PeristiwaPress Reales

Aktivitas Gunungapi Slamet Meningkat, Kemungkinan Terjadinya Erupsi

Jakarta, 4 April 2026

Pada sekitar Mei 2024, terekam peningkatan Gempa Vulkanik Dalam yang mengindikasikan suplai magma ke arah permukaan, diikuti oleh peningkatan gempa dangkal dan tremor menerus hingga akhir 2024. Hingga akhir Maret 2026, aktivitas seismik Gunungapi Slamet
masih bersifat fluktuatif, didominasi oleh gempa frekuensi rendah dan tremor menerus, tanpa disertai erupsi maupun perubahan visual yang signifikan.

Sementara itu, Pada tanggal 3 April 2026 mulai teramati adanya perubahan visual di kawah Gunungapi Slamet, berupa hembusan gas berwarna putih dengan tinggi maksimum sekitar 300 meter di atas bibir kawah. Hingga saat ini, hembusan gas teramati keluar secara terus menerus, yang mengindikasikan adanya aktivitas degassing, yaitu pelepasan gas-gas magmatik dari magma ke permukaan melalui kawah.

Berdasarkan hasil analisis citra termal kawah Gunungapi Slamet teramati adanya peningkatan suhu maksimum dari sekitar 247,4 °C pada 13 September 2024 menjadi 411,2 °C pada 2 April 2026 dan kembali meningkat menjadi 463 °C pada tanggal 3 April 2026.

Kenaikan ini menunjukkaan peningkatan signifikan dalam aktivitas termal kawah. Sebaran anomali panas pada tahun 2024 masih terlokalisir di bagian pusat kawah, sedangkan pada tahun 2026, berkembang menjadi lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah. Perubahan pola sebaran suhu mengindikasikan berkembangnya sistem rekahan. Perluasan area anomali termal ini menunjukkan peningkatan intensitas proses degassing di kawasan kawah.

Data kegempaan periode tanggal 16 Maret – 3 April 2026, yaitu terekam 866 kali Gempa Hembusan, 623 kali Gempa Low Frequency, 1 kali Gempa Vulkanik Dalam, 12 kali Gempa Tektonik Jauh, Tremor Menerus dengan amplitudo 1 mm, dominan 0.5 mm.

Kejadian gempa frekuensi rendah di Gunung Slamet terekam secara fluktuatif. Sejak 22 Maret 2026, aktivitas ini menunjukkan peningkatan, yang kemudian rekaman menjadi semakin tegas
dan menerus sejak tanggal 27 Maret 2026 hingga awal April 2026. Gempa-gempa berfrekuensi rendah ini terekam secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam, berasosiasi dengan adanya peningkatan aktivitas gas magmatik.

Pemantauan deformasi menggunakan EDM menunjukkan pola dominan deflasi,mengindikasikan magma berada pada posisi dangkal. Hal ini bersesuaian dengan data tiltmeter yang menunjukkan penurunan (deflasi) pada sumbu radial St. Cilik (1516 mdpl) dan kenaikan (inflasi) di St. Bambangan (1878 mdpl), yang mengindikasikan adanya migrasi magma dari kedalaman (sekitar St. Cilik) menuju kedalaman yang lebih dangkal (arah St. Bambangan).

Hasil pengamatan dan analisis data-data pemantauan menunjukkan adanya peningkatan tekanan di bawah tubuh Gunungapi Slamet, yang memicu munculnya gempa-gempa dangkal,
yang meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi.

Berdasarkan data pemantauan instrumental Gunung Slamet terkini, aktivitas Gunung Slamet masih tinggi.

Sehubungan dengan kondisi tersebut,sehingga direkomendasikan untuk dilakukan perubahan/ perluasan jarak rekomendasi, tulis laporan khusus Badan Geologi dengan nomor 631.Lap/GL.03/BGL/2026 sebagaimana dikutip pada hari ini Sabtu (4/4/2026).

Walaupun aktivitas gunungapi meningkat, hingga tanggal 4 April 2026 tingkat aktivitas Gunungapi Slamet masih ditetapkan pada Level II (Waspada),dengan rekomendasi masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak berada/ beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah puncak Gunungapi Slamet . Pengamatan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi
perkembangan lebih lanjut.

Potensi ancaman bahaya saat ini adalah erupsi yang menghasilkan abu dan hujan lumpur serta lontaran material pijar yang melanda di daerah sekitar puncak di dalam radius 3 km atau hembusan gas vulkanik konsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah/puncak. Hujan abu dapat terjadi di sekitar kawah maupun melanda daerah yang ditentukan oleh arah dan kecepatan angin.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan Gunungapi Slamet di Desa Gambuhan, Gajah Nguling, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah dengan nomor telp 0823-2913-0149. Tingkat aktivitas Gunungapi Slamet akan segera ditinjau kembali jika terdapat perubahan visual maupun kegempaan yang signifika, tutup surat yang ditandatangani oleh Lana Saria selaku Plt. Kepala Badan Geologi, tersebut.

Sekedar informasi Gunungapi Slamet merupakan gunungapi strato berbentuk kerucut dengan ketinggian puncak sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, Gunungapi Slamet berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis, Gunungapi Slamet terletak pada koordinat 7°14,30′ Lintang Selatan dan 109°12,30′ Bujur Timur.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button