Oleh : Dr. Daryono ( Pegiat Mitigasi Bencana )
Jakarta,4 Juni 2026
Dini hari itu, Kamis 3 Juni 1994, langit Jawa Timur masih diselimuti pekatnya malam. Pada pukul 01:17 WIB, bumi Samudra Hindia di selatan Jawa tiba-tiba menggeliat. Sebuah gempa dengan magnitudo 7,8 Mw, melepaskan energi yang memicu serangkaian malapetaka. Secara ilmiah, peristiwa ini diklasifikasikan sebagai tsunami earthquake, sebuah jenis gempa dengan kecepatan retakan kerak bumi yang relatif lambat namun sangat efisien dalam membangkitkan gelombang tsunami raksasa.
Di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Banyuwangi, kehidupan seolah berhenti sejenak. Warga tengah terbuai dalam alunan gamelan di tengah pagelaran wayang kulit. Sang dalang tengah membawakan lakon ‘Rahwana Jadi Ratu’, mengisahkan sosok angkara murka yang menebar kebencian hingga membawa malapetaka. Di tengah syahdunya suasana, alam justru sedang merajut takdir kelam. Air laut yang semula tenang, tiba-tiba seolah tumpah dari cakrawala, datang menyapu daratan dua jam setelah gempa mengguncang.
Gelombang raksasa itu menerjang tanpa ampun, melahap segalanya yang berdiri di pinggir pantai termasuk tempat pagelaran wayang tersebut. Warga, tumbuhan, dan segala benda terseret dalam gulungan air yang dahsyat. Di Pantai Rajegwesi, tinggi gelombang tercatat mencapai 13,9 meter, sementara di Pantai Bandealit mencapai 11,2 meter. Kengerian ini tidak hanya berhenti di Banyuwangi, tetapi menjalar ke sepanjang pesisir timur Jawa hingga mencapai pantai barat daya Bali dengan ketinggian gelombang hingga 5 meter.
Tragedi ini menjadi pengingat pahit betapa rentannya wilayah kita terhadap kekuatan tektonik. Mayoritas korban yang sedang terlelap tidak memiliki kesempatan untuk menghindar. Sebanyak 250 nyawa melayang, 460 orang terluka, dan 23 jiwa lainnya hilang ditelan samudra.
Peristiwa 1994 ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran berharga dari alam tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi ancaman gempa dan tsunami yang sewaktu-waktu bisa datang kembali di pesisir selatan kita.




