Kutai Barat, 20 Mei 2026
Nama AKP Deky Jonathan Sasiang sempat dikenal sebagai sosok polisi yang berprestasi dan memiliki karier yang menanjak cepat di jajaran Polres Kutai Barat, Kalimantan Timur. Namun, siapa sangka, perjalanan karier yang tampak mulus itu ternyata dibangun di atas penyimpangan dan kerja sama gelap dengan jaringan pengedar narkoba besar. Ia kini menjadi sorotan nasional setelah dinyatakan dipecat tidak hormat dan ditahan terkait kasus pembekingan jaringan narkoba.
Dari Tanah Asal Ke Kalimantan: Awal Pengabdian
Deky memulai pengabdiannya di kepolisian di daerah asalnya, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, sebelum akhirnya pindah bertugas ke wilayah Kalimantan Timur. Sejak tiba di Kutai Barat, nama Deky perlahan mulai bersinar karena dianggap aktif dan berani di lapangan.
Pada rentang tahun 2021 hingga 2022, ia dipercaya memegang jabatan strategis sebagai Kapolsek Long Hubung. Di wilayah pedalaman itu, ia membangun citra sebagai pemimpin yang tegas. Kinerjanya dinilai baik, sehingga kariernya terus didorong naik ke posisi-posisi yang memiliki wewenang lebih besar.
Tahun 2023, ia diangkat menjadi Kasat Polairud. Di sektor keamanan perairan ini, ia mulai terbiasa mengawasi jalur-jalur masuk barang ilegal, pengalaman yang kelak justru akan ia gunakan untuk melindungi kejahatan, bukan menindaknya. Selama menjabat di sini pula, Deky mulai melaporkan harta kekayaannya pertama kali, yang kini terungkap jumlahnya mencapai lebih dari Rp 1 miliar, jauh melebihi pendapatan wajar seorang aparat.

Laporan Harta Kekayaan Deky Jonathan Sasiang. (KPK)
Karier Melejit: Dari Lalu Lintas Ke Operasi Strategis
Pada tahun 2024, Deky dipercaya memimpin Satuan Lalu Lintas (Lantas) Polres Kutai Barat. Di sini ia kembali menuai pujian publik karena dinilai berhasil menekan angka kecelakaan lalu lintas dan menertibkan pelanggaran. Di mata masyarakat, ia adalah sosok polisi yang dekat dan berprestasi. Namun, di balik layar, benih-benih penyimpangan diduga sudah mulai tumbuh.
Puncak kekuasaannya sebelum menangani narkoba terjadi pada tahun 2025, saat ia menjabat sebagai Kasubbag Binops Bagian Operasi. Ini adalah jabatan paling krusial dalam sejarah kejahatannya. Sebagai pejabat yang mengatur rencana dan jalannya seluruh operasi kepolisian di wilayah hukum Polres Kutai Barat, Deky memegang kunci semua jadwal razia, lokasi penyergapan, dan daftar sasaran operasi.
Di posisi inilah, menurut penyelidikan, Deky mulai menjalin kerja sama gelap dengan tokoh kunci dalam kasus ini: Ishak, seorang bandar narkoba besar. Berbekal informasi rahasia yang ia pegang, Deky rutin memberikan kabar jika akan ada operasi penindakan, sehingga jaringan Ishak selalu aman dari jerat hukum. Sebagai imbalannya, ia menerima uang suap secara berkala yang kemudian digunakan untuk memperkaya diri sendiri.
Jabatan Kasat Narkoba: Puncak Kekuasaan & Kejahatan Terbongkar
Pada tanggal 3 Desember 2025, karier Deky mencapai titik tertinggi sekaligus menjadi awal kehancurannya. Ia dilantik menjadi Kasat Reserse Narkoba Polres Kutai Barat. Ini adalah satu-satunya jabatan yang berhubungan langsung dengan penindakan narkoba sepanjang riwayat pengabdiannya, dan ia memegang posisi itu hanya selama kurang lebih 4 bulan, hingga 25 April 2026.
Berada di posisi tertinggi yang seharusnya membasmi peredaran barang haram, Deky justru berbalik arah. Ia menjadikan jabatannya sebagai alat perlindungan bagi jaringan Ishak. Modus operansinya sangat terstruktur: ia memerintahkan anak buahnya untuk menangkap pengedar skala kecil atau warga biasa yang tidak memiliki hubungan dengan Ishak. Penangkapan-penangkapan itu kemudian dipublikasikan luas agar ia terlihat kinerjanya sangat produktif dan berprestasi, demi mengejar promosi jabatan dan kenaikan pangkat.
Bahkan, penyelidikan mengungkap fakta yang sangat mencoreng institusi: AKP Deky Jonathan dua kali tercatat memiliki hasil tes urin positif mengonsumsi narkoba jenis sabu, barang haram yang seharusnya ia basmi. Ia tidak hanya melindungi, tetapi juga ikut menikmati hasil kejahatan yang dilindunginya.
Akhir Cerita: Mutasi Samaran Dan Pemecatan
Pada 25 April 2026, Deky ditarik dari jabatan Kasat Narkoba dan dimutasi ke Polda Kaltim dengan jabatan baru sebagai Kaur Mintu di bidang administrasi. Saat itu, mutasi ini disinyalir sudah menjadi langkah awal penyelidikan karena kecurigaan atas kinerja dan kekayaannya yang mencurigakan.
Benar saja, tak lama setelah itu, rangkaian pengungkapan fakta bermunculan. Berdasarkan hasil penyelidikan Bareskrim Polri, terbukti sudah cukup bukti keterlibatan Deky dalam jaringan kejahatan narkoba, mulai dari pembekingan, penerimaan suap, hingga pencucian uang.
Pada 18 Mei 2026, AKP Deky Jonathan resmi diberhentikan tidak dengan hormat dari dinas kepolisian. Ia kini mendekam di Rumah Tahanan Bareskrim Polri, Jakarta, menunggu proses persidangan dengan ancaman hukuman berat.
Kasus ini menjadi pelajaran paham bagi institusi Polri: sosok yang memiliki riwayat karier cemerlang, jabatan strategis, dan kepercayaan publik, bisa jatuh ke dalam lembah kejahatan hanya karena digoda kekuasaan dan uang. Jejak karier AKP Deky Jonathan kini tertutup debu hitam, dari seragam kebanggaan menjadi tahanan yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di hukum yang ia seharusnya tegakkan.






