STANDAR GANDA: GEMURUH LAWAN AMIEN RAIS, TAPI BUNGKAM SAAT ANAK PRABOWO DIHINA
Jakarta ,3 Mei 2026
Ironi Hukum & Politik, Membela Orang Lain Sepenuh Hati, Membiarkan Darah Daging Terinjak.
Dunia politik dan hukum kembali dihadapkan pada paradoks yang sangat mencolok. Terjadi perbedaan perlakuan yang tidak masuk akal, di mana ikatan keluarga dan hubungan darah ternyata tidak menjadi prioritas dibandingkan kepentingan sesaat.
- Kasus Teddy: Bukan Keluarga, Bukan Darah Daging, Tapi Hukum Digerakkan
Saat Amien Rais melontarkan kritik pedas terhadap Teddy, yang faktanya tidak memiliki hubungan keluarga maupun ikatan darah sedikitpun dengan Prabowo, reaksi pendukung dan relawan luar biasa besar.
- đĽ Kemarahan meledak bak api berkobar.
- âď¸ Laporan polisi langsung dilayangkan dengan sigap.
- đ˘ Dibela mati-matian seolah itu adalah harga mati.
Di sini terlihat jelas, ketika posisi politik atau orang kepercayaan tersentil, hukum dan emosi digerakkan sekuat tenaga tanpa ragu sedikitpun.
- Kasus Didit: Hubungan Keluarga & Darah Daging Dihina, Hukum Diam Seribu Bahasa
Sungguh ironi yang menyakitkan. Berbeda jauh nasibnya ketika akun Fufufafa di Kaskus menghina Mas Didit, anak kandung yang jelas-jelas memiliki ikatan darah daging dan hubungan keluarga langsung dengan Prabowo.
Ujaran kebencian yang dilontarkan bahkan memiliki bobot kesamaan atau jauh lebih kasar dibanding ucapan Amien Rais. Namun faktanya:
- â Relawan dan pendukung justru diam membisu.
- â Tidak ada laporan hukum yang digaungkan.
- â Tidak ada gerakan menuntut keadilan.
Padahal secara norma hukum, adat, dan kemanusiaan, menghina darah daging sendiri seharusnya jauh lebih menyakitkan dan pantas dibela dengan lebih ganas lagi.
Analisis Politik & Hukum: Hukum Hanya Alat Politik?
Situasi ini memunculkan pertanyaan besar yang memojokkan:
- Hukum yang Selektif: Hukum seolah hanya berjalan ketika ada kepentingan politik atau kelompok. Namun ketika yang diserang adalah hubungan keluarga sendiri, hukum tiba-tiba menjadi bisu dan lumpuh.
- Loyalitas yang Palsu: Membela orang luar (non-keluarga) dengan sangat ganas, tapi membiarkan darah daging diinjak-injak. Ini membuktikan bahwa kemarahan dan laporan sebelumnya bukan karena prinsip keadilan, tapi lebih karena kepentingan sesaat atau pencitraan semata.
- Preseden Buruk: Jika ikatan keluarga dan darah daging saja tidak mampu membangkitkan semangat perlawanan yang sama, maka jelas penegakan hukum di negeri ini hanya menjadi alat untuk menyerang lawan, dan diam membisu saat kawan atau keluarga sendiri yang butuh pertolongan.
Kesimpulan
Dimana letak keadilan dan kesetiaan?
Jika ucapan kepada orang non-keluarga dianggap pidana dan harus dilaporkan, maka penghinaan terhadap darah daging dan hubungan keluarga harusnya diperlakukan jauh lebih keras.
Ketidakmampuan untuk bertindak sama tegasnya membela anak kandung justru membongkar topeng bahwa di balik gemuruh laporan polisi itu, terselip kepentingan politik semata, bukan semata-mata mencari kebenaran atau membela kehormatan.




