Jejak Kelam Gempa M 7,3 Di Talaud, Dr. Daryono Sampaikan 3 Pilar Utama Yang Harus Ditegakkan

Jakarta, 31 Maret 2026

Pada 30 Maret 1907 Kepulauan Talaud Sulawesi utara diguncang Gempa, berdasarkan The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Gempa dengan kekuatan M 7.3 tersebut mengakibakan Tsunami setinggi 4 Meter.

Dari peristiwa Tersebut, Kita Diuji Untuk Belajar Pentingnya Sejarah

Sejarah seringkali berulang bukan untuk menakuti, melainkan untuk menguji sejauh mana kita belajar. Di ujung utara utara Nusantara, tepatnya pada dini hari 30 Maret 1907, Kepulauan Talaud pernah diguncang oleh kekuatan alam yang dahsyat. Sebuah gempa tektonik berkekuatan 7,3 memicu tsunami setinggi 4 meter yang menyapu pesisir Pulau Karakelang. Air laut merangsek sejauh 50 meter ke daratan, menghancurkan permukiman, dan meninggalkan trauma mendalam yang kini mulai memudar dari ingatan kolektif kita,hal tersebut disampaikan oleh Dr. Daryono, selaku wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indoensia (IABI).

Peristiwa 1907 bukanlah sekadar angka dalam catatan geologi. Ia adalah pengingat bahwa Talaud berdiri di atas “panggung” tektonik yang sangat dinamis. Diapit oleh zona subduksi Lempeng Laut Filipina dan Subduksi Sangihe, wilayah ini secara alami merupakan daerah rawan tsunami, termasuk tsunami lokal. Masalah utamanya bukan hanya pada besarnya guncangan, melainkan pada waktu, kata Daryono melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Persuasi-news.com pada hari ini Selasa (31/3/2026).

Dalam tsunami lokal seperti yang terjadi satu abad lalu, “Golden Time” atau waktu evakuasi sangatlah sempit—sering kali kurang dari 10-20 menit. Artinya, menunggu sirine peringatan dini atau instruksi resmi terkadang menjadi kemewahan yang tidak kita miliki,tambahnya.

Mitigasi: Antara Teknologi Dan Naluri

Ada 3 Pilar Utama Yang Harus Ditegakkan.

Belajar dari tragedi 1907, mitigasi bencana di Kep. Talaud harus bergeser dari sekadar mengandalkan alat canggih menuju penguatan kapasitas masyarakat. Ada 3 pilar utama yang harus ditegakkan.

Yang Pertama yakni Evakuasi Mandiri sebagai Refleks: Masyarakat pesisir harus menanamkan doktrin bahwa gempa kuat atau gempa lemah yang berdurasi lama adalah “sirine alami”. Jangan menunggu air surut untuk berlari. Segera menuju tempat tinggi atau bangunan vertikal yang kokoh.

lalu yang kedua Menghidupkan “Smong” Versi Talaud: Kita butuh narasi sejarah yang diwariskan antar generasi. Jika masyarakat di Simeulue selamat dari tsunami 2004 berkat cerita rakyat Smong, maka warga Talaud harus terus menceritakan peristiwa 1907 sebagai pengingat bahwa laut bisa kembali mengambil ruangnya sewaktu-waktu.

Sedangkan yang ketiga Benteng Alam dan Tata Ruang: Pembangunan di pesisir tdk boleh serampangan. Penanaman vegetasi pantai seperti mangrove dan cemara laut bukan sekadar penghijauan, melainkan “breaker” atau pemecah energi gelombang yang terbukti efektif melindungi pemukiman, tutur Daryono

Tsunami 1907 adalah pesan bisu dari masa lalu yang dikirimkan kepada kita yang hidup di masa kini. Kerusakan pemukiman dan landaan air sejauh 50 meter saat itu adalah bukti bahwa pesisir kita memiliki batas yang harus dihormati.

Kita tidak bisa menghentikan pergeseran lempeng di bawah kaki kita, namun kita bisa memilih utk tdk menjadi korban. Mitigasi terbaik bukanlah alat yang tertanam di laut, melainkan pengetahuan yang tertanam di kepala setiap warga. Sudah saatnya kita berhenti memperlakukan sejarah sebagai arsip berdebu, dan mulai menjadikannya kompas untuk keselamatan masa depan, Tutup Pria yang biasa disapa Pak Dar oleh Wartawan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *