Dr. Daryono Sampaikan Sejumlah Fakta Gempa M6,7 Di Sulawesi Tengah
Jakarta, 17 Juni 2026
Sebagaimana diketahui, Hari Selasa (16/6/2026, pukul 10.27.45 WIB wilayah Palu, Sulawesi Tengah diguncang gempa bumi tektonik. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M6,7. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 1,03° LS ; 120,24° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 42 km tenggara Palu, Sulawesi Tengah pada kedalaman 10 km.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hingga Selasa (16/6/2026)pukul 19.00 WIB, satu warga dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Sigi, Selain adanya korban meninggal dunia, proses pendataan yang masih berlangsung juga menunjukkan peningkatan jumlah warga terdampak dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah. Hingga saat ini tercatat sekitar 110 kepala keluarga (KK) atau 312 jiwa terdampak akibat gempa. Sebanyak 25 warga mengalami luka ringan dan 13 warga mengalami luka berat, kata BNPB dalam siaran pers yang diterima oleh redaksi Persuasi-news.com pada Selasa (16/6/2026).
Terkait peristiwa tersebut, Dr. Daryono, yang merupakan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), menyampaikan analisanya.
Dalam keterangan tertulis yang diterima oleh redaksi Persuasi-news.com, pada hari Selasa (16/6/2026) dirinya mengatakan gempa di wilayah Palu, Sulawesi Tengah, diklasifikasikan sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Gempa ini lazimnya dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Kedalaman hiposenter yang dangkal menyebabkan atenuasi gelombang seismik yang minimal, sehingga konsentrasi pelepasan energi atau guncangan maksimum terkonsentrasi pada wilayah di sekitar episenter, mencakup Kabupaten Palu, Sigi, dan Parigi Moutong. Kondisi hiposenter yang dangkal tersebut memicu fenomena near-field effect yang sangat dominan, di mana amplitudo gelombang seismik tidak mengalami peredaman signifikan sebelum mencapai permukaan tanah. Hal ini diperparah oleh adanya kontras impedansi akustik yang tajam antara batuan dasar dengan lapisan sedimen lunak pengisi basin, yang memicu fenomena site amplification atau resonansi lokal, sehingga durasi dan intensitas guncangan pada periode tertentu menjadi jauh lebih destruktif bagi bangunan dengan frekuensi alami yang selaras.
Berlokasi di zona deformasi kompleks. Zona gempa ini dicirikan oleh interaksi berbagai sistem sesar aktif. Berdasarkan pemetaan tektonik, episenter gempa tersebut berada dalam zona pengaruh sistem sesar yang meliputi Sesar Sausu, Sesar Palolo, Sesar Malei, Sesar Parigi, Sesar Tokararu, Segmen Sesar Saluki, serta Lorelindu Fracture Zone. Interaksi sistem sesar yang masif ini merefleksikan rezim tektonik transisi yang sangat dinamis, di mana mekanisme strike-slip lateral dari Sesar Palu-Koro mengalami terminasi dan transfer tegangan ke arah timur melalui zona deformasi yang terfragmentasi. Fenomena ini mengindikasikan bahwa distribusi energi seismik tidak lagi terakomodasi secara linear, melainkan terbagi ke dalam pola stress partitioning yang rumit, sehingga menciptakan mekanisme sesar yang sangat beragam (mulai dari sesar normal hingga oblique) yang mampu memicu ruptur sekunder secara simultan di sepanjang koridor tektonik Palolo-Sausu, tutur Daryono.
Memiliki mekanisme turun (normal fault). Wilayah Palolo dan Sausu berada dalam zona tarikan (pull-apart) yang dipicu oleh dinamika Sesar Palu-Koro. Ketidaksempurnaan atau pembengkokan pada jalur sesar geser utama menyebabkan kerak bumi di area tersebut mengalami peregangan. Akibat peregangan ini, terbentuk sesar-sesar turun yang berfungsi mengompensasi tarikan tersebut. Sesar-sesar turun inilah yang menyebabkan amblesan pada permukaan bumi, sehingga terciptalah cekungan atau basin di zona tersebut yang kemudian terisi oleh sedimen. Interaksi mekanis ini menciptakan zona deformasi transtensial yang kompleks, di mana pelepasan tegangan tidak lagi didominasi oleh pergeseran lateral, melainkan terkonsentrasi pada rezim ekstensional yang memungkinkan terjadinya ruptur seismik dangkal dengan intensitas guncangan yang teramplifikasi secara lokal oleh geometri cekungan, pungkas pria yang biasa disapa “Pak Dar”, dikalangan awak media tersebut.
Lalu, gempa bersifat destruktif. BNPB melaporkan kerusakan akibat gempa terjadi pada 67 unit rumah, dengan rincian 26 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat. Kerusakan infrastruktur lainnya meliputi 6 fasilitas ibadah, 2 jembatan, 1 fasilitas umum, 2 gedung perkantoran, 3 tempat usaha, serta amblasnya ruas jalan penghubung Palu–Sigi–Poso. Kabupaten Sigi menjadi wilayah terdampak paling parah dengan total 47 unit rumah yang terdiri dari 23 rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 12 rusak berat, tambahnya.
Bagian dari sejarah gempa signifikan. Sejarah mencatat bahwa gempa berkekuatan M4,5 pernah terjadi di zona ini pada tahun 1983, disusul oleh gempa Palu-Poso berkekuatan M5,9 pada tahun 1995 yang mengakibatkan 26 orang mengalami luka-luka serta kerusakan pada 115 unit rumah di Kabupaten Parigi. Aktivitas seismik berlanjut dengan gempa berkekuatan M4,8 pada tahun 2005. Selain itu, gempa Palu-Poso dengan magnitudo M6,6 yang terjadi pada tahun 2017 menimbulkan dampak berupa 25 korban luka-luka dan kerusakan pada 348 bangunan, yang mencakup 168 rumah tinggal serta sejumlah sarana peribadatan. Rangkaian peristiwa tersebut mengindikasikan persistensi ancaman kegempaan yang memerlukan pemahaman komprehensif terkait karakteristik tektonik di kawasan ini, ungkap “Pak Dar”.
Memberi kewaspadaan terhadap sesar aktif. Dengan mengingat bahwa wilayah Sulawesi Tengah memiliki sistem sesar yang sangat aktif dan kompleks. Mitigasi tidak boleh hanya fokus pada zona sesar utama, tetapi juga pada percabangan sesar-sesar aktif di sekitarnya yang sering kali terabaikan namun berpotensi memicu guncangan hebat, tutup Pak Dar yang juga merupakan Pengiat mitigasi Bencana tersebut.




