Rismon Sinipar Sampaikan Permintaan Maaf Kepada Jokowi Dan Keluarganya
Rismon Sinipar Sampaikan Permintaan Maaf Kepada Jokowi Dan Keluarganya
Jakarta,12 Maret 2026
Hal tersebut disampaikan melalui video youtube yang berjudul Klarifikasi Rismon Sianipar terkait kajian ilmiah ijazah Joko Widodo! https://youtu.be/4IkAvxCEdLI pada Rabu, 11 Maret 2026
Saudara sebangsa dan setanah air, Saya Rismon Hasiholan Sianipar ingin memberikan klarifikasi seputar apa yang menjadi perkembangan akhir-akhir ini, kata dia.
Seperti yang kalian ketahui bahwa RRT, Roy, Rismon, dan Tifa itu menuliskan buku Jokowi’s White Paper, di mana 400 halaman lebih saya tuliskan dari 700 halaman tersebut. di buku tersebut dimana buku tersebut merupakan hasil kompilasi independen dari tulisan Pak Roy Suryo di bagian awal tulisan saya di bagian tengah maupun tulisan Bu Tifa di bagian akhir Masing-masing tidak ada ketergantungan, masing-masing melakukan penelitiannya secara independen,ungkapnya.
Dirinya melanjutkan, Karena independensi tersebut, maka saya sebagai peneliti secara terbuka mengatakan ada koreksi-koreksi akibat data yang tidak lengkap, akibat rotasi, atau translasi maupun resolusi pada data yang saya uji. Oleh karena itu, sebagai peneliti yang bertanggung jawab terhadap kebenaran dan hanya kebenaran ilmiah, seorang peneliti harus bersandar pada objektifitas dalam temuan-temuan dalam kerja-kerja ilmiahnya. Nah hal itulah yang mendasari saya untuk secara terbuka menyatakan bahwa ada kekeliruan, kesalahan akibat data yang lengkap meskipun menggunakan metodologi yang saya buat atau tuliskan dalam buku Jokowi’s White Paper. Kekeliruan tersebut Sebagai peneliti, harusnya secara terbuka, secara ikhlas, dan secara objektif harus saya nyatakan di sini. Oleh karena itu, temuan saya sebelumnya yang telah melukai, yang telah membuat commotion di dalam apa namanya, perkembangan kita akhir-akhir ini melukai keluarga Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri.
Saya sebagai peneliti menyatakan minta maaf secara gentleman kepada keluarga Bapak Jokowi,tegasnya.
Rismon menuturkan, Terkait dengan temuan-temuan saya yang baru, yang saya umumkan tadi sedikit, saya spil sedikit ketika berada di Polda Metro Jaya, memang temuan saya tersebut sebulan dua bulan terakhir ini saya kaji ulang dan kaji ulang terkait dengan sejumlah variabel geometri, yaitu translasi, rotasi dan pencahayaan dengan melibatkan variabel geometri maupun pencahayaan, saya mendapatkan temuan baru, saya mendapatkan kebenaran baru yang membuat saya gusar selama 1-2 bulan ini. Dengan melibatkan variabel-variabel tersebut, semua bisa terjawab bahwa memang apa yang saya analisa dan saya miss di situ terkait dengan watermarks dan terutama emboss itu memang ada di dalam dokumen tersebut. Saya uji dengan gradiens analisis dan uji-uji lainnya, metodologi-metodologi yang sama dalam buku JWP, tetapi dengan melibatkan variabel translasi, rotasi, maupun pencahayaan, akibat objek yang kita analisa itu terpengaruh oleh sejumlah operasi geometri maka temuan-temuan itu saya temukan dengan sangat teliti dan saya uji ulang uji ulang dalam 2 bulan terakhir ini terkait dengan watermarks terkait dengan emboss terkait dengan uji overlay terkait dengan uji overlapping dalam toleransi tertentu yang membuktikan autenticity dokumen menjadi tidak terbukti. Autenticity, maksudnya permasalahan autenticity keaslian dokumen itu secara digital forensik menjadi tidak terbukti dan menjanggah temuan saya di buku Jokowi’s White Paper, meskipun menggunakan puluhan metodologi-metodologi yang sama. Oleh karena itu, kepada mereka yang masih meragukan, yang mengatakan bahwa saya mundur, bahwa saya… apa namanya, dengan istilah-istilah kalian, saya nyatakan, saya siap membuktikan itu di dalam ruang-ruang akademik.
Karena itulah sebenarnya penelitian itu yang bersifat ongoing, yang bersifat progresif, yang bahkan itu bisa melukai, bahkan mengecewakan si penemunya itu sendiri. Tetapi dengan metodologi dan objektivitas penelitian, saya sudah ceritakan, saya sudah jelaskan kepada penyidik di Polda Metro Jaya, bahwa apa yang saya lakukan murni ilmiah tanpa motivasi politik, tanpa motivasi apapun, murni hanya politik, tegasnya.
Karena rasa ingin tahu saya sebagai peneliti di bidang digital image processing pada awal tahun 2025. Oleh karena itu, kepada saudara sebangsa dan setanah air, saya hanya apapun yang kalian nyatakan kepada saya, itu tidak lebih penting daripada objektivitas penelitian yang telah saya buktikan bahkan dengan puluhan metode untuk membuktikan ada tidaknya emboss di sana. Saya buktikan dengan puluhan metode ada watermarks di sana. Dengan efek pencahayaan, saya buktikan, saya rekonstruksi, bahwa lintasan stempel atau warna tertentu, akibat efek geometri maupun pencahayaan, itu bisa hilang dan tidak terdeteksi, ataupun menjadi samar. Itu sudah saya rekonstruksi. Jadi step penelitian, apapun hasilnya, kita tidak boleh berdasarkan suka atau tidak suka, berdasarkan bias, berdasarkan disukai atau tidak disukai. Tetapi saya hanya berpegang pada itu. Oleh karena itu, sekali lagi dan selalu saya nyatakan kepada penyidik juga, penelitian itu unbiased, ongoing, progressive. Jika ada temuan-temuan baru, maka kita harus secara jujur menyatakan bahwa itulah yang kita temukan. Bagi teman-teman yang menyaksikan, terutama Pak Roy Suryo, saya secara terbuka bisa mendemonstrasikan kepada mereka , Pak Rosyuryo, bahwa memang begini hasil rekonstruksi saya. Kita hanya berjalan sesuai dengan kebenaran ilmiah dari yang kita temukan. Apapun risikonya, apapun risikonya, saya katakan bahwa dalam hal ini kita tidak di…, Saya menemukan tidak ada keraguan dalam autentisiti dari dokumen ijasa yang di-upload oleh Saudara Dian Sandi Utama, tuturnya.
Oleh karena itu, Saudara-saudara sekalian, apapun label yang kalian berikan, tetapi saya memberikan otoritas mutlak kepada pengujian yang saya lakukan, temuan-temuan saya lakukan, saya cross-check Cross silang, periksa silang, periksa lagi. Dan itu sempat membuat saya tidak tidur temuan-temuan itu,ungkapnya.
Oleh karena itu, saya harus terbuka depan kalian dan siap untuk diuji bersama. Itulah penelitian itu, itulah pemikiran dari peneliti bahwa Temuan itu bisa berubah, bisa menegasikan berdasarkan data-data baru, berdasarkan metodologi-metodologi baru. Sebagai peneliti harus bisa menyatakan itu dan saya siap mempertanggung jawabkannya di depan ruang-ruang akademik maupun ruang-ruang penelitian,katanya lagi.
Oke, gitu dulu saudara sebangsa sertanah air. Meskipun ini menyakitkan kepada sebagian orang, tetapi kebenaran ilmiah harus kita junjung tinggi. Lepas dari rasa suka, tidak suka. Lepas dari disukai atau tidak disukai. Kebenaran ilmiah. Harus kita junjung tinggi Selamat malam Terima kasih ,Horas, Tutup Rismon.




