bagian selatan.

Beberapa peneliti lain berupaya membuktikan bahwa Sesar Naik Flores sudah mencapai utara Bali-Lombok. Hasil penelitian Robert McCaffrey dan John L Nabelek pada 1987 terhadap beberapa gempa signifikan di utara Bali menunjukkan ada patahan naik dengan bidang deformasi yang mengarah utara-selatan.

Studi gempa lokal dan mekanisme pusat gempa menggunakan jaringan seismik digital pertama kali dilakukan Masturyono (1994) dan Daryono (2000). Hasil studi ini juga menunjukkan aktivitas gempa dan bidang sesar yang memiliki kemiripan dengan Sesar Naik Flores. Indikasi kuat kehadiran Sesar Naik Flores di utara Bali sebenarnya sudah diketahui sejak peristiwa gempa Seririt berkekuatan M 6,6 pada 14 Juli 1976.

Laju pergeseran beberapa segmen Sesar Naik Flores cukup aktif. Berdasarkan data dari buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 yang diterbitkan Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), segmen sesar paling barat ialah Segmen Bali yang memiliki laju pergeseran 6,9 mm per tahun dengan magnitudo maksimum 7,4. Segmen Lombok-Sumbawa laju pergeseran 9,9 mm per tahun dengan magnitudo maksimum 8,0.

Sementara Segmen Sesar Naik Flores Barat laju pergeseran 11,6 mm per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5. Adapun untuk Segmen Sesar Naik Flores Tengah laju pergeseran 11,6 mm per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5. Terakhir adalah Segmen Sesar Naik Flores Timur dengan laju pergeseran 5,6 mm per tahun dengan magnitudo maksimum 7,5.

Hasil analisis sementara terhadap data Gempa Flores hari ini menunjukkan ada keterkaitan erat dengan aktivitas Sesar Naik Flores. Data sebaran episentrum gempa utama, dan susulan membentuk kluster pada arah barat-timur paralel dengan jalur Sesar Naik Flores.

Data aktivitas gempa signifikan di Flores menunjukkan mekanisme sesar naik dengan sudut kemiringan sesar ke arah selatan. Semua aktivitas gempa menunjukkan kaitan erat dengan aktivitas Sesar Naik Flores.

Setidaknya, Sesar Naik Flores pernah memicu 5 gempa kuat dan sebagian diantaranya memicu tsunami pada busur Bali dan Nusa Tenggara. Catatan tertua adalah gempa berkekuatan M 7,0 yang memicu tsunami di Bali utara dan Lombok pada 22 November 1815. Lalu, gempa kuat M 7,5 di Bima pada 28 November 1836. Gempa M 7,0 juga memicu tsunami di Bali dan Lombok pada 13 Mei 1857.

Selanjutnya, gempa dahsyat berkekuatan M 6,6 mengguncang Seririt, Bali, pada 14 Juli 1976. Parameter tercatat dengan baik karena saat itu kita sudah memiliki jaringan seismograf. Gempa Seririt merusak 67.419 rumah dan menelan korban jiwa 559 orang di Bali.

Berikutnya gempa Flores, 12 Desember 1992, berkekuatan M 7,8 memicu tsunami dan menelan korban jiwa lebih dari 2.500 orang. Terakhir adalah gempa kuat di Lombok yang masih terjadi gempa susulannya.

Catatan gempa kuat dan tsunami masa lalu di atas menjadi bukti akan aktifnya Sesar Naik Flores. Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen.

Pelajaran dari peristiwa Gempa Flores hari ini menjadi dasar menata strategi mitigasi ke depan. Korban luka dan meninggal ternyata bukan disebabkan oleh gempa, melainkan akibat bangunan roboh menimpa korbannya.

Melihat banyaknya bangunan rumah yang rusak, penting ada upaya nyata dan serius dalam merealisasikan bangunan tahan dan aman gempa. Jika tidak, setiap terjadi gempa kuat, masyarakat akan terus menjadi korban.

Kapan akan terjadi gempa, kita belum mampu memprediksi, tetapi kita harus siap menghadapinya. Sosialisasi mitigasi, edukasi dan mewujudkan Upaya nyata mitigasi gempa harus terus dilakukan secara berkesinambungan agar kita dapat hidup harmoni dengan alam.***

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button