Vanaprastha dan TNGGP Kolaborasi Sapu Gunung 2026, 300 Peserta Ditargetkan Ikut Aksi Bersih Kawasan

Cianjur, 27 Agustus 2026 — Upaya meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian kawasan konservasi terus dilakukan melalui kolaborasi berbagai elemen masyarakat. Salah satunya melalui program Sapu Gunung 2026 yang diinisiasi oleh Vanaprastha Perkumpulan Pencinta Alam bekerja sama dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP).
Dalam rangka persiapan kegiatan tersebut, Tim Vanaprastha melakukan audiensi dengan Kepala Balai Besar TNGGP, Sadtata Noor Adirahmanta, S.Hut., M.T., di Kantor Balai Besar TNGGP, Kamis (27/8/2026).
Audiensi tersebut membahas rencana pelaksanaan Sapu Gunung 2026 yang akan digelar pada 18–20 September 2026 dengan sejumlah agenda utama, yakni Operasi Bersih Sampah, Diskusi Edukasi Lingkungan, serta Penanaman Pohon.
Program tersebut mendapat sambutan positif dari pihak BBTNGGP. Kepala Balai Besar TNGGP menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi bersama Vanaprastha dalam mendukung dan menyukseskan pelaksanaan Sapu Gunung 2026.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah elemen terkait, di antaranya Kementerian Lingkungan Hidup dan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI).
Sapu Gunung 2026 direncanakan melibatkan sekitar 300 peserta dari berbagai kalangan. Peserta akan berasal dari organisasi dan komunitas pencinta alam, Siswa Pencinta Alam (Sispala), Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala), serta masyarakat umum yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Ketua Umum Vanaprastha, Januar Cipta Mulia, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif, khususnya dalam meningkatkan kepedulian para pendaki dan penggiat alam terbuka terhadap kelestarian lingkungan.
“Kegiatan ini kami harapkan dapat memberikan dampak positif bagi kalangan pendaki untuk dapat lebih peduli terhadap kelestarian alam,” ujar Januar.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Sapu Gunung 2026, Adelina, menegaskan bahwa upaya pelestarian alam, khususnya di dalam kawasan konservasi, bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola taman nasional.
Menurutnya, setiap individu yang memasuki kawasan konservasi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga kelestarian kawasan.
“Pelestarian alam, terutama di dalam area kawasan konservasi, bukanlah tanggung jawab pengelola taman nasional semata. Setiap individu yang memasuki kawasan konservasi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga kelestarian,” kata Adelina.
Ia menambahkan, maraknya pemberitaan di media sosial mengenai aktivitas pendaki yang dilakukan di luar ketentuan menunjukkan masih perlunya peningkatan kesadaran mengenai etika berkegiatan di alam terbuka.
“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat mengembalikan kesadaran para pendaki gunung dan penggiat alam terbuka lainnya untuk peduli terhadap etika pendakian dan perilaku saat berkegiatan di alam terbuka, khususnya di dalam kawasan konservasi atau taman nasional,” ujarnya.
Melalui Sapu Gunung 2026, Vanaprastha berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada aksi membersihkan sampah, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan penguatan kesadaran bersama bahwa menjaga kawasan konservasi merupakan tanggung jawab seluruh pihak yang memanfaatkannya.
Sapu Gunung 2026 — Solidaritas Peduli Gunung.




