Oleh : M Rizal Fadillah ( Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)
Bandung, 24 Mei 2026
Negara amburadul sekarang ini adalah warisan terdahulu. Sepuluh tahun memerintah seenak udel Jokowi membuat negara berantakan dan rakyat sengsara. Sayang Prabowo kurang faham cara memulai program yang bakal didukung rakyat. Bukan dengan melanjutkan apa yang dikerjakan Jokowi, semestinya mulai dari membersihkan kotoran Jokowi. Mengadili adalah permulaan yang bagus, strategis, dan ditunggu rakyat.
Jika Jokowi diadili baik dalam kasus ijazah palsu, pengkhianatan negara, pelanggaran HAM, korupsi maupun lainnya, akan bermuara pada penyitaan kekayaan atau pundi-pundi haram yang didapat semasa menjabat Walikota, Gubernur, maupun Presiden. Uang sitaan ratusan atau ribuan trilyun tersebut nantinya dapat dipamerkan oleh Prabowo dengan penuh rasa kebanggaan.
Tanpa memutus mata rantai Jokowi, maka program apapun bakal sulit direalisasikan bahkan akan gagal. Menggebu-gebu di MBG hanya bikin gaduh dan potensi terjadinya badai korupsi, KMP justru membantai koperasi yang ada dan KUKM, Sekolah Rakyat mengabaikan sekolah yang ada dan membuat rakyat malas sekolah sebab tanpa sekolah yang benar pun bisa menjadi Presiden atau Wakil Presiden.
BOP, ATR, MDCP dipastikan gagal karena sejak zaman Jokowi kebijakan luar negeri kita ngelantur bagai piknik saja. Kertajati bengkel Hercules AS ? Wuih, siap dijajah Amerika. Prabowo semakin jadi jongos. Jangan harap sukses untuk program pro zionis meski menjadi Deputy Commander ISF. Bakal lancar menyatukan eksportir batubara, sawit, paduan besi di bawah BUMN ? Etatisme menggantikan kapitalisme. Itupun coba-coba.8 Di tengah budaya korupsi, kebijakan ini hanya akan menggendutkan pejabat dan mitra kolusi.
Mental building dengan retreat-retreat adalah penghamburan biaya, hasil nihil. Mental tetap ABS dan ambivalen, tidak mengubah kinerja, seragam tentara dibuat bagai pawai karnaval. Peserta tertawa bermain-main. Kakek nenek gembira naik komedi putar. Program menjaga Gibran sampai akhir jabatan berpotensi memelihara anak macan yang akan memangsa. Gibran itu racun bangsa yang siap meracuni semua, tidak terkecuali Prabowo Subiyanto.
Mengistimewakan Teddy adalah kebodohan dan memasang bom waktu. Menaikkan pangkat cepat, dan melompat, menjadikan Seskab agar selalu dekat, memberi bintang Mahaputera seperti memberi hadiah gula-gula. Bersama Teddy berenang di tengah kecemburuan para perwira. Menunggu waktu untuk menampar anak yang ngelunjak dan menginjak-injak. Teddy Indra Wijaya adalah bekas dan warisan Jokowi untuk menjadi kamera dan alat sandera
Prabowo semakin pikun berhalusinasi naik mobil akuarium. Merasa jadi ikan hiu yang ditakuti padahal hanya kelas ikan hias saja. Galak tapi gemoy gemulai. Mimbar menjadi ajang pamer kuasa, di luar menjadi mawar yang tidak berdaya. Penculik tua itu mengidap sindroma megalomania. Menculik program dan gaya Jokowi sesungguhnya tidak berguna bahkan dapat membuat Prabowo binasa.
Pembenahan, perbaikan, dan membangun kepercayaan rakyat bukan dengan teriak demi rakyat demi rakyat, tetapi harus dimulai dengan perintah untuk menangkap dan mengadili Jokowi. Tanpa itu, semua akan sia-sia dan hanya menjadi ilusi fatamorgana. Bullshit. Gagal dan gagal lagi. Hembusan dosa itu akan terus terbawa.
Benar ucapan seorang ulama atau kyai bahwa mendapatkan kekuasaan dengan cara curang atau tidak halal, maka jangan harap akan mendapat sukses dan berkah.
Allah SWT akan beri kesulitan atas jabatan yang diperoleh dari ambisi dan cara-cara yang haram atau zalim.





