DaerahPeristiwa

Keluarga Besar KH. Ma’ruf Dan Siti Khadijah Sesalkan Takziah Hanya Di Depan Gerbang

Sumedang, 19 Juli 2026

Sekitar 50 orang keluarga keturunan langsung dari KH. Maruf dan Siti Khadijah berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat yang biasa bersilaturahmi dan berkumpul memanjatkan doa kepada Orang tua mereka pada bulan-bulan Istimewa Islam, sesalkan takziah dan silaturahmi pada 18 juli 2026 yang bertepatan dengan 2 Muharram 1448 H tidak bisa memanjatkan do’a untuk para Eyang, Kakek, atau orang tuanya di dalam makam Kyai Haji Ma’ruf yang merupakan keturunan langsung dari Pangeran Cornel Sumedang bersama Siti khadijah yang merupakan isteri beliau bersama para anak cucu lainnya yang merupakan Orang tua dari para peziarah yang datang pada saat itu.

Pasalnya makam yang dipersengketakan tersebut, sudah digembok lagi oleh keluarga dari H. Samanhudi yang beberapa bulan lalu pernah dibuka juga oleh pihak keamanan makam pemberitaan JN News jayantara-news.com/28877-2/
Hal ini membuat Keluarga besar KH. Maruf menjadi geram, karena ketika hendak membuka pintu, pintu di gembok secara permanen, dan tampak didalam ada penjaga dari Aparat yang kurang jelas apa maksud dan tujuannya berada disitu, hingga pengusiran pun terjadi terhadap aparat tersebut oleh Agus Dwi Wuryanto, SH. yang merupakan Pendamping Hukum dari keluarga K H, Ma’ruf menegaskan bahwa APH tidak layak seorang aparat berada di lokasi tersebut, pada jam tugas dan berseragam.

Waktu bergeser menjelang sore sementara acara takziah dan do’a bersama tetap harus dilaksanakan, mengingat keluarga ada yang datang dari jauh , sampai Purwakarta maka dengan inisiatif dari seorang yang dituakan Ust Dedi Abdul Kholik mengajak berdo’a bersama di depan gerbang makam, akan tetapi pada saat ramah tamah berjalan, salah satu keluarga Rina Nurlaelasari merasa tidak terima dengan penggembokan tersebut, dan berjalan kedepan makam hendak membuka makam dengan martil, hal ini dihalangi oleh Ust. Dedi Abdul Kholik dan nyaris terjadi insiden dengan Rina Nurlaelasari karena sebagai lelaki yang merupakan keturunan juga dari KH. Ma’ruf , Ust Dedi merasa dilangkahi oleh Rina. Hal ini ditenangkan oleh Agus Dwi Wuryanto, SH. Dan mengingatkan bahwa tindakan tersebut mempunyai Retensi hukum, Akan tetapi Ust. Dedi Abdul Kholik sebenarnya mempunyai perasaan yang sama, ingin membuka gembok tersebut, maka pada saat itu Ust. Dedi Abdul Kholik menyatakan bahwa dirinya siap membuka gembok dan bertanggung jawab jika di kemudian hari timbul masalah dengan hukum maupun agama.

Ust. Dedi, ketika ditemui dan berbincang menyatakan bahwa “Benar adanya bahwa saya dituakan dan pemegang kunci pada saat sebelumnya di tahun 1980 – 1994 bahkan pada saat keluarga dari H. Samanhudi meninggal, meminta izin kepada saya yang membukakan pintu makam ini, akan tetapi beberapa tahun terakhir dari tahun 1994 menjadi dipatenkan dan keluarga K H. Ma’ruf tidak bisa masuk berdo’a, bersilaturahmi dan berkumpul disini. Atas dasar hal itu saya barusan bersikap keras dan menganggap fii sabilillah, karena berdo’a untuk keluarga di bulan Muharam ini sangatlah mustajab dan salah satu kegiatan yang dicontohkan oleh Rasul, dan mendo’akan orang tua di bulan ini juga merupakan suatu yang di utamakan, karena di bulan ini Allah SWT, masih memberikan ampunan, juga bulan dimana lulusnya ujian para Nabi.Maka pada saat ini saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan semuanya dan menganggap ini , Jihad fii sabilillah,” Ust. Dedi menutup pembicaraannya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button