PRABOWO GAK COCOK JADI PRESIDEN
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 16 Agustus 2026
Benar saja pidato kenegaraan 14 Agustus 2026 ternyata konstan kontroversial. Ada saja narasi blunder di luar teks. Celetukan yang menimbulkan kegaduhan sekarang ialah soal memperkenalkan seorang ibu yang pekerjaannya mengupas bawang berpendapatan 700 ribu/Kg. Dunia tertawa atas keterlaluan seorang Presiden itu. Menteri Pertanian pun harus meluruskannya..
Sudah banyak warning agar lebih berhati-hati dalam berpidato. Data mesti valid dan jangan terbuai dengan improvisasi. Namun bagai keledai yang terperosok ke lubang yang sama, Prabowo mengulangi kesalahannya. Sebelumnya ia pernah berpidato dengan menunjukkan pengusaha penggilingan padi yang memperoleh keuntungan 2 trilyun rupiah per bulan. Antartika pun kaget.
Pidato puji, kebanggaan serta manfaat MBG juga belepotan disamping katanya “menanam lele” dijual, juga “menanam telor” hidup. Becanda warga menanam satu butir telur di tanah lalu jadi anak ayam hidup. Dulu 10+2 = 13 dan 10 +6 = 17, menyebut jurnalis sebagai “londo ireng”, serta pengkritik dengan narasi negatif agar kabur saja ke Yaman. Ingin mati membela rakyat, tapi takut setengah mati kepada Jokowi dan setengahnya lagi pada Listyo Sigit.
Penghematan dengan penggendutan kabinet, berantas korupsi melalui jaringan SPPG yang rentan korupsi, koperasi yang seharusnya bottom up justru dibentuk dari atas dan berbiaya raksasa, apa yang terbersit dalam otaknya segera dijadikan proyek seperti Sekolah Rakyat dan URI. Prabowo tidak mampu mrmbuat perencanaan matang. Bagai hidup dari ilusi, halusinasi, dan orasi-orasi.
Tangan kiri melawan oligarki, tangan kanan merangkulnya. Polisi harus direformasi tetapi Kapolri susah untuk diganti. Apa yang akan dibasmi jika pelaku korupsi dimaafkan asal mengembalikan uang hasil korupsi ? Melanggar konstitusi dengan membuat perjanjian luar negeri semaunya sendiri. Abu abu dan bolak balik blok Amerika-Israel dan Rusia-China. Kelak Prabowo bisa digilas oleh keduanya.
Prabowo gak cocok jadi Presiden. Lebih mulia dan terhormat kalah dicurangi ketimbang menang dengan curang. Menggembol anak kecil sebagai upeti untuk bapak. Menang sebagai pecundang adalah strategi yang bersandar apologi. Rakyat pun dipaksa harus mengerti. Walau sakit hati.
Prabowo lebih cocok menjadi pensiunan yang berbisnis. Mengabdi pada rakyat di ruang filantropis dan mati dengan kemuliaan dalam watak populis.
Kini tidak perlu berisik dengan teriak ingin mati demi rakyat, cukup bukti menggendong anak kecil bersama mengundurkan diri.
Rakyat akan bahagia tanpa Prabowo harus mati. Rakyat justru sudah mati di bawah pemerintahan Prabowo bersama anak kecil yang menjadi penerus dinasti Jokowi.
Agustus adalah bulan kemerdekaan negeri, September bulan pengkhianatan PKI, dan Oktober bulan untuk mengakhiri kebodohan diri.
Saatnya rakyat berdaulat.




