OpiniPeristiwa

Hampir Terlupakan Gempa Dan Tsunami Di Bengkulu Pada 18 Maret 1818

Jakarta, 18 Maret 2026

Provinsi Bengkulu merupakan daerah dengan potensi tsunami yang tinggi, khususnya di Kota Bengkulu. Hal ini disebabkan oleh letak wilayah Bengkulu yang berdiri tepat di atas kawasan subduksi Lempeng Eurasia dan Indo Australia dengan pergerakan cukup besar. Pergerakan lempeng tersebut menyebabkan Kota Bengkulu sering kali mengalami gempa bumi jenis tektonik.

Menurut data historis yang tercatat, Kota Bengkulu umumnya mengalami kejadian gempa bumi dengan kekuatan di atas 7 SR yang dapat menimbulkan bahaya ikutan berupa gelombang tsunami.

Hari ini 208 Tahun Yang Lalu, Gempa Dan Tsunami Melanda Bengkulu

Salahsatu gempa dan tsunami yang pernah terjadi adalah pada 18 Maret 1818.

Perihal peristiwa tersebut, tim redaksi persuasi-news.com menanyakan kepada Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Dr. Daryono.

Peristiwa gempa kuat yang mengguncang wilayah Bengkulu pada 18 Maret 1818 menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah kebencanaan di pesisir barat Sumatra. Gempa bumi dan tsunami dahsyat ini merupakan bagian dari serangkaian sejarah panjang gempa megathrust di barat Sumatera, serta tercatat sebagai salah satu dari belasan tsunami besar yang pernah menerjang pantai barat Sumatera sejak abad ke-17. Sumber gempa berada di Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu dan memicu gelombang laut besar yang menghantam kawasan pesisir, kata Daryono melalui keterangan tertulisnya sebagaimana yang diterima redaksi persuasi-news.com pada Rabu (18/3/2026).

Dirinya menuturkan, Kesaksian para pelaut menggambarkan betapa dahsyatnya guncangan tersebut. Kapal Northumberland dan Sandbury dilaporkan terguncang sangat kuat hingga para awak kapal terlempar dari tempat tidur mereka. Getaran gempa bahkan dirasakan oleh Thomas Stamford Raffles yang saat itu berada di atas kapal sejauh sekitar 350 km dari pantai barat Sumatra, menunjukkan luasnya jangkauan energi gempa ini.

Di daratan, kondisi tidak kalah mencekam. Di Fort Marlborough, guncangan sangat kuat terjadi pada malam hari dengan intensitas mencapai sekitar IX MMI, yang mampu melemparkan warga dari tempat tidur. Salah satu saksi mata menyebutkan dirinya terlempar dari tempat tidur, sementara sebagian dinding rumah runtuh akibat kuatnya getaran,ungkap Daryono.

Dia melanjutkan, fenomena yang lebih mengkhawatirkan terjadi menjelang fajar. Laut tiba-tiba surut drastis jauh dari garis pantai, hingga kapal-kapal yang sebe ohlumnya berlabuh terlihat terdampar di dasar laut. Tidak lama kemudian, air laut kembali dengan kekuatan besar, menerjang daratan dan menyapu segala yang dilaluinya. Gelombang tsunami ini bahkan menjangkau jauh ke daratan hingga merendam sebuah jembatan, menandakan energi gelombang yang sangat kuat.

Dampak gempa tidak berhenti dalam waktu singkat. Catatan sejarah menunjukkan bahwa guncangan susulan masih dirasakan hingga setidaknya 8 April 1818, sebagaimana tertulis dalam laporan pada masa itu. Rangkaian kejadian ini menegaskan bahwa wilayah Bengkulu dan sekitarnya merupakan kawasan yang memiliki aktivitas seismik tinggi akibat interaksi lempeng di zona subduksi barat Sumatra,tambahnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa pesisir barat Sumatra memiliki potensi gempa dan tsunami yang nyata. “Melawan lupa” bukan sekadar mengenang, tetapi juga memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman serupa di masa depan, tegas dia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button