Makassar, 26 Maret 2026
Hari ini Kamis (26/3/2026)pukul 11:39:49 WIB, wilayah Kabupaten Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara diguncang gempabumi tektonik.
Terkait gempa tersebut, BMKG menyampaikan, Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M 4,9. Episenter gempabumi terletak pada koordinat 3,72 LS dan 123,44 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 61 km Timur Laut Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada kedalaman 10 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas Sesar Naik Tolo.
Berdasarkan estimasi peta guncangan (Shakemap) dan laporan masyarakat, gempabumi ini menimbulkan guncangan di wilayah Konawe Kepulauan, Kendari, dan Konawe Selatan dengan skala intensitas III – IV MMI ( Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu. Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, di luar oleh beberapa orang, gerabah pecah, jendela/pintu berderik, dan dinding berbunyi.). Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi tersebut, kata Plt. Kepala BBMKG Wilayah IV Nasrol Adil, S.Si., MT melalui press release yang diterima oleh redaksi persuasi-news.com .

Hingga pukul 12:17 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya kejadian gempabumi susulan (aftershock), katanya.
Sementara itu, Dr. Daryono, (wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)) menyampaikan analisisnya.
Sesar Naik Tolo (Tolo Thrust) yang menjadi pembangkit gempa ini adalah salah satu sesar aktif yang berada di kawasan Teluk Tolo, Sulawesi. Sesar ini memiliki mekanisme naik (thrust), yaitu pergerakan batuan yang saling menekan sehingga salah satu bagian terdorong naik ke atas bagian lainnya. Mekanisme ini terjadi akibat gaya kompresi dari pergerakan lempeng tektonik, kata Daryono melalui keterangan tertulisnya sebagaimana yang terima redaksi.
Dirinya melanjutkan Tolo Thrust memiliki Magnitudo maksimum M7,6 dengan laju gerak sekitar 2-16 mm/tahun. Secara tektonik, wilayah Sulawesi Tenggara termasuk daerah yang kompleks karena dipengaruhi oleh interaksi beberapa lempeng besar, seperti Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Tekanan dari arah yang berbeda-beda menyebabkan terbentuknya struktur patahan aktif, termasuk Sesar Naik Tolo.

Aktivitas pada sesar ini menjadi salah satu sumber gempa bumi di wilayah sekitar Teluk Tolo dan sekitarnya.
Gempa bumi yang berasal dari Sesar Naik Tolo umumnya memiliki kedalaman dangkal, sehingga getarannya dapat dirasakan cukup kuat di permukaan, terangnya.
Catatan sejarah gempa signifikan yang dipicu Sesar Naik Tolo adalah Gempa yang terjadi pada tahun 1989 (M5,8), 1998 (M5,7), 2000 (M6,3) dan 2009 (M5,6). Keberadaan sesar ini perlu diwaspadai sebagai salah satu sumber potensi gempa kuat di wilayah Sulawesi Tenggara, ungkap Daryono.






