BERSIAPLAH JIKA RAKYAT SUDAH BERTERIAK “TIDAAK…!”
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 5 Mei 2026
Dari reshuffle abal-abal kemarin hanya kepada Jumhur Hidayat yang banyak aktivis berharap akan perannya ke depan meski ia ditempatkan oleh Prabowo di Kementrian yang tidak terkait dengan bidang yang selama ini digelutinya. Ia adalah Ketua serikat buruh yang menjadi Menteri Lingkungan Hidup.
Apologi dibuat bahwa di Kementrian ini sengaja Jumhur ditempatkan konon untuk menghadapi kelompok oligarki. Disinilah perizinan dikeluarkan dan pelaku bisnis yang abai lingkungan dapat ditindak. Terdengar mulia dalam dimensi perjuangan. Tapi tunggu dulu, yang terjadi bisa sebaliknya. Perizinan dan rekomendasi penindakan itu rawan suap. Mampukah Jumhur mengatasi atau rentan untuk terlibat ? Semua serba mungkin.
Persoalan melawan oligarki itu kerja besar, sistematis, dan tidak bisa parsial atau semata departemental. Sejauh mana birokrasi secara komprehensif mendukung perlawanan terhadap dominasi dan jaringan oligarki ? Meski Jumhur Hidayat dipuji oleh rekan sejawatnya berkualitas setara 10 Menteri, namun wajar jika rakyat masih meragukan. Semangat merubah dari dalam sering faktanya justru dirinya yang diubah di dalam.
Pernah harapan besar disandangkan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan Sri Mulyani. Gebrakannya luar biasa, dicitrakan mau membabat oligarki, serta membangun ekonomi kerakyatan. Saking hebatnya di ramaikan pantas menjadi Wapres ke depan. Apa yang terjadi kemudian ? Melempem dan tak mampu melawan sistem korup, manipulatif, dan kapitalistik. Purbaya sama saja dengan Menteri lain, tidak berdaya.
Jumhur Hidayat belum setara Purbaya, apalagi menempati pos yang butuh orientasi terlebih dahulu. Jadi baiknya jangan terlalu membebani dengan harapan muluk-muluk. Di bawah rezim Prabowo semua Menteri cari aman dan ingin nyaman. Kabinet Prabowo secara kolektif itu buruk. Mereka yang berkinerja tidak bagus akan digeser atau ditindak, baru sebatas omon-omon. Jangan-jangan cukup bisa joget miring-miring dijamin tidak akan direshuffle.
Di hari buruh 1 Mei kemarin Jumhur tampil di panggung dengan gelisah dan terkejut ketika respons pertanyaan Prabowo soal bermanfaatkah program MBG, dijawab buruh dengan “tidaak..”. Begitu juga saat Prabowo hendak memperkenalkan Seskab nya maka bergemuruh buruh menyoraki. Rupanya Prabowo salah tafsir dikira Teddy itu pesaing yang disambut kekaguman sehingga nyeletuk “Gue Presiden, bukan die”.
Sadarkah Presiden bahwa gemuruh itu adalah cemoohan atas diri Teddy terkait Prabowo ?
Sebagai teman seperjuangan tentu sepatutnya menyampaikan ucapan selamat. “Wilujeng ngemban amanah, kang Jumhur, mugia mangpaat”.
Semoga tidak menjadi kain yang segera tercelup oleh warna rezim yang korup, ambivalen, dan selalu omong besar tentang kesiapan berkorban demi rakyat.
Waspada dan bersiaplah jika rakyat sudah berani meneriakkan “tidaaak…!”




