BERESKAN EMPAT BIANG : JOKOWI, TITO, LISTYO, DAN LUHUT
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 8 Nopember 2026
Inilah wajah komando rezim Jokowi yang masih cawe-cawe pada rezim Prabowo. Jokowi adalah big boss berwajah dingin, berpenampilan sederhana, tetapi senyumnya adalah racun. Tito Karnavian mantan Kapolri yang disusupkan sebagai Mendagri menguasai jaringan Pemerintahan Daerah sampai Kecamatan dan Kelurahan/Desa.
Listyo baru saja membuat heboh dengan ditangkap akibat penyadapan. Kapolri pembangkang ini adalah operator lapangan yang berbahaya, nekad, dan memiliki pasukan. Bersiap menjadi komandan tani dan buruh, sesumbar akan demo-demo. Luhut sang aktor intelektual, mengkoordinasi oligarki bisnis sekaligus tangan kepentingan Jinping Cina. Ketua DEN rezim Prabowo ini berupaya lindungi koruptor dengan usul kontroversialnya.
Keempat biang kekacauan negara ini Jokowi, Tito, Listyo, dan Luhut harus segera dibereskan, dieliminasi, dan diberi sanksi atas segala perbuatannya. Mereka adalah begundal yang tidak boleh ada dalam rezim Prabowo dan rezim-rezim berikutnya. Kwartet Cina yang menjadi satelit Jinping ini merupakan protektor dari oligarki bisnis dan politik. Penjajah dan pemerkosa ibu pertiwi.
Prabowo mestinya sadar akan model para pengkhianat negeri. Bertidak tegas untuk melepas jasad dan bayang-bayang mereka. Berkompromi dengan alasan menjaga stabilitas dan persatuan itu bagus tetapi memelihara macan adalah bahaya. Mereka selalu mengendap-endap mencari kesempatan. Mencari data, menyusun peta, menggalang dana, serta menyiapkan kudeta. Gibran dimainkan sebagai boneka baru buatan Cina.
Menyadap Istana aman selama Listyo menjadi Kapolri dan mampu mengkonsolidasikan pasukan. Jika dikaitkan dengan peristiwa PKI 1965, Listyo ini adalah model dari komandan operasi Kolonel Untung, Jokowi itu DN Aidit, Luhut Sjam Kamaruzanan, dan Tito itu Njoto sang Menteri.
Operasi gagal karena Gibran di luar dugaan kursinya dibolongi MK dan MA. Ia tidak nyaman lagi duduk di singgasana. Empat biang mulai panik sehingga agenda pun belepotan. Amerika tak suka Cina berkuasa, penyadapan harus dibocorkan. Ia tentu membantu dalam menguak skandal. Indonesia memang rapuh.
PKI tidak boleh bangkit. Petinggi mereka yang seharusnya ada di Lubang Buaya bukan para Jenderal TNI. Penyadapan Istana adalah tahapan dari makar, nampaknya jaringan sudah luas baik di kalangan kepolisian, militer, partai politik, kementrian, pimpinan ormas, dan lainnya. Orang-orang dekat Presiden tidak terkecuali.
Mencegah kebangkitan PKI mulai dengan membereskan empat biang perusak negara dan bangsa saat ini, yakni Jokowi, Tito Karnavian, Listyo Sigit, dan Luhut Binsar Panjaitan. Sang duta besar Cina untuk Indonesia ini adalah biangnya dari biang atau biang kerok.
Aidit, Sjam, Untung, dan Njoto berakhir di tembus peluru pengkhianatan.



