MERDEKA BERSAMA PRESIDEN PEMBUAL
Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 17 Agustus 2026
Dua konten pidato terakhir cukup menggambarkan perbuatan tercela dari seorang Presiden. Yang pertama di Cilacap dan kedua di Jakarta. Bualan pertama tentang pengusaha satu penggilingan padi berkeuntungan 2 trilyun per bulan dan bualan kedua mengenai ibu Susanah yang berpendapatan upah mengupas bawang 700 ribu per Kg.
Keuntungan usaha penggilingan beras 2 trilyun per bulan itu akan ditindak tegas katanya, akan tetapi tidak jelas dimana dan siapa pemilik penggilingan yang meraup untung 2 trilyun sebulan tersebut. Mestinya ucapan itu berbasis bukti sehingga tidak menimbulkan interpretasi bahkan spekulasi. Jangan-jangan itu hanya ilusi atau halusinasi. Lalu apa tindakan nyata atasnya hanya basa-basi ?
Soal Ibu Susanah bualan Prabowo lebih sadis lagi. Di samping mana ada upah mengupas bawang 700 ribu rupiah sekilo, juga ibu yang diperkenalkan oleh Presiden itu ternyata bukan tukang kupas bawang melainkan tukang jahit. Tidak kaya, penerima santunan, berumah sederhana, istri dari suami tukang bangunan dan pekerja serabutan. Terlalu ramai di medsos respon atas kekacauan fikiran Prabowo itu.
Ada usul segera periksa kejiwaan Presiden, sebab terjadi kesalahan berulang. Soal tuduhan pengkhianat londo ireng yang berbalik pada dirinya, usiran untuk pergi ke Yaman bagi pengkritik, improvisasi nyinyir, ndasmu, hingga buat program seenak udel seperti SR, URI, MBG, KMP, serta politik luar negeri kacau pada BOP, ATR, dan MDCP.
Hubungan aneh dengan Seskab pun patut menjadi obyek pemeriksaan pula.
Presiden pembual ternyata sama dengan pendahulunya Jokowi. Terlalu banyak bualan dibuat mulai dari esemka, uang ribuan trilyun, antrian investor, tidak impor, anak tidak minat politik, lapangan kerja, ijazah UGM, serta lainnya. Guru politik Prabowo ini hingga sekarang masih aktif berkeliaran menebar penyakit kerusakan di muka bumi Indonesia. Jokowi adalah penipu bangsa.
Hari ini HUT Kemerdekaan RI ke 81 dirayakan dengan kondisi prihatin di tengah penjajahan rezim oligarki, maraknya korupsi, tumpukan hutang luar negeri, pengangguran yang terus meningkat, krisis nilai tukar, kesenjangan sosial, kriminalisasi, penegakan hukum yang inkonsisten, ketidakadilan ekonomi, agama terpinggirkan, serta nilai materi yang sangat mendominasi.
Indonesia belum merdeka, gerakan kemerdekaan harus terus dibangkitkan.
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, tapi di Indoneia kini hanya bangsat-bangsat saja yang sedang menikmati.
Revolusi 1945 harus diulangi, bangsat-bangsat itu harus dibasmi.




