Opini

PERIKSA KESEHATAN PRESIDEN

PERIKSA KESEHATAN PRESIDEN

Oleh : M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik Dan Kebangsaan)

Bandung, 1 Mei 2026

Sebagai Presiden yang memimpin 280 juta rakyat Indonesia tentu Prabowo harus rutin periksa kesehatan baik fisik dan psikis untuk menjaga keamanan dan kelancaran dinamika tugas beratnya. Ketika terlihat ada kejanggalan maka pemeriksaan kesehatan insidental merupakan tuntutan. Presiden tidak boleh sakit berat atau pikun atau terkena gangguan mental lainnya.

Emosi tidak terkendali merupakan ciri dari sebuah gangguan. Fikiran dapat tidak mampu menjaga emosi beserta dampak yang diakibatkannya. Sesungguhnya tiidak perlu pidato meledak-ledak jika efeknya justru perasaan publik yang meledak karena tersinggung, bingung, kaget, atau tidak percaya. Seperti saat publik mengktitisi pemerintahan Jokowi tiba-tiba Prabowo teriak lantang  “HiduupJokowiii..”. Lantang dan menantang.

Beberapa hari ke belakang, tak ada angin tidak ada hujan, pidato Prabowo menyentuh secara simbolik pengusiran “orang pintar” dengan narasi “silahkan kabur” kemana ? “mungkin ke Yaman”. Semua tahu arahnya. Presiden yang menjadi pemenang ternyata tidak bisa “move on” dan tetap merasa sebagai pecundang. Sindiran itu jelas kampungan. Dalam sejarah dan konteks keagamaan, Yaman itu negeri yang penting dan bukan tempat sampah.

Setelah melakukan operasi gelap 1998 dengan menggelapkan TNI, Prabowo dipecat dari tentara dan kabur ke Yordania. Status kewarganegaraan menjadi tidak jelas (stateless). Adalah Megawati yang telah membantu urusan kewarganegaraan gelap Prabowo tersebut.

Sebelumnya, pidato untuk menjamin keamanan Israel dan siap mengakui Israel dalam kerangka “two state solution” menuai kontroversi. Apalagi dengan kebijakan konkrit masuk BoP pimpinan Amerika yang berlanjut ART dan MDCP. Perang Iran melawan AS Israel membuat Prabowo terpuruk. Kesan pro Zionis Israel sulit untuk dihindari.

Rekam jejak sewaktu pidato menegur wanita bercadar sungguh melecehkan. Kebencian yang ditujukkan dengan menyebutnya sebagai intel adalah kebodohan Prabowo dalam aspek keagamaan. Apakah sebagai muslim ia rajin menunaikan shalat ? Ataukah memiliki moral keagamaan yang dikategorikan munafik ?

Kasus ultah Seskab Teddy yang dirayakan romantis Prabowo di Four Season Hotel George V Paris mempertanyakan serius akan kesehatan moral Prabowo. Publik membaca kedekatan Prabowo dan Teddy sudah pada tahap bahaya. Ini urusan seorang Presiden bukan orang yang “bertampang Boyolali” sebagaimana dahulu ia pernah menyakiti warga Boyolali.

Sapaan kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit yang dikomentari candaan “makin kurus kau ya, kenapa makin kurus, stress”. Entah kaget entah tidak Listyo. Ada masalah desakan kuat untuk ganti Kapolri, reformasi Polri yang menggantung, kasus otak atik ijazah palsu, multi fungsi Polri. Sebutan Parcok belum hilang terkait kiprah politik aparat penegak hukum. Prabowo pun ikut terjebak dalam keruwetan, stress ?

Bukan hal mengada-ada jika kesehatan Prabowo harus diperiksa. Ada berbagai keanehan dalam bersikap yang tentunya mengundang tanda tanya besar. Presiden itu harus ajeg dan fit baik fisik maupun psikis.
Bila sudah tidak memenuhi syarat lagi, Presiden dan atau Wakil Presiden menurut Konstitusi dapat dimakzulkan. Itu saja.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button