Jakarta, 2 Juni 2026
Inisiator Tim Wali Kemang sekaligus Aktivis Universitas Pancasila angkatan 1990, Yulianto Widirahardjo, menegaskan bahwa penyampaian ideologi negara Pancasila harus dilakukan secara kontekstual. Artinya, baik metode maupun materi yang disampaikan perlu disesuaikan dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi di era kekinian, agar nilai-nilai luhur tersebut mudah dipahami dan diterima oleh generasi muda.
Menurut Yulianto, cara penyampaian tidak boleh lagi hanya mengandalkan pendekatan doktriner seperti di masa lalu—misalnya melalui penataran atau pembelajaran yang kaku dan melulu teoritis. Di era teknologi informasi dan kemajuan digital yang sangat pesat ini, cara pendekatan harus disesuaikan dengan apa yang disukai dan dipahami oleh generasi muda.
“Ideologi negara Pancasila tidak lagi disampaikan dengan cara-cara doktrinasi seperti di era kita dulu, berupa penataran atau pelajaran yang melulu teoritis. Dalam konteks kekinian, ideologi Pancasila harus sesuai dengan apa yang diinginkan generasi muda di era digital dan teknologi informasi yang semakin canggih seperti sekarang,” ujar Yulianto Widirahardjo kepada wartawan usai acara diskusi memperingati Hari Lahir Pancasila, yang berlangsung di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
Diskusi bertajuk “Pancasila di Era Kekinian 2026” ini digagas dan diinisiasi langsung oleh Yulianto Widirahardjo bersama sejumlah tokoh lintas generasi yang tergabung dalam Gerakan 80, 90 dan Gen Z. Para narasumber yang hadir dan berbagi pandangan dalam diskusi tersebut antara lain dr. Zulkifli Ekomei, Dr. Asvi Marwan Adam, Pande K. Triwahyuni, Prof. Suzie Sudarman, Prof. Ikra Nusa Bakti, Nanda Abraham, Bob Randilawe, serta Lukas Luwarso. Acara ini dihadiri peserta dari berbagai unsur organisasi dan komunitas masyarakat.
Makna Sejarah: Hari Lahir Pancasila
Secara historis, Hari Lahir Pancasila diperingati setiap tanggal 1 Juni. Tanggal ini ditetapkan berdasarkan momen bersejarah ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya di hadapan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. Dalam pidato tersebut, Bung Karno untuk pertama kalinya secara resmi merumuskan dan mengusulkan nama serta isi dasar negara Indonesia, yaitu Pancasila, secara komprehensif, sistematis, dan konstruktif.





