Jakarta, 1 April 2026
Pada hari Jumat, 27 Maret 1964. Gempa Bumi berkekuatan magnitudo 9,2 menguncang Alaska (Great Alaska earthquake) atau juga dikenal Gempa bumi Jumat Agung. Gempa tersebut merupakan gempa bumi terkuat di benua Amerika Utara, sekaligus gempa bumi terkuat kedua di dunia sejak 1900 ( sumber : https://www.usgs.gov/programs/earthquake-hazards/science/20-largest-earthquakes-world-1900#overview ). Kerusakan properti diperkirakan mencapai $116 juta USD ($0,79 miliar dalam dolar tahun 2021).


Alam Memutuskan Untuk Menulis Ulang Sejarah Dengan Cara Yang Paling Brutal
Sore itu di Prince William Sound, Alaska, Jumat Agung tahun 1964 seharusnya menjadi penutup pekan yang tenang. Namun, 27 Maret tepat pukul 17.36, alam memutuskan untuk menulis ulang sejarah dengan cara yang paling brutal, ungkap Dr. Daryono (anggota Pusat Studi Gempa Nasional)( PUSGEN), melalui keterangan tertulis yang diterima redaksi Persuasi-news.com pada hari ini Kamis (1/4/2026).

Selama empat setengah menit—durasi yang terasa abadi bagi siapa pun yang merasakannya—bumi bukan sekadar bergetar; ia mengamuk, tambahnya.

Saat Bumi Terbelah
Dirinya menuturkan,Bayangkan sedang berdiri di tanah yg tiba-tiba seolah berubah menjadi gelombang laut. Dengan kekuatan magnitudo 9,2, ini bukan sekadar gempa bumi, melainkan pergeseran tektonik kolosal yg melepaskan energi ribuan kali lipat lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima.
• Lantai Samudra Terangkat: Di beberapa titik, tanah terdorong naik hingga 15 meter.
• Likuefaksi: Aspal dan fondasi bangunan di Anchorage hancur seolah-olah berdiri di atas puding, menelan mobil dan rumah ke dalam retakan besar.
• Tsunami Mematikan: Bukan hanya guncangan yg membunuh, tapi air. Serangkaian tsunami yang dipicu oleh longsoran bawah laut menyapu desa-desa pesisir dan bahkan mengirimkan gelombang maut hingga ke California dan Hawaii.

Warisan Dari Puing-Puing
Meskipun menelan 131 korban jiwa, angka tersebut tergolong “kecil” untuk skala bencana sebesar itu, terutama karena kepadatan penduduk Alaska yang masih rendah saat itu. Namun, secara sains, kejadian ini adalah titik balik dunia,terangnya.
Para geolog menggunakan data dari bencana ini untuk membuktikan teori Tektonik Lempeng yang saat itu masih diperdebatkan. Alaska 1964 menjadi bukti nyata bahwa kerak bumi benar-benar bisa “menyusup” ke bawah kerak lainnya (subduksi),kata Daryono yang merupakan alumni Akademi Meteorologi dan Geofisika (AMG) tahun 1993.
Dirinya berpesan, Pekan ini, 62 tahun kemudian, peristiwa tersebut tetap menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa di bawah kaki kita yang tenang, ada raksasa yang sewaktu-waktu bisa terbangun dan mengubah wajah peta dunia dalam hitungan menit.






