AS Serang Fasilitas Sipil Di Iran, Syahrul Aidi Maazat : “Perdamaian Tidak Akan Pernah Lahir Dari Bom Dan Peluru”
Jakarta,17 Juli 2026
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan AS ke dua jembatan di Provinsi Hormozgan menewaskan tiga orang dan melukai sembilan orang. Sebelumnya dilaporkan dua orang tewas dan empat orang luka-luka. AS juga menyerang Stasiun Persimpangan Kereta Api Bandar Abbas yang menyebabkan dua warga Iran terluka. Selain itu, satu warga lainnya terluka akibat serangan di kota pelabuhan Bushehr, di bagian barat, Seperti dilansir AFP, Jumat (17/7/2026),
Terkait hal tersebut, Syahrul Aidi Maazat, Ketua BKSAP DPR RI, mengutuk keras serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah fasilitas sipil di Iran pada Kamis malam, 16 Juli 2026. Serangan tersebut menyasar bandara, stasiun kereta api, dan dua jembatan di Iran serta mengakibatkan korban jiwa dari kalangan warga sipil.
“Saya mengutuk dengan sekeras-kerasnya penggunaan kekuatan militer yang menyasar infrastruktur sipil dan menimbulkan korban dari warga tidak berdosa. Tidak ada pembenaran apa pun untuk serangan yang menewaskan dan melukai warga sipil,” tegas Syahrul Aidi Maazat.
Lebih lanjut, Syahrul menyerukan penghentian pendekatan kekerasan. Syahrul menilai eskalasi ini terjadi di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, termasuk perebutan jalur perairan vital Selat Hormuz antara AS dan Iran. Menurutnya, tindakan militer sepihak justru memperkeruh konflik dan menjauhkan semua pihak dari penyelesaian damai.
“Disaat dunia membutuhkan lebih banyak dialog dan diplomasi, kita justru melihat kekerasan yang kembali menelan korban sipil. Ini adalah kemunduran bagi peradaban dan hukum internasional,” ujar Syahrul, yang juga Anggota Komisi I FPKS DPR RI.
Lebih lanjut, Syahrul mengajak seluruh negara, khususnya anggota PBB dan komunitas internasional, untuk mengambil sikap tegas menolak segala bentuk penggunaan kekerasan dalam penyelesaian sengketa.
“Indonesia dan negara-negara ASEAN telah membuktikan bahwa dialog, penghormatan terhadap kedaulatan, dan prinsip-prinsip multilateralisme adalah jalan terbaik. Kita harus bersama-sama mencegah agar pendekatan kekerasan tidak menjadi norma dalam hubungan antarbangsa,” ujar Syahrul.
Indonesia jelas mendesak semua pihak untuk segera menghentikan segala bentuk serangan dan kembali ke meja perundingan. Selain itu, Indonesia juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk mengambil langkah nyata guna mencegah meluasnya konflik dan melindungi warga sipil.
“Perdamaian tidak akan pernah lahir dari bom dan peluru. Ia hanya bisa lahir dari keberanian untuk duduk bersama, mendengar, dan menghormati satu sama lain. Indonesia harus berada di garda depan menyuarakan itu,” pungkas Syahrul, yang terpilih ke Senayan dari Daerah Pemilihan Riau.




