Jakarta, 10 Juni 2026
Palung Cotabato adalah palung samudra di Samudra Pasifik , di lepas pantai barat daya Mindanao di Filipina . Di sepanjang palung ini, kerak samudra Lempeng Sunda di bawah Laut Celebes sedang mengalami subduksi di bawah Sabuk Bergerak Filipina . Palung ini merupakan bagian dari rangkaian palung yang saling terkait di sepanjang sisi barat Filipina yang terbentuk di atas zona subduksi yang miring ke timur, termasuk Palung Manila dan Palung Negros . Di ujung utaranya, laju konvergensi di sepanjang batas ini sekitar 100 mm per tahun. Palung ini merupakan struktur yang relatif muda, terbentuk selama Miosen akhir hingga Pliosen . Usia ini konsisten dengan perkiraan usia batuan sedimen di baji akresi yang terkait dengan palung dan usia batuan busur adakitik di Mindanao yang diperkirakan menandai awal subduksi.
Palung ini terkait dengan gempa bumi megathrust , termasuk gempa Laut Celebes tahun 1918 (M 8.3), gempa Teluk Moro tahun 1976 (M 8.0), gempa Mindanao tahun 2002 (M 7.5), dan gempa Mindanao tahun 2026 (M 7.8).
Untuk Lebih Jelas Terkait Palung Cotabato,anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), yang juga Pegiat mitigasi Bencana Dr. Daryono menyampaikan paparannya.

Gempa Bumi Dan Tsunami Teluk Moro tahun 1976
Megathrust Cotabato pernah memicu gempa dan tsunami dahsyat pada 17 Agustus 1976, pukul 00:11 waktu setempat. Pusat gempa di lepas pantai Selatan Mindanao, Filipina. Gempa ini berkekuatan Mw8,0 dengan kedalaman 20 km. Gempa ini memicu tsunami setinggi 9 m yang mengakibatkan sebagian besar dari perkiraan 5.000 hingga 8.000 korban jiwa meninggal. Ini adalah gempa paling dahsyat dan terkuat di Filipina. Peristiwa ini menjadi salah satu tsunami paling mematikan dalam sejarah Filipina, ungkap Daryono.


DINAMIKA SEISMOTEKTONIK TELUK MORO: DARI BENCANA 1976 HINGGA AKTIVITAS TERKINI
Wilayah Teluk Moro, yang terletak di selatan Filipina, merupakan salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik paling kompleks di dunia. Secara geologi dan tektonik, kawasan ini didominasi oleh Zona Subduksi Cotabato, sebuah sistem palung aktif di mana Lempeng Laut Sulawesi menunjam di bawah Lempeng Mikro Mindanao,kata Daryono melalui keterangan tertulisnya sebagaimana yang diterima redaksi persuasi-news.com pada hari ini Rabu (10/6/2026).

Tragedi Megathrust 1976
Gempa 17 Agustus 1976 Mw8,0 merupakan manifestasi pelepasan energi deformasi elastis yg masif akibat interaksi konvergensi lempeng. Sebagai gempa tipe megathrust yg bersumber pada sesar naik (thrust faulting), peristiwa ini menghasilkan dislokasi vertikal dasar laut yang signifikan, yang menjadi mekanisme pembangkit tsunami (tsunamigenik), terangnya.
Dirinya melanjukan, Karakteristik tsunami yang dihasilkan sangat destruktif karena lokasinya yang berada di perairan dangkal dan sempit di Teluk Moro. Kurangnya pemahaman mitigasi saat itu menyebabkan tingginya angka mortalitas; 90% korban jiwa disebabkan oleh tsunami, bukan guncangan gempa itu sendiri. Gelombang tsunami yg mencapai ketinggian hingga 9 meter di Lebak menunjukkan besarnya pergeseran vertikal kolom air akibat pergerakan thrusting tersebut.
Reaktivitas Zona Subduksi Cotabato
Setelah jeda seismik yang panjang pasca-1976, perhatian komunitas seismologi dunia kembali tertuju pada zona ini. Pertanyaan mengenai apakah sistem subduksi Cotabato masih aktif telah terjawab oleh deretan gempa bumi yang terjadi pada dekade terakhir,kata pria yang disapa Pak Dar dikalangan wartawan tersebut.
Pola Spasial dan Temporal. Gempa dengan magnitudo 6,8 pada tahun 2002 dan 2023 di sepanjang area yang bertumpang tindih dengan zona deformasi 1976 menunjukkan bahwa sistem ini secara konsisten mengalami akumulasi dan pelepasan tegangan (stress accumulation and release), tambah Pak Dar.
Peristiwa 8 Juni 2026. Gempa dengan magnitudo 7,8 yang terjadi baru-baru ini mempertegas urgensi pengamatan pada sistem ini. Berdasarkan analisis mekanisme sumber (focal mechanism) memiliki mekanisme sumber pergerakan naik (thrusting) konsisten dgn kompresi lempeng di zona subduksi Cotabato, pungkasnya.
Kedalaman hiposenter 35 km menempatkan gempa ini berada pada antarmuka lempeng (plate interface) yang aktif. Implikasi kedekatan episenter dengan pusat gempa 1976 mengindikasikan bahwa zona subduksi ini belum sepenuhnya melepaskan seluruh energi seismiknya atau mungkin mengalami re-rupture pada segmen yang berbeda, dalam hal ini sebelah timurnya.
Sintesis Seismologis
Secara seismologi, aktivitas yang meningkat di zona subduksi Cotabato menunjukkan bahwa wilayah ini berada dalam fase siklus gempa yang sangat aktif. Mekanisme thrusting yang dominan menjadikan wilayah ini secara inheren rentan terhadap tsunami, terutama mengingat batimetri Teluk Moro yang mendukung amplifikasi gelombang laut saat mendekati garis pantai, kata Alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) tahun 1993 itu
Kebutuhan akan sistem pemantauan seismik real-time dan protokol evakuasi dini yang berbasis pada pemodelan tsunami yang lebih akurat menjadi prioritas mutlak. Mengingat sejarah repetisi gempa besar di wilayah ini, mitigasi tidak boleh lagi hanya bersifat reaktif, melainkan harus berbasis pada pemahaman mendalam mengenai siklus seismik dan potensi energi yang masih tersimpan di sepanjang sistem Palung Cotabato, tutup pria kelahiran Semarang 55 tahun yang lalu tersebut.




