Jakarta, 16 Maret 2026
Hari ini lebih dari 1 abad (109 tahun) yang lalu, tepatnya 16 Maret 1917, Tsunami melanda SamberGelap Pesisir Kalimantan Selatan.
Menurut penjaga mercusuar di Kepulauan Sambergelap (lepas Pulau Kalimantan), gelombang banjir muncul dari tenggara pada pukul 08.00. Permukaan laut naik 1,5 m (5 kaki)
dalam sepuluh menit, dan kemudian jatuh dengan cepat ke ketinggian yang biasa. Saat itu, itu adalah fase pasang banjir, dan musim angin timurlaut. Pada hari yang sama, di pagi hari, gelombang pasang teramati di Pagatan, di mana kerusakan besar terjadi (Anon, 1919a).

Lalu seperti apa peristiwa Tsunami yang tidak seperti tsunami yang terjadi di Indonesia tersebut ?, untuk mennjawabnya, redaksi persuasi-news.com menanyakan kepada wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Dr. Daryono.

SEJARAH kebencanaan sering kali tenggelam oleh waktu. Padahal, peristiwa kecil yang nyaris terlupakan justru menyimpan pelajaran penting. Salah satunya adalah Tsunami Sambergelap yang terjadi pada 16 Maret 1917 di pesisir Kalimantan Selatan, kata Daryono melalui keterangan tertulisnya sebagaimana yang diterima oleh redaksi persuasi-news.com pada hari ini Senin (16/3/2026).
Sekitar pukul 08.00 pagi, laut di sekitar Pulau Sambergelap, Kecamatan Pulau Sebuku, Kabupaten Kotabaru, tiba-tiba menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Permukaan laut mendadak naik dan membentuk gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai sekitar 1,5 meter, ungkap Daryono.
Dirinya menuturkan, Gelombang ini berlangsung selama kurang lebih 10 menit, sebelum akhirnya laut kembali tenang seperti semula. Fenomena yang sama juga dilaporkan terjadi di Pantai Pagatan, Kecamatan Kusan Hilir, Kabupaten Tanah Bumbu. Di wilayah pesisir ini, gelombang laut yang datang secara tiba-tiba tersebut bahkan merusak beberapa permukiman pantai. Peristiwa ini kemudian dicatat dalam berbagai katalog tsunami sebagai Tsunami Sambergelap 1917.

Yang membuat kejadian ini menarik sekaligus misterius adalah tidak adanya catatan gempa bumi kuat yang mendahuluinya. Berbeda dengan kebanyakan tsunami di Indonesia yang dipicu oleh aktivitas tektonik, penyebab gelombang laut ini hingga kini belum dapat dipastikan, ungkapnya.
Dirinya melanjutkan, Sebagian peneliti menduga kemungkinan adanya longsoran bawah laut (submarine landslide) yang secara tiba-tiba memindahkan massa sedimen di dasar laut sehingga membangkitkan gelombang ke permukaan. Namun hingga kini dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penelitian geologi kelautan yang lebih mendalam.
Peristiwa ini memberikan pelajaran penting: tsunami tidak selalu diawali oleh gempa besar. Dalam kondisi tertentu, longsoran dasar laut, aktivitas vulkanik bawah laut, bahkan gangguan dinamika laut dapat memicu gelombang yang merusak di wilayah pesisir,pungkasnya.
Tinggi gelombangnya memang tidak sebesar tsunami besar yang pernah melanda Nusantara. Namun Tsunami Sambergelap 1917 adalah pengingat bahwa pesisir Kalimantan Selatan pun memiliki jejak sejarah tsunami,jelas Daryono.
Karena itu, mengingat kembali peristiwa seperti ini bukan sekadar membuka lembar sejarah lama, tetapi juga bagian dari upaya membangun kesadaran risiko bencana di wilayah pesisir. Sejarah mungkin bisa dilupakan, tetapi alam tidak pernah lupa, tutupnya.




