Opini

Mengenang Abdullah Syarwani

Jakarta, 3 November 2026

Hari Senin tanggal 2 November 2026 persis saat ulang tahunnya ke 83,sahabat senior saya di LP3ES Abdullah Syarwani, mantan anggota DPR dari fraksi PPP dan mantan dubes Lebanon meninggal dunia. Abdullah Sjarwani tidak terlalu dikenal seperti Muhaimin atau Hamzah Haz, tetapi perjalannya dari dunia pesantren Tebuireng yang trasidional masuk ke pendidikan tinggi modern Universitas Gadjah Mada, kemudian nyemplung lingkungan dan gerakan intelektual LP3ES adalah perjalanan yang sangat menarik sebagai refleksi gerak vertikal kaum santri. Abdullah Syarwani bersahabat dengan Jimly Asshiddiqie sebagai peneliti dan dikenal sangat dekat dan bersahabat dengan tokoh besar mantan Wakil Presiden Hamzah Haz dan mantan Presiden Abdurrahman Wahid, Ungkap Didik J Rachbini yang merupakan Rektor Universitas Paramadina dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi persuasi-news.com pada hari ini Selasa (3/11/2026).

Pergulatannya di Jakarta kemudian memasuki gerakan masyarakat sipil, sampai di babak akhir karirnya harus memasuki dunia politik, menjadi anggota DPR dan diplomat.
Tulisan mengenang Sjarwani ini bukan sekadar sebagai tokoh dengan perjalanan karier yang panjang, melainkan sebagai representasi penting dari transformasi kaum santri Indonesia: dari pesantren tradisional menuju intelektual modern, aktivis masyarakat sipil, dan pelaku politik negara, ujarnya.

Dirinya melanjutkan, Menurut Fachry Ali sahabatnya di LP3ES, Karirnya sangat bersifat spesifik dan bahkan ‘eksotik’. Dari kaum santri masuk UGM pada. Akhir 1960-an merupakan generasi paling awal mencapai kesarjanaan dalam ilmu ‘sekular’. Menurut Cak Nur kaum santri pada saat itu masih jauh dari hirarkhi kesarjanaan. Tetapi pencapaian pendidikan Syarwani sampai menjadi sarjana hukum di Universitas Gajah Mada menjadi pelopor santri masuk universitas. Pencapaian itu jauh lebih awal sebelum generasi NU seperti Muhaimin Iskandar dan kawan-kawannya. Jadi, dari perspektif modernisasi kaum santri Abdullah Sjarwani adalah generasi santri pertama yang terdorong ke dalam proses modernisasi yang digerakkan Orde Baru (1967-98).

Dengan keberhasilan menyelesaikan pendidikan “sekuler”, maka Abdullah Syarwani kemudian masuk ke LP3ES, lembaga gerakan intelektual sipil dari sarjana kalangan abangan. Abdullah Syarwani kemudian menjadi Kepala Program Pengembangan Pesantren LP3ES. Kegiatannya, secara terus menerus masuk ke dalam gerakan civil society mitra pemerintah di Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) setelah selesai tugasnya di LP3ES. Sementara itu, kaum santri terdidik mulai banyak masuk LP3ES, seperti Fachry Ali, Ison Basyuni, dan lain-lain. Maka jadilah LP3ES lembaga dengan kebhinnekaan yang menarik karena bercampur kalangan santri dan kalangan sekuler, ujarnya.

Dirinya menambahkan, Lalu LP3ES sendiri mengarahkan programnya ke pesantren untuk menjadikan modernisasi bagi kalangan santri. Akhirnya pesntren sendiri menjadi lembaga yang aktif sebagai bagian paling aktif dari gerakan civil society. Banyaknya kaum santri yang masuk ke dalam pendidikan modern adalah bagian dari perjalanan, yang sudah dilewati oleh seorang yang bernama Abdullah Syarwani.

Perjalanan hidup dan pergerakan Abdullah Syarwani tidak menggelagar seperti tokoh-tokoh santri pada saat ini. Tetapi perjalanan hidupnya tidak hanya merupakan biografi pribadi, tetapi juga menjadi cermin perubahan besar dalam sejarah masyarakat Indonesia. Abdullah Sjarwani adalah salah seorang di antaranya, yang lahir dari kalangan santri masuk ke dalam pendidikan modern dan masuk ke dalam gerakan intelektual dan civil society. Perjalanan di akhir karirnya tidak lain adalah politik sebagai salah satu pimpinan PPP, menjadi anggota DPR dan duta besar di Lebanon, kata Didik.

Gerak dan mobilitas vertikal kaum santri dengan beda usia 20-30 tahun dari Abdullah Syarwani sudah sangat masih da tidak terbendung. Mereka masuk ke dalam dunia pendidikan, bidang politik, sosial dan banyak lagi. Yang menarik dari perjalanan hidupnya adalah refleksi yang mempertemukan dua dunia yang sering dianggap terpisah: tradisi keagamaan dan pendidikan modern, dunia pesantren dan dunia universitas, serta nilai-nilai keislaman dan gagasan modern pembangunan, tutup dia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button